Bab 8

1782 Words
Keesokan paginya, setelah malam penuh kegelisahan dan amarah, dokter Arka menyalakan mobilnya dan memacu kendaraan menuju sebuah desa di Bandung Barat — kampung halaman Safiyah Mahira. Langit masih mendung. Jalanan mulai berganti dari aspal halus menjadi jalan berbatu. Rumah-rumah sederhana berdiri berjajar, beberapa dengan tembok belum diplester, sisanya hanya papan kayu. Arka memarkirkan mobil di depan sebuah warung kecil dan bertanya pada warga sekitar. "Maaf, saya mencari keluarga Safiyah Mahira…" Seorang lelaki paruh baya yang sedang menyeruput kopi menoleh. "Safiyah? Yang dulunya tinggal sama Pak Romli?" Arka mengangguk. Lelaki itu menunjuk ke arah rumah tua di ujung jalan, "Itu rumahnya. Tapi sekarang udah kosong. Dia kabur ke kota udah lama, katanya karena mau dilecehkan sama sepupunya sendiri." Arka tertegun. Nafasnya tercekat. Tak lama kemudian, seorang gadis muda menghampiri. Dia adalah Safana, teman Safiyah waktu SMA. "Mas… kamu siapa?" "Saya suaminya. Suami dari Safiyah Mahira." Gadis itu terkejut. Matanya membulat. "Mas... kamu tahu nggak, Safiyah itu hidupnya seperti nggak punya masa depan dulu." Suara Safana mulai lirih, matanya basah. "Sejak orang tuanya meninggal, semua harta yang ditinggalkan dijualin sama bibinya sendiri. Rumah dijual. Motor dijual. Sawah dijual. Sementara Fiya... dia tidur di gudang, makan pun kalau ada sisa." Arka menunduk. Hatinya serasa dihantam ribuan duri. "Fiya diperlakukan kayak pembantu. Semua pekerjaan rumah dia yang kerjain. Sementara bibi dan sepupu-sepupunya hidup enak." Safana melanjutkan, "Waktu lulus SMA, dia dapet nilai terbaik. Tapi… nggak dikasih lanjut kuliah. Malah hampir dilecehkan oleh Adam, sepupunya sendiri. Malam itu dia lari. Tanpa baju ganti, tanpa uang. Dia cuma bilang: 'Aku mau pergi nyari hidup yang lebih manusiawi.'" Air mata Arka tak terbendung. "Dan aku… malah menambah luka dalam hidupnya," bisik Arka. Ia duduk di atas batu di pinggir jalan, wajahnya pucat, matanya merah. "Aku harus cari dia. Aku harus tebus semuanya. Aku nggak peduli berapa jauh dia pergi. Aku nggak peduli kalau harus keliling Indonesia." Safana menatap Arka dalam-dalam. "Kalau kamu benar-benar mencintai Safiyah, kamu akan temukan dia, Mas. Tapi kali ini… bukan buat menahannya secara diam-diam. Bukan buat disembunyikan lagi. Tapi buat dibanggakan." Arka mengangguk. Matanya penuh tekad. > "Tunggu aku, Fiya. Aku akan temukan kamu. Dan kali ini… aku akan berdiri di depan semua orang. Menggenggam tanganmu. Menyebutmu istriku. Tanpa perjanjian. Tanpa rahasia." Satu bulan telah berlalu sejak Arka terakhir kali menginjakkan kaki di desa tempat Safiyah dibesarkan. Sejak hari itu, hidupnya tak lagi sama. Ia menjadi bayangan dirinya yang dulu: Dokter Arka, pria tenang dan perfeksionis, kini hanyalah sosok yang duduk diam di balkon rumah, menatap kosong langit malam tanpa arah. Rumah Keluarga Arka – Bandung “Kamu itu kenapa sih, Arka?” bentak sang ibu, Bu Karina, saat melihat anaknya tidak lagi berangkat kerja. Pak Alvino, ayah Arka, menambahkan, “Sudah satu bulan kamu luntang-lantung, kerjaan kamu tinggalkan, rumah sakit kamu abaikan! Hanya karena seorang perempuan?” Arka mengangkat wajahnya yang kusam, mata cekung karena kurang tidur. "Safiyah bukan sekadar perempuan. Dia adalah istriku. Satu-satunya perempuan yang membuat aku ingin hidup. Dan kalian... kalian memperlakukannya seperti sampah hanya karena statusnya.” Bu Karina bangkit dengan geram. "Kami ingin kamu menikah dengan orang yang sederajat, yang pantas berdiri di sisi pewaris rumah sakit kami!" Arka berdiri. Suaranya tegas. Penuh luka. "Kalau begitu, biarkan rumah sakit itu tanpa pewaris. Karena aku... memutuskan pergi." Pak Alvino tercengang. "Apa maksudmu?" Arka menatap keduanya. Dalam. Pasti. "Mulai hari ini, aku melepaskan semua. Jabatan dokter. Pewarisan rumah sakit. Nama besar keluarga. Kalian simpan semuanya. Aku tidak butuh. Yang aku butuh cuma satu... menemukan Safiyah." Keesokan harinya… Tanpa banyak bicara, Arka mengemas ransel sederhana. Ia meninggalkan jas dokternya. Jas CEO-nya. Bahkan mobilnya ia titipkan pada Damar. Ia memilih hidup sebagai pengelana. Membawa selembar foto Safiyah. Menyusuri stasiun demi stasiun. Terminal demi terminal. Masjid demi masjid. Mencari jejak. > “Aku rela kehilangan segalanya. Tapi aku tidak rela kehilangan kamu, Fiya.” Suatu malam, di terminal Madiun, Arka tidur di bangku kayu. Tangannya menggenggam potret Safiyah yang mulai kusut karena terlalu sering dilihat. Di saku bajunya ada secarik kertas catatan nama-nama kota yang telah ia datangi. Purwokerto. Cilacap. Yogyakarta. Solo. Sragen. Kediri. Lumajang. Banyuwangi… Tangannya melingkari kota terakhir: Banyuwangi. > “Jika takdir masih berpihak, maka aku akan menemukannya di sana. Di ujung timur Pulau Jawa. Di tempat matahari pertama kali menyapa negeri ini. Mungkin… aku akan bertemu kembali dengan mentariku yang hilang.” Siang itu, matahari menyengat keras di Banyuwangi. Dokter Arka duduk di pojok sebuah kafe sederhana—berbaju lusuh, wajah tirus, rambut mulai tak terurus. Di tangannya hanya ada dua hal: secangkir kopi yang nyaris dingin, dan foto Safiyah yang kini mulai pudar warnanya. Dompetnya menipis, hanya cukup untuk bertahan beberapa hari lagi. Semua uang, warisan, dan kemewahan telah ia tinggalkan di Bandung. > “Fiya… kamu di mana?” Arka menatap kosong ke jalanan di luar jendela kafe. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. "Arka?" Arka menoleh perlahan. Matanya membelalak. Sosok tinggi, berjaket dokter, bersih, dan gagah itu berdiri di hadapannya dengan senyum bingung. "Ini aku, Yuda. Yuda Akimoto. Kita satu kampus di Tokyo Medical University, ingat?" Arka berdiri, memeluk Yuda dengan pelukan erat—pelukan orang yang sedang kehilangan arah, namun akhirnya menemukan pijakan. "Ya Allah... Yuda. Aku… nggak percaya bisa ketemu kamu di sini." Yuda tertawa kecil, menepuk bahu Arka. "Kamu ngapain kayak gembel di sini? Padahal kamu pewaris rumah sakit terkenal di Bandung, kan?" Arka tertunduk. Senyumnya pahit. "Aku kehilangan semuanya, Yud. Tapi bukan karena dirampok. Aku yang menyerahkannya. Karena aku sedang mencari istri yang aku sakiti dan kehilangan." Mereka duduk berdua di sudut kafe yang mulai sepi, hanya ada bunyi sendok dan denting gelas dari dapur kecil di belakang. Yuda mengernyit setelah mendengar cerita panjang lebar dari Arka. Wajahnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Kapan kamu menikah, Ka?" "Enam bulan lalu." Suara Arka serak, lelah, tapi jujur. Yuda menghela napas. "Dan kamu menyembunyikan istrimu karena statusnya sebagai cleaning service?" Arka menatap cangkir kopinya kosong. "Itu bukan karena aku malu… awalnya. Tapi aku takut. Keluargaku terlalu keras. Aku terlalu pengecut. Dan aku… menghancurkan dia." Yuda memejamkan mata sejenak, menahan emosi simpati yang begitu dalam. "Kamu tahu nggak, Ka… kamu mungkin kehilangan dia sementara. Tapi kamu masih punya kesempatan buat menebus semua itu. Dan kesempatan itu… bisa dimulai dari bertahan di sini." Arka menoleh, bingung. "Maksud kamu?" Yuda tersenyum. "Aku baru ambil alih manajemen Rumah Sakit Bahari Sehat, rumah sakit swasta yang berkembang pesat di Banyuwangi. Tapi kami kekurangan tenaga spesialis jantung. Dan kamu… adalah yang terbaik yang aku kenal sejak kuliah di Jepang." Arka terpana. "Kamu mau… aku kerja di rumah sakit kamu?" Yuda mengangguk tegas. "Dengan satu syarat. Jangan kamu sembunyikan identitasmu lagi, Ka. Ini bukan tentang kamu dan keluargamu. Ini tentang kamu dan masa depan kamu—bersama perempuan yang kamu cintai." Arka diam sesaat. Tapi kemudian, ia mengangguk. "Aku akan terima. Aku nggak bisa hidup ngambang terus kayak gini. Aku harus menata ulang semuanya. Untuk Safiyah… dan juga diriku sendiri." Beberapa hari kemudian… Arka resmi bergabung di Rumah Sakit Bahari Sehat sebagai dokter spesialis jantung. Ia mulai dikenal sebagai dr. Arka Alvino, Sp.JP, dokter baru yang ramah tapi penuh wibawa. Tak ada yang tahu masa lalunya yang kelam di Bandung. Satu tahun kemudian... Arka kini hidup sebagai dokter spesialis jantung yang cukup ternama di Banyuwangi. Meski begitu, setiap kali hari libur tiba, ia tetap menjadi pelancong sunyi—mencari jejak sang istri yang hilang tanpa jejak. Ke Bali, ke Lombok, ke Nusa Tenggara Barat—semua ia tempuh dengan harapan hampa. Tapi Safiyah Mahira, wanita sederhana yang telah mencuri seluruh hidupnya, tetap seperti bayangan yang menjauh. Malam itu, langit Banyuwangi bersih. Suasana pesantren Al-Hikmah yang berdiri megah di kaki bukit mulai ramai oleh jamaah yang datang untuk acara Maulid Nabi. "Ka, ikut aku malam ini ya, ada acara Maulid di pesantren Abah," kata Yuda siang tadi sambil menepuk bahunya. "Acaranya besar. Sekalian dengerin tausyiah dari Ustaz Musa, kakaknya Aisyah. Orangnya keren banget. Bikin adem," tambahnya. Pukul 7 malam. Arka mengenakan baju koko putih bersih, celana hitam bahan, dan peci hitam yang dipinjam dari Yuda. Mereka melangkah melewati gerbang besar bertuliskan “Pondok Pesantren Al-Hikmah – Kyai Hasyim & Nyai Hamidah”. Suasana di dalam pesantren begitu hidup: Lampu gantung berkelap-kelip, suara salawat menggema, dan aroma kembang bercampur kayu manis semerbak. Aisyah Hanum sudah berada di pelataran pesantren. Saat melihat suaminya datang, Aisyah tersenyum dan berlari kecil lalu memeluk Yuda penuh hormat dan sayang. "Mas Yuda sudah datang... Alhamdulillah," bisiknya pelan sambil mencium punggung tangan suaminya. Yuda membalas dengan senyum teduh dan belaian lembut di kepala istrinya. Fathir, bocah kecil dua tahun, lari ke arah ayahnya sambil tertawa riang. Arka berdiri di samping, menyaksikan semua itu. > Sebuah keluarga kecil... penuh iman, penuh cinta, dan penuh kehangatan. Bukan hanya indah, tapi juga menampar ruang kosong di dalam hatinya. Ia tersenyum kecil, menunduk. “Fiya, andai kau ada di sini. Duduk di sampingku. Menatap bulan Maulid yang sama.” Di kediaman Kyai Hasyim dan Nyai Hamidah, suasana menjelang Maulid begitu hangat. Wajah-wajah santri dan keluarga besar pesantren berseri menyambut malam mulia itu. Dokter Yuda menyalami mertuanya dengan penuh takzim. "Assalamu’alaikum, Abah... Umi..." "Wa’alaikumussalam, Yuda...," jawab Kyai Hasyim lembut, mempersilakan masuk ke ruang tamu khusus keluarga. "Umi, kenalin ini sahabatku, Arka. Sekarang kerja di RS kita." Umi Hamidah menoleh dan tersenyum, sembari memangku seorang anak laki-laki mungil, berusia sekitar satu tahun. “Umi, siapa nama anak ini?” tanya Arka sambil tersenyum hangat. Umi Hamidah mengelus kepala bocah itu. "Namanya Yusuf, Nak... Dia anak nya santri yang sering bantu-bantu di rumah Abah dan Umi." Dokter Yuda menambahkan, "Anak ini sayang banget sama semua orang, terutama umi. Tapi gak semua orang bisa deketin dia lho." Arka berjongkok di depan Umi Hamidah, menatap wajah Yusuf. "Hai, Nak... Mau ikut Om?" Dengan mengejutkan, Yusuf mengangkat tangannya ke arah Arka, minta gendong. Umi Hamidah terkekeh kecil. "Wah, Ka... Luar biasa. Anak ini biasanya pilih-pilih banget." Arka tertawa dan mengangkat Yusuf ke pelukannya. Anak itu langsung memeluk leher Arka erat, wajahnya menempel di d**a Arka. Yuda mengamati dari samping, kemudian bergumam lirih. "Ka... entah kenapa, wajah kalian mirip, ya." Arka sempat terdiam. Ia menatap Yusuf, memperhatikan mata bulat dan alis tegas si bocah. Ada sesuatu di hati Arka yang mendadak bergetar. Bukan hanya mirip, tapi ada sesuatu yang… terasa dekat. Lalu, suara lembut Yusuf keluar lirih. > "Abi..." Semua orang terdiam sejenak. Umi Hamidah memandang Arka, dan tersenyum menenangkan. "Mungkin karena kamu mirip dengan seseorang, Nak. Yusuf belum bisa bicara jelas, kadang panggil siapa aja 'Abi'." Tapi bagi Arka, suara itu bukan suara sembarangan. Itu bukan panggilan umum. > Itu… suara yang datang dari ruang rindu yang paling dalam. Dari darah daging yang mungkin… belum sempat dikenalnya. Arka mencium kening Yusuf dan memeluknya lebih erat. Matanya mulai berkaca-kaca. Acara Maulid dimulai. Arka dengan berat hati menyerahkan Yusuf kembali ke pangkuan Umi Hamidah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD