Bab 7

1691 Words
Ruang keluarga masih sunyi ketika Pak Alvino, ayah Arka, akhirnya bicara. Dengan suara berat dan tatapan tajam ke seluruh ruangan, ia berkata: "Saya, atas nama keluarga besar kami, menyatakan pernikahan antara Arka dan Raisa—dibatalkan." Semua mata terarah padanya. "Tersisa tiga hari bukan alasan untuk tetap memaksakan kehendak. Bukan hanya nama baik yang penting... tapi ketulusan dan kepercayaan. Dan itu sudah hancur." Raisa menunduk, menggigit bibirnya menahan tangis. Bu Kamila, ibunya, memeluk Raisa singkat sebelum berbisik, "Kamu anak baik, Raisa… tapi kamu terlalu terlambat menjadi jujur." Ayah Raisa, Pak Dani Haryanto, menunduk dalam. “Kami… menerima keputusan ini. Ananda Raisa memang telah khilaf. Kami mohon maaf sebesar-besarnya.” Tak ada lagi kata yang bisa menahan perpisahan yang sudah retak dari dalam. Keluarga Raisa pun pamit, pulang dengan wajah lesu dan hati penuh beban. Di rumah keluarga Raisa… Raisa menangis di kamarnya. Ibunya berusaha menenangkan, namun tak bisa berbuat banyak. Sementara itu, di ruang kerja yang tertutup rapat, Pak Deni Haryanto duduk dengan wajah keras dan penuh pertimbangan. Ia menekan ponselnya. "Datang ke rumah. Malam ini. Saya perlu bicara." Pesan itu dikirim… kepada: Leonardo. Beberapa jam kemudian, Leonardo datang. Mengenakan kemeja dan celana hitam. Wajahnya tenang, bahkan percaya diri. “Pak Deni…” Pak Deni menatapnya tajam dari balik meja kerja. "Leonardo, saya sudah tahu semuanya. Kamu tinggal dengan Raisa saat di Australia, kalian punya hubungan yang terlalu dalam untuk sekadar teman. Dan kamu menjebaknya semalam. Kamu membuat nama keluarga saya tercoreng." Leonardo sedikit gelisah, namun tetap menjaga sikap. “Saya hanya ingin Raisa kembali, Pak. Saya... menyesal melakukan cara itu. Tapi saya ingin bertanggung jawab.” Pak Deni menatap lurus. “Kalau kamu memang ingin bertanggung jawab… maka kamu akan menggantikan Arka di pelaminan.” Leonardo terkejut. “Maksud Bapak?” "Tiga hari lagi, undangan sudah disebar. Nama keluarga kami tidak boleh hancur. Kamu yang akan menikahi Raisa. Di hadapan publik, kamu tunangan Raisa sejak lama yang pulang dari luar negeri." "Tapi Pak—" "Kamu mau menebus kesalahanmu atau tidak, Leo?" Hening. Beberapa detik kemudian Leonardo mengangguk pelan. "Saya akan menikahi Raisa." Di kamar atas, Raisa tertegun saat ibunya masuk dan menyampaikan keputusan ayahnya. “Leonardo akan menggantikan Arka di pelaminan.” “APA?!” Raisa berdiri kaget. “Mama… aku tidak mau! Aku sudah tidak cinta lagi pada Leonardo!” Ibunya menatapnya sedih. “Tapi kamu juga sudah tidak punya pilihan, Nak…” Pagi itu, hujan rintik-rintik membasahi kaca jendela ruang kerja dokter Arka di rumah orang tuanya di Bandung. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar detik jam dinding dan suara hujan yang sesekali memukul jendela dengan pelan. Arka duduk di kursi kulit cokelat tua, kedua tangannya saling menggenggam, matanya kosong menatap meja kerjanya yang tertata rapi. Dalam hatinya berkecamuk. > "Bagaimana kalau aku menikahi Safiyah?" "Apa Ayah dan Ibu bisa menerima kenyataan bahwa menantunya adalah mantan cleaning service?" "Seorang gadis yatim piatu, sederhana, dan tak punya gelar?" Ia menghela napas panjang. Berulang kali. Di tengah lamunannya, terdengar ketukan pelan di pintu. Tok... tok... tok... Arka bangkit, membuka pintu. "Ayah?" ucapnya pelan. Pak Alvino, ayahnya, berdiri dengan raut wajah letih. Matanya sayu, tubuhnya masih mengenakan batik lengan panjang. "Boleh masuk?" "Tentu, Yah…" Arka mempersilakan. Pak Alvino duduk di sofa ruang kerja itu. Beberapa detik mereka hanya diam. Akhirnya, sang ayah membuka suara, suaranya berat namun tulus. "Arka… Ayah ingin minta maaf." Arka menoleh cepat. "Maaf? Untuk apa, Yah?" "Karena Ayah terlalu memaksakan kehendak." "Ayah pikir Raisa sempurna. Cantik, dokter, anak dari keluarga baik-baik…" Ia menghela napas. "Tapi Ayah lupa... kebahagiaan kamu bukan tentang status. Tapi tentang ketulusan." Mata Arka mulai berkaca. Ia tidak menyangka ayahnya akan bicara seperti itu. "Ayah... sudah memaafkan Raisa, tapi Ayah lebih menyesal karena selama ini terlalu menekan kamu untuk jadi seperti yang Ayah mau. Maafkan Ayah, Nak..." Arka tak menjawab. Ia hanya melangkah mendekat, lalu memeluk sang ayah erat. "Saya yang justru minta maaf, Yah… karena tak pernah jujur tentang apa yang saya rasakan." Dalam pelukan itu, keduanya terdiam. Tak ada kata yang lebih kuat dari pengakuan dan penerimaan. Tak ada obat yang lebih mujarab dari pelukan seorang ayah kepada anak lelakinya yang kini tumbuh menjadi laki-laki dewasa—yang tak hanya bisa memilih, tapi juga memaafkan. Setelah beberapa menit, Pak Alvino menepuk bahu Arka. Suasana di ruang kerja Arka kembali sunyi. Pak Alvino baru saja memeluk putranya, menyampaikan permintaan maaf dan penyesalan, hingga Arka merasa ini adalah saat yang tepat—untuk jujur sepenuhnya. Dengan hati-hati, Arka membuka suara: "Yah…" "Kalau misalnya… Arka jatuh cinta pada seorang cleaning service di rumah sakit, apa Ayah akan tetap mengizinkan?" Pak Alvino yang baru saja mengendurkan wajahnya, tiba-tiba menoleh dengan ekspresi bingung. Ia tertawa kecil, mengira itu hanya perumpamaan. "Apa, Nak? Cleaning service? Kamu bercanda, kan?" Arka menatap serius. "Enggak, Pa. Ini serius." Tawa kecil itu lenyap. Wajah Pak Alvino perlahan berubah tegang. "Arka… kamu tidak jadi menikah dengan Raisa—seorang dokter, dari keluarga baik-baik—lalu kamu justru ingin menikah dengan seorang cleaning service?" Nada suaranya meninggi. "Kamu pikir Ayah ini siapa, hah?! Apa kamu mau mempermalukan keluarga ini, Nak?!" Arka mengatupkan rahangnya, menahan gejolak di d**a. "Ayah… dia bukan hanya cleaning service. Dia perempuan yang baik. Sopan. Jujur. Dia—" "HENTIKAN!" bentak Pak Alvino. "Kamu tahu berapa banyak mata yang melihat keluarga ini? Nama besar yang Ayah bangun?! Dan sekarang kamu bicara soal menikahi wanita yang bahkan tidak tamat kuliah?" Arka tertunduk sejenak, lalu berkata pelan, "Tapi dia sedang melanjutkan kuliah, yah… dan aku yang membiayainya." Pak Alvino memicingkan mata. "Kamu sudah sejauh itu…?" Arka hanya diam. Pak Alvino berdiri, ekspresinya keras dan kecewa. "Nak, kamu itu anak lelaki satu-satunya. Harusnya bisa meneruskan harga diri keluarga. Ayah tidak akan menjodohkan kamu lagi. Tapi jangan pernah ajak Ayah merestui pernikahan yang akan jadi bahan bisik-bisik orang nanti." Ia berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh dan berkata tegas: "Pilihlah dengan bijak, Arka. Cinta boleh kamu pegang… tapi jangan mengorbankan kehormatan keluarga demi perasaan sesaat." Pintu tertutup. Dan Arka… kembali sendiri di ruangannya. Ia menunduk. Pikirannya penuh. > “Kalau begini… apakah aku harus memilih cinta diam-diam?” “Atau aku harus berjuang—untuk wanita yang mungkin sederhana, tapi membuatku merasa utuh?” Hari keempat tanpa Arka. Safiyah hanya duduk terpaku di tepi ranjang, memeluk lututnya, memandangi langit mendung di luar jendela kamar dua lantai itu. Semuanya terasa dingin, asing, hampa. Baju-baju yang dulu dibelikan Arka… kini menggantung tak berarti. "Apa aku hanya simpanannya…?" "Apa aku hanya pelampiasannya…?" Air mata Safiyah kembali menetes. Pelan, tapi menghujam. Dalam hati kecilnya, ia tahu Arka baik. Tapi kebaikan itu tak cukup. Tidak selama pernikahan mereka harus tersembunyi, dan dia hidup dalam bayang-bayang perjanjian dan kerahasiaan. Safiyah berdiri. Ia membuka lemari. Ia melipat pakaiannya satu per satu ke dalam koper. Gamblang, pelan, seolah setiap lipatan adalah bagian dari dirinya yang ditinggalkan. Satu jam kemudian. Dengan langkah pelan, Safiyah turun ke ruang tamu sambil menarik kopernya. Damar, anak Bi Ijah yang biasa mengantar jemputnya ke kampus, menyapanya. "Mau ke kampus, Kak Safi?" Safiyah menggeleng. "Dam, tolong antar aku ke stasiun, ya." Damar tampak bingung. "Ke stasiun? Mau ke mana, Kak?" "Ke Bandung. Mau ketemu Mas Arka." Bohong kecil. Tapi Safiyah tak punya pilihan. Damar mengangguk tanpa curiga. Di dalam mobil. Safiyah duduk diam, matanya terus menatap ke luar jendela. Jalanan Bogor yang hijau, sejuk, dan dulu menenangkan… kini terasa seperti saksi bisu keputusannya untuk pergi. “Arka, maafkan aku. Tapi aku memilih untuk menyelamatkan harga diriku sendiri…” Stasiun Bogor. Damar membantu menurunkan koper. "Nanti Mas Arka jemput di Bandung, Kak?" Safiyah hanya mengangguk. "Iya, Dam. Terima kasih, ya. Jaga rumah baik-baik." Damar masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Kereta menuju Banyuwangi akan berangkat pukul 18.45 —dan itulah kereta yang Safiyah pilih. Di dalam gerbong kereta yang melaju perlahan, Safiyah duduk sendirian di dekat jendela, memeluk jaket tipis, menatap gelapnya malam yang mulai turun. Ia menarik napas dalam. "Selamat tinggal, Mas Arka. Aku mencintaimu… tapi aku lebih mencintai harga diriku sendiri." Kereta melaju… membawa serta seorang perempuan yang ingin memulai hidup baru. Malam di Bogor disambut gerimis. Langkah kaki dokter Arka menjejak cepat di depan rumah dua lantai yang biasanya menjadi tempatnya beristirahat. Namun malam ini, rumah itu terasa terlalu sepi. Pintu dibuka oleh Bi Ijah, wajahnya sedikit panik melihat ekspresi tuan mudanya. “Mas Arka… sudah pulang?” Arka tidak menjawab. Matanya menyapu ruang tamu. “Mana Safiyah?” suaranya berat, dingin, namun menahan gejolak. Damar muncul dari dapur, ikut gelisah. “Mas... Kak Safiyah... minta diantar ke stasiun tiga hari lalu. Katanya mau ke Bandung ketemu Mas Arka...” “APA?!” Arka menatap Damar tajam, wajahnya mulai memerah. “Kenapa kamu biarkan dia pergi?!!” Damar terdiam. Bi Ijah ikut bicara, “Kami kira dia memang mau ke Bandung, Mas… dia bawa koper, tapi nggak bilang yang aneh-aneh. Kami pikir dia dijemput sampean...” Arka menghempas tubuhnya ke sofa, wajahnya merah padam. Nafasnya memburu. "Kenapa selalu seperti ini… kenapa dia selalu lari…” Ia bangkit dan menendang meja kecil di ruang tamu, gelas dan vas bunga jatuh dan pecah. Di kamar atas. Arka masuk ke kamar yang biasanya hangat oleh senyuman Safiyah. Kini hanya ada ranjang kosong, lemari yang rapi, dan aroma samar parfum Safiyah yang tersisa di udara. Arka menggebrak meja kerja. Lampu meja terlempar, buku-buku berhamburan. “FIYAAAHH!!!” jeritnya parau. Beberapa saat kemudian... Arka terduduk di lantai. Tangannya menutupi wajahnya. Dadanya sesak. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Safiyah. Namun... "Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi..." Arka mencoba lagi. Berkali-kali. Tapi nihil. Safiyah telah mengganti nomornya. Arka menekan nomor temannya, Iqbal, seorang pakar IT di rumah sakit. "Bal, bantu gue. Lacak lokasi terakhir nomor Safiyah yang lama." Beberapa menit kemudian… "Ka, itu nomor udah nggak aktif. Nggak ada GPS terakhir. Dia... udah bener-bener ngilang." Arka membanting ponsel ke kasur. "SIAL!!! SIALAN!!!” umpatnya keras, berkali-kali. > “Kamu kabur lagi, ya Fi... karena aku terlalu pengecut menyelamatkan kamu sejak awal? Karena aku terlalu sibuk menjaga nama keluarga daripada menjaga hatimu?” > “Aku nggak peduli lagi pada dunia. Asal kamu kembali, aku akan nikahi kamu di depan semua orang. Aku akan perjuangkan kamu…” Tapi malam itu hanya menjawab dengan hening. Dan hujan turun semakin deras di luar jendela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD