Kamar hotel mewah itu sunyi. Lampu kuning remang menerangi sudut ruangan tempat Leonardo berdiri menatap layar ponselnya. Ia tersenyum dingin, penuh kemenangan. Raisa duduk di tepi ranjang, gugup, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya.
“Aku di sini, Leo. Kamu mau apa sebenarnya?” ucap Raisa dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Leonardo tak langsung menjawab. Ia justru sibuk mengutak-atik ponselnya.
KLIK.
Sebuah pesan dikirimkan. Ke seseorang yang sangat tidak diharapkan Raisa:
Dokter Arka.
Isi pesan Leonardo:
> “Kenalkan, Dok. Nama saya Leonardo, teman lama calon istrimu. Saat ini dia bersamaku, di kamar 1706, Hotel Grand Meridian. Kami sedang berbagi ‘kenangan’ lama. Mungkin kamu ingin datang dan lihat sendiri sebelum ijab qabul terlontar dari mulutmu.”
Disertai dengan lokasi langsung dan foto pintu kamar.
Sementara itu, di tempat lain, di ruang dokter jaga sebuah rumah sakit besar di Bandung, Arka baru saja menyelesaikan visit terakhirnya. Ia duduk di sofa kecil sambil membuka ponselnya—berharap mungkin ada pesan dari rumah, atau bahkan... dari seseorang yang diam-diam ia rindukan.
Namun yang muncul membuat darahnya berdesir.
Nomor asing. Pesan mengejutkan. Nama Raisa. Lokasi hotel. Dan tuduhan perselingkuhan.
Arka menegang. Ia membaca ulang pesan itu beberapa kali, matanya menyipit.
“Apa ini?” gumamnya, tak percaya.
“Hoaks? Ancaman? Atau... kenyataan?”
Tanpa pikir panjang, ia bangkit. Menyambar jasnya.
Dengan langkah cepat ia menuju parkiran, masuk ke mobil, dan melajukan kendaraan menuju alamat hotel yang tertulis di pesan.
Selama perjalanan, pikirannya kacau.
“Tidak mungkin Raisa seperti itu…”
“Tapi siapa Leonardo?”
“Kenapa semua ini terasa terlalu... nyata?”
Wajah Safiyah tiba-tiba melintas di kepalanya—perempuan yang ia sembunyikan, ia tinggalkan demi sebuah ikatan resmi dengan wanita sempurna pilihan keluarganya.
“Apa aku sedang dikhianati... saat aku sendiri mengkhianati?”
Mobil Arka melaju kencang membelah malam Bandung yang mulai gerimis.
Dan di hotel itu—di kamar 1706—sebuah rahasia bersiap untuk terbongkar. Rahasia yang bisa menghancurkan dua pernikahan, dua harga diri, dan satu nama baik.
Udara di kamar hotel terasa tegang, menusuk setiap inci indra Raisa. Di hadapannya, Leonardo menatapnya dengan pandangan penuh kerinduan yang berubah menjadi tuntutan. Sudah setahun ia menahan hasrat, dan malam ini, ia bertekad mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Raisa, kamu tahu kan aku rindu ini semua?" bisik Leonardo, suaranya sarat permohonan, namun ada nada mengancam di dalamnya. "Aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama."
Raisa menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tidak, Leo! Aku tidak bisa. Aku sudah punya calon suami."
Wajah Leonardo mengeras. "Oh, benarkah? Kalau begitu, aku akan pastikan calon suamimu itu tahu segalanya tentang kita. Semua cerita, semua yang pernah kita lakukan. Bagaimana menurutmu?" Ancaman itu meluncur dingin, membuat Raisa membeku.
Leonardo melangkah mendekat, tanpa menunggu jawaban, ia mencium bibir Raisa dengan rakus. Awalnya, Raisa diam, terpaku oleh ancaman itu, namun perlahan, entah karena ingatan masa lalu atau keputusasaan, ia menyambut ciuman itu. Keduanya mulai tenggelam dalam lautan asmara yang tiba-tiba membanjiri mereka.
Raisa merebahkan tubuhnya di ranjang, dan Leonardo dengan cepat menyusul, menindihnya. Ciuman mereka semakin dalam, panas, dan memabukkan. Bibir Leonardo melumat bibir Raisa, perlahan turun ke leher jenjangnya, menyisakan jejak basah yang membakar gairah keduanya. Malam itu, api yang telah lama padam kini menyala kembali dengan dahsyat.
Pakaian mereka pun terlepas, jatuh begitu saja ke lantai. Safiyah meringis saat "pusaka" Leonardo bergerak, menembus daerah intimnya, memberikan kenikmatan yang telah lama ia lupakan. Desahan dan erangan keduanya mulai bersahutan, menggema di seluruh kamar hotel. Mereka semakin tenggelam dalam lautan gairah, mendekati puncak kenikmatan...
Namun, tepat sebelum mencapai klimaks, suara "klik" pintu yang terbuka memecah keheningan. Dokter Arka masuk, matanya langsung tertuju pada pemandangan di depannya. Sebuah pemandangan yang mengiris hatinya, meremukkan jiwanya. Leonardo dan Raisa, tanpa sehelai benang pun, terhuyung dalam perselingkuhan yang nyata.
Gerakan mereka terhenti seketika. Leonardo dengan santai turun dari tubuh Raisa, meraih pakaiannya, dan mulai mengenakannya seolah tak ada yang terjadi. Sementara Raisa, dengan wajah pucat pasi dan mata membelalak, segera menarik selimut tebal, menutupi tubuh polosnya yang telah dilihat oleh Arka, suaminya.
Pintu kamar 1706 terbuka keras.
Arka berdiri di ambang pintu. Nafasnya memburu. Tatapannya tajam menembus keduanya—Raisa yang masih mengenakan long coat hitam, dan Leonardo yang berdiri santai dengan senyum licik di sudut bibirnya.
Untuk beberapa detik, hanya kesunyian yang bicara.
Lalu tanpa aba-aba, Arka melangkah cepat ke arah Raisa.
PLAKK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Raisa, membuat tubuhnya terhuyung.
"Jadi begini asli kamu, Raisa?!"
Suara Arka meledak, penuh kemarahan yang tak lagi bisa ditahan.
"Bercinta di hadapanku dengan laki-laki lain?! Siapa ini? Oh, Leonardo?!"
Arka tertawa sinis, terluka dan marah di saat bersamaan.
"Wow… hebat sekali kamu, Raisa. Wanita terhormat. Calon istri yang sempurna… ternyata busuknya sudah lama tertanam."
Leonardo melangkah maju, berdiri di hadapan Arka.
"Dengar, Dokter Arka," ucap Leonardo dingin namun tegas.
"Saya dan Raisa adalah sepasang kekasih saat kami kuliah di Australia. Kami tinggal bersama. Kami saling mencintai. Tapi karena kamu… Raisa dipaksa putus dari aku."
Mata Arka menajam.
Leonardo melanjutkan dengan nada menantang,
"Apa yang kamu lihat tadi bukan pelanggaran. Itu cinta. Hubungan yang terlanjur dalam. Jadi jangan bersikap seperti korban."
Raisa masih berdiri terpaku. Air matanya mengalir diam-diam.
Ia tak mampu membela diri. Tak mampu menjelaskan. Semuanya terbuka... dan telanjur hancur.
Arka menatap Raisa dengan kecewa yang dalam.
"Owh jadi kalian sepasang kekasih?"
Ia tertawa miris.
"Kamu masih menginginkan dia? Baiklah…"
Dengan gerakan pelan namun dingin, Arka menunjuk ke arah tempat tidur.
"Silakan. Silakan lanjutkan kegiatan kalian. Maaf… saya datang mengganggu kesenangan kalian malam ini."
Ia membalikkan badan, membuka pintu, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
"Arka!"
Teriakan Raisa menggema. Ia mengejar beberapa langkah, namun terlambat.
Pintu tertutup. Laki-laki yang seharusnya menjadi suaminya kini pergi membawa luka… dan mungkin, tak akan kembali.
Raisa jatuh berlutut di karpet kamar hotel.
Matanya beralih menatap Leonardo—yang kini tidak lagi tampak hangat seperti dulu.
Yang tersisa hanyalah sosok masa lalu yang menghancurkan segalanya.
Tatapan Raisa berubah… dari sedih… menjadi benci.
"Kamu puas, Leo? Hancurkan aku? Hancurkan hidupku?!"
Jam menunjukkan pukul 22.00 wib saat Arka membuka pintu rumah orang tuanya dengan kasar. Suara pintu yang terbanting membuat pasangan suami istri yang tengah menikmati teh hangat di ruang keluarga sontak menoleh.
“Arka?”
Ibunya, Bu Karina, berdiri. Ayahnya, Pak Alvino, masih duduk namun mulai menyipitkan mata, curiga.
Arka berjalan cepat dengan wajah merah padam. Matanya tajam, rahangnya mengeras. Tanpa basa-basi, ia menggebrak meja kayu di hadapan orang tuanya.
“BATALKAN PERNIKAHAN ITU!!”
Teh hangat tumpah ke taplak meja.
Suasana langsung berubah mencekam.
"Kamu ngomong apa, Arka?" bentak Pak Alvino, suaranya dalam dan menahan emosi.
"Jangan main-main dengan harga diri keluarga!"
Arka mengangkat ponselnya, membuka file video yang tadi sempat ia rekam secara diam-diam. Lalu menyodorkannya di hadapan kedua orang tuanya.
“Silakan tonton ini… biar Ayah dan Ibu tahu siapa sebenarnya Raisa yang kalian banggakan!”
Video itu diputar.
Gambaran Raisa yang menangis, Leonardo yang bicara lantang tentang hubungan mereka di Australia, dan bagaimana Arka sendiri menyaksikan semuanya—semua tertangkap jelas.
Bu Karina menutup mulutnya, tertegun.
Pak Alvino berdiri dari kursi, wajahnya merah padam.
"APA INI?!"
Suara Pak Alvino menggema di ruang keluarga.
“Calon menantu yang selama ini kalian bela, ternyata masih menjalin hubungan dengan lelaki lain. Bahkan tinggal serumah di luar negeri! Dan sekarang... menjual harga dirinya kembali hanya untuk menutup jejak masa lalunya!” teriak Arka, matanya berkaca-kaca.
"Kalian ingin aku hidup dengan perempuan seperti itu?! Menikahi seseorang yang mencintai orang lain?!"
"TIDAK!"
Arka menatap ayahnya tajam.
"Aku tidak akan menikah dengan Raisa. Ini keputusan final."
Pak Alvino terdiam. Wajahnya gelap. Ia menatap layar ponsel sekali lagi, rahangnya mengencang.
"Besok... panggil Raisa dan orang tuanya ke sini. Biar mereka semua menjelaskan."
Bu Karina masih terdiam, shock. Ia hanya mengangguk pelan.
Arka melempar ponselnya ke sofa, lalu berjalan naik ke kamarnya.
Langkah kakinya berat, tapi pasti.
"Aku cukup terluka karena hidup yang ku sembunyikan…"
"Aku tidak mau hidup dalam luka yang dipaksakan lagi."
Pagi itu, ruang utama rumah keluarga Arka menjadi tempat berkumpul dua keluarga besar:
Keluarga Dokter Arka dan keluarga Raisa—Pak Alvino dan Bu Karina.
Raisa duduk bersimpuh di tengah ruangan, wajahnya sembab, matanya merah, rambutnya disisir rapi namun tak bisa menutupi kepedihan yang menggantung di wajahnya. Ia tampak seperti seseorang yang kehilangan seluruh pegangannya.
"Saya mohon maaf... atas semua yang terjadi," ucap Raisa dengan suara lirih, seraya berlutut di hadapan orang tua Arka.
"Saya tidak berniat mengkhianati mas Arka... saya dijebak, sungguh..."
Bu Karina menatap Raisa penuh emosi, tapi masih diam. Sementara ayah Arka, Pak Alvino, duduk dengan ekspresi sulit terbaca.
"Leonardo mengancam saya... dia punya video masa lalu kami saat di Australia. Dia menekan saya untuk datang malam itu. Saya tidak pernah berniat menghancurkan pertunangan ini."
Raisa mencoba menatap mata kedua orang tua Arka, mencari empati.
"Saya masih mencintai Arka. Saya ingin menjadi istri yang baik. Saya ingin menebus semuanya…"
Namun dari arah kanan ruangan, langkah kaki terdengar tegas.
Arka turun dari tangga dengan mengenakan kemeja putih polos, raut wajahnya datar namun sorot matanya penuh amarah yang tertahan.
Ia berdiri tegak di hadapan semua orang, dan berkata dengan nada dingin:
"Berhenti Raisa. Jangan merendahkan dirimu sendiri dengan membungkus dusta pakai air mata."
Raisa menoleh, tangisnya pecah kembali.
"Mas Arka, aku mohon… aku benar-benar dijebak. Aku takut… aku—"
"Tapi kamu tetap pergi, Raisa."
"Dan kamu tetap membiarkan lelaki itu menyentuhmu."
"Kamu tahu apa yang menyakitkan? Bukan hanya karena kamu punya masa lalu. Tapi karena kamu tidak pernah jujur. Bahkan ketika aku berdiri di ambang pintu malam itu, kamu tidak mengelak, tidak lari, tidak menolak. Kamu diam... seolah terbiasa."
Suasana menjadi sangat sunyi.
Pak Alvino hendak bicara, tapi Arka mengangkat tangannya tegas.
"Ayah, Ibu, saya tahu kalian ingin menjaga nama baik. Tapi kali ini... biarkan saya jaga harga diri saya sendiri."
Ia menatap orang tua Raisa, lalu menunduk sopan.
"Pak, Bu… mohon maaf sebesar-besarnya. Saya… membatalkan pernikahan ini. Saya tidak ingin membangun rumah tangga dari puing kebohongan."
Raisa jatuh terduduk.
"Mas Arka… jangan... aku mohon…"
Arka berbalik tanpa menjawab. Ia melangkah pergi—tak menoleh lagi meski suara tangisan memanggil namanya.