Setelah pertemuan dengan klien selesai, Arjuna kembali ke kantornya. Ia duduk di ruang kerjanya dengan pandangan kosong menatap layar laptop yang belum sempat dibuka. Tangannya menopang kepala, sementara pikirannya melayang jauh... bukan pada pekerjaan, bukan pula pada proyek besar di Bali—melainkan pada seorang gadis buta yang kini berada di apartemennya. Kinanti. "Mas, kenapa kelihatan kacau?" tanya Bima, asistennya, sambil menyodorkan segelas kopi. Arjuna menghela napas panjang. "Gimana nggak pusing, Bim... Dia sendirian, nggak punya siapa-siapa, dan aku nggak mungkin biarin dia terus tinggal di apartemen. Tapi... aku juga nggak bisa tega ninggalin dia." Bima menatap Arjuna sejenak, lalu berkata pelan, “Kalau memang Mas Arjuna ingin jaga dia... kenapa nggak nikahin aja?” Arjuna ters

