Bab 9

1383 Words
Di serambi masjid besar Pondok Pesantren Al-Hikmah, Arka duduk dengan khusyuk. Ceramah dari Ustaz Musa, kakak Aisyah Hanum, begitu menyentuh kalbu. Tentang cinta sejati, tentang keberkahan rumah tangga, tentang rida Allah atas suami yang adil dan istri yang sabar. Arka menggenggam tangannya erat. > “Aku ingin menjadi suami yang baik… untuk istri yang kucintai. Fiya… tunggulah aku.” Sementara itu di kediaman Umi Hamidah, suasana lebih sunyi dan hangat. Sofie—nama yang kini disandang oleh Safiyah—keluar dari kamar belakang mengenakan gamis abu-abu dan khimar lebar. Ia menjawab panggilan lembut Umi. "Iya, Umi?" "Yusuf tidur, Nak? Tolong tidurkan dia ya, Umi sedang menyiapkan tempat makan malam untuk tamu dari Jakarta." "Baik, Umi." Safiyah menggendong Yusuf yang terlelap dalam pelukannya menuju kamar mungil di sisi belakang rumah Kyai Hasyim. Kamar itu sederhana, tapi bersih dan wangi. Tempat yang menjadi saksi air mata rindu yang tak pernah berhenti mengalir. Yusuf diletakkan perlahan di atas kasur kecil. Dalam tidurnya, ia merintih... > “Abi… Abi…” Tangan Safiyah terhenti. Dadanya sesak. > “Yusuf… kamu pun merindukannya, ya?” Air mata jatuh satu-satu membasahi pipi. "Eh, Mbak Naning..." Safiyah cepat menghapus air matanya saat melihat Naning, pengajar senior sekaligus teman dekatnya masuk ke kamar kecil itu. Naning duduk di tepi ranjang dan menatap Yusuf. "Kamu masih teringat suami kamu, ya?" Safiyah menggeleng cepat, "Nggak, Mbak. Saya cuma capek sedikit." Naning tidak menanggapi, hanya menatap dalam. Sudah setahun ia menyaksikan luka batin Sofie tanpa suara. "Acara Maulid sudah selesai. Tamu-tamu dari Bandung, termasuk sahabat Dokter Yuda, akan makan malam di rumah Umi. Kamu siapkan semuanya ya, Fiyah." "Baik, Mbak. Saya titip Yusuf ya, tolong jagain dulu." "Iya, tenang saja. Biar Yusuf tidur di sini. Tapi jangan lama-lama kamu ngelamun lagi, ya..." Naning menepuk bahu Safiyah pelan. Safiyah berdiri. Menatap wajah Yusuf untuk terakhir kalinya malam itu. "Maafkan Mama, Nak... Suatu hari kamu akan tahu siapa ayahmu. Tapi tidak malam ini..." Dengan langkah pelan, Safiyah berjalan menuju dapur utama. Suasana meja makan keluarga Kyai Hasyim sempat penuh tawa hangat dan santai. Ustaz Musa bercerita ringan, Aisyah sesekali menyuapi Fathir, Kyai Hasyim menyelipkan nasihat lembut yang disambut anggukan bijak dari Umi Hamidah. Arka duduk agak terpaku, pikirannya tidak sepenuhnya ada di ruangan itu. "Silakan dicoba, Nak Arka," ucap Kyai Hasyim ramah. "Iya, Kyai... Tapi boleh saya ke toilet dulu?" "Tentu, Nak. Lewat koridor samping." Arka berjalan menyusuri koridor rumah pondok, baru saja keluar dari kamar mandi, saat matanya tertumbuk pada pemandangan tak terduga. Seorang gadis… sedang duduk menyisir sayuran dan bumbu dapur. Punggungnya anggun dalam balutan gamis. Gerakan tangannya lembut dan tenang. "Maaf, Mbak... boleh saya minta air teh hangat?" suara Arka terdengar pelan. Gadis itu berhenti. Tangannya terdiam sesaat. Lalu berdiri dan mengambil teko dari rak. Saat ia menoleh… > CLOSHH! > Cangkir teh hangat di tangannya terjatuh. Arka membelalak. "Safiyah…?" Suaranya serak, tergetar. Matanya berkaca-kaca. Safiyah membeku. Sejenak mereka saling menatap. Detik terasa sangat panjang. > Kemudian—Safiyah lari. Langkah cepatnya melewati lorong menuju rumah kecil di belakang pondok. Arka spontan mengejar, menerobos pintu utama, mengejar ke arah rumah sederhana itu. “FIYA! TUNGGU! FIYA!” Safiyah masuk, menutup pintu dengan cepat dan menguncinya, lalu berlari ke kamar Yusuf dan memeluk anak itu. Di ruang tengah rumah kecil itu, Naning yang sedang melipat pakaian terkejut melihat Arka di depan pintu, mengetuk kuat-kuat. "Safiyah… tolong buka pintunya... Ini aku, Arka!" Arka menggedor perlahan, namun penuh emosi. "Kamu... kenapa kamu kabur waktu itu?! Kenapa gak bilang kamu di sini?! TmYa Allah, aku nyari kamu kemana-mana, Fiya... ke Bali, ke Lombok... Bahkan ke kampungmu!" Suara gelas pecah di dapur memecah keheningan rumah. Umi Hamidah segera bergegas, namun langkahnya terhenti. Dapur kosong. "Sofie ke mana?" gumamnya, heran. Tak lama kemudian, terdengar ketukan bertubi-tubi dari pintu belakang rumah. Suaranya familiar. Dokter Yuda menghampiri mertuanya. "Itu seperti suara Arka, Umi," ucap Yuda, alisnya bertaut. Umi Hamidah, Yuda, dan Aisyah —putri Umi Hamidah— bergegas menuju pintu belakang. Saat pintu terbuka, mereka mendapati Arka berdiri di sana, wajahnya basah oleh air mata, napasnya terengah-engah. "Arka, kenapa? Ada apa?" tanya Dokter Yuda, cemas melihat keadaan sahabat nya. Arka mendongak, matanya yang sembab menatap bergantian pada Umi Hamidah dan Yuda. "Umi... Yuda... saya menemukan istri saya, Safiyah," ucap Arka, suaranya parau. Umi Hamidah terkesiap, dadanya berdesir kencang. "Kaget? Sofie adalah Safiyah?" tanyanya, tak percaya. Arka mengangguk, air mata kembali menetes. "Iya, Umi." Umi Hamidah menghela napas panjang. "Biar Umi yang bicara, Nak. Kamu kembalilah ke meja makan." Yuda menepuk bahu Arka, seolah memberikan kekuatan. "Berikan kesempatan kepada Umi untuk bicara kepada Sofie, maksudnya Safiyah," kata Dokter Yuda. Arka mengangguk samar, lalu berbalik, kembali ke meja makan bersama Yuda. Setelah Arka dan Yuda pergi, Umi Hamidah perlahan mengetuk pintu rumah kecil yang selama ini dihuni Sofie. Tak lama kemudian, Naning membuka pintu, raut wajahnya terlihat bingung. Umi Hamidah masuk dan mendapati Safiyah duduk diam di ruang tamu sederhana itu. Umi Hamidah duduk di samping Safiyah, menatapnya dengan tatapan lembut namun sarat makna. "Jadi benar nama kamu Safiyah, Nak?" tanya Umi Hamidah. Safiyah mengangguk pelan, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa kamu berbohong?" tanya Umi Hamidah, suaranya tak menghakimi. "Maafkan saya, Umi. Saya hanya ingin mengubur masa lalu saya," bisik Safiyah, menunduk. Umi Hamidah menghela napas. "Safiyah, kamu sudah Umi anggap anak Umi sendiri. Awal datang kamu di masjid saat Umi kajian, Umi merasakan kepedihanmu, Nak. Sampai Umi membawa kamu ke sini dan kamu mengabdi di pesantren Umi." Umi Hamidah membelai rambut Safiyah dengan lembut. "Ceritakan apa yang kamu belum cerita ke Umi, Nak." Dengan suara terputus-putus, Safiyah mulai menceritakan segalanya: bagaimana ia bertemu Arka, insiden malam itu, pernikahan siri yang terpaksa, dan bagaimana Arka kemudian menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. "Saya tidak ingin menjadi simpanan Arka atau pelampiasan Arka saja, Umi," isak Safiyah. Umi Hamidah menghela napas panjang. "Sekarang kamu selesaikan masa lalu yang belum selesai, Nak. Bicaralah sama Arka," pinta Umi Hamidah. "Jangan lari dari masalah, Nak. Kalau kamu mau bercerai, bicarakan baik-baik, jangan menggantung statusmu, Nak. Kamu masih muda." Nasihat itu meluncur tulus, penuh kasih sayang seorang ibu. Safiyah mengangguk pelan, rasa haru menyelimuti hatinya. Umi Hamidah kemudian menggandeng tangan Safiyah, membawanya masuk ke rumah besar itu. Di ruang tamu, Arka telah menunggu. Umi Hamidah menuntun Safiyah mendekat, lalu dengan isyarat mata, ia meninggalkan Arka dan Safiyah berdua. Arka menatap Safiyah. Wanita yang selama ini dicarinya bagaikan orang gila. Di depannya, Safiyah berdiri, rapuh namun tegar. Banyak yang harus mereka bicarakan. Banyak yang harus mereka selesaikan. Ruang tamu itu terasa sunyi, hanya diisi oleh detak jantung Arka dan Safiyah yang saling berpacu. Arka mendekati Safiyah, sorot matanya penuh penyesalan dan kerinduan yang mendalam. Ia meraih tangan Safiyah yang dingin, menggenggamnya erat. "Safiyah, dengarkan Mas Arka," ucap Arka, suaranya bergetar menahan emosi. "Mas Arka selama ini mencari kamu, dari kampungmu di Bandung Barat, seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, bahkan Lombok, Nusa Tenggara Timur. Mas mencarimu, Fiyah, seperti orang gila." Safiyah menundukkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Arka yang begitu memohon. "Safiyah, maafkan Mas Arka. Mas Arka mau kita mulai dari awal, kita hidup bersama, kita menikah disaksikan dunia, tanpa harus ada yang dirahasiakan," ucap Arka, suaranya berubah penuh harapan. Safiyah mengangkat kepalanya, menatap Arka dengan tatapan tak percaya. "Bagaimana dengan istri Mas Arka pilihan orang tua Mas Arka?" tanyanya, ada keraguan yang terselip dalam suaranya. Arka menghela napas, kemudian menatap Safiyah lekat-lekat. "Sayang, Mas Arka tidak pernah menikah selain sama kamu. Raisa, wanita yang dijodohkan orang tua Mas, telah mengkhianati Mas Arka tiga hari sebelum pernikahan dengan mantannya di Australia." Mata Safiyah membelalak. Ada secercah harapan yang tiba-tiba menyala di hatinya. "Apa kamu tidak bohong, Mas?" tanyanya, memastikan. Arka menggeleng kuat, menarik Safiyah mendekat. "Nggak, sayang. Mas berkata jujur. Mas tinggalkan semua di Bandung, harta, jabatan, warisan... semuanya demi kamu, Safiyah." Sebuah senyum tipis terukir di bibir Safiyah, senyum yang tak pernah Arka lihat sebelumnya. "Apa benar Mas Arka mencintai Safiyah sedalam itu?" tanyanya lagi, ingin diyakinkan. Arka mengusap lembut punggung tangan Safiyah. "Iya, sayang. Mas Arka sangat mencintaimu. Buat apa Mas mencarimu ke seluruh kota di Indonesia kalau Mas nggak mencintaimu?" Arka menatap Safiyah, dan Safiyah pun membalas tatapan itu. Di mata Arka, Safiyah melihat ketulusan yang selama ini ia ragukan. Kebenaran yang pahit tentang Raisa justru membuka jalan bagi mereka untuk memulai kembali, tanpa rahasia, tanpa beban masa lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD