Bab 22

1549 Words

Langit Bandung perlahan berubah jingga. Senja turun dengan sunyi, menyorot lembut melalui jendela besar kamar utama, menyinari dua tubuh yang berpelukan erat di atas ranjang putih bersih. Safiyah dan Arka terbaring berdampingan. Keduanya saling memeluk, seperti mencoba menghapus waktu lima tahun yang terbuang sia-sia karena luka dan kesalahpahaman. Napas mereka tenang. Hati mereka damai. Arka perlahan membuka matanya. Cahaya senja menyapu lembut wajahnya. Ia menoleh ke samping. Safiyah masih tertidur. Rambut panjangnya terurai di bantal, wajahnya tenang, dan lengannya masih melingkar di d**a Arka. Arka tersenyum. Bibirnya mendekat, membisikkan pelan di antara napas hangatnya: “Aku mencintaimu… sejak dulu, sampai sekarang… dan lima tahun bukan alasan untuk berhenti merindukanmu,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD