Bab 5

1696 Words
Arka perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Safiyah yang dingin dan kaku. Ia bangkit, berjalan masuk ke kamar mandi dan menutup pintu tanpa banyak suara. Suara air terdengar samar dari balik pintu, mengisi kekosongan yang menggantung di udara. Safiyah terjaga. Ia duduk, bersandar di kepala ranjang sambil menarik selimut hingga ke d**a. Pandangannya kosong, matanya bengkak walau belum menangis lagi. Ketika Arka keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi dan tas kerja di tangan, Safiyah memberanikan diri bertanya. "Mau ke mana, Mas?" tanyanya lirih, seolah ia sendiri takut mendengar jawabannya. Arka menatapnya sejenak. Wajahnya datar. "Sayang, Mas harus ke Bandung. Kamu tahu kan… pernikahan Mas sudah direncanakan jauh sebelum kejadian di ruang kerja kemarin." Kalimat itu seperti pisau yang baru diasah, menancap lurus ke d**a Safiyah. "Jadi sebenarnya... Mas anggap Safiyah ini apa?" suara Safiyah bergetar, air mata mulai menggenang. "Simpanan? Atau cuma pelampiasan hasrat Mas Arka aja?" Arka menghela napas panjang, lalu duduk sebentar di tepi tempat tidur. "Sayang... dalam perjanjian, kamu nggak bisa atur Mas Arka. Yang terpenting, Mas bertanggung jawab. Kamu istri Mas. Udah, itu cukup." Safiyah menunduk, menahan tangis yang mulai pecah. "Iya… Safiyah paham… Mas Arka bertanggung jawab. Tapi tanggung jawab itu nggak lebih dari... menjaga simpanan yang nggak boleh diketahui orang." Arka berdiri kembali, wajahnya mengeras. "Fiya... kamu yang minta Mas bertanggung jawab, dan Mas udah lakukan itu. Tapi jangan minta lebih dari yang bisa Mas kasih. Jangan harap cinta dari seseorang yang hatinya udah penuh urusan dan janji lama." Safiyah menatap Arka dengan mata basah. "Saya cuma ingin dihargai sebagai perempuan, Mas... bukan cuma dibayar untuk diam." Arka melirik jam tangannya lalu bicara cepat. "Mas sudah transfer semua kebutuhanmu untuk satu bulan ke depan. Termasuk mahar yang Mas janjikan. Kamu bisa cek rekeningmu. Kalau ke kampus, sudah ada sopir yang antar jemput—anak Bi Ijah, namanya Damar." Suaranya berubah dingin, hampir seperti peringatan. "Dan ingat, Fiya. Jangan coba-coba bohong sama Mas. Apalagi selingkuh. Mas nggak main-main." Sebelum benar-benar pergi, Arka berjalan ke sisi ranjang. Ia mengecup kening Safiyah sekilas, lalu bibirnya sebentar—bukan ciuman cinta, tapi seperti tanda pemilik atas barang yang dianggapnya milik. "Selama Mas di Bandung, jangan telepon. Jangan kirim pesan. Mas sibuk." Dan ia pergi, membawa kopernya, melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Dari balkon kamar lantai dua, Safiyah berdiri terpaku. Matanya menatap mobil hitam yang melaju menjauh dari halaman rumah itu. Sunyi. Tak ada pelukan perpisahan. Tak ada kepastian. Hanya jejak pijakan di lantai dingin dan hati yang terasa lebih kosong daripada saat ia masih tidur di gudang rumah pamannya dulu. Malam ini, rumah itu begitu besar. Tapi bagi Safiyah… Rasanya seperti penjara tanpa pintu keluar. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam saat mobil hitam Arka melintasi gerbang besar rumah orang tuanya di Bandung. Rumah megah dua lantai itu tampak lengang. Hanya suara gemerisik pohon bambu di halaman yang menemani langkahnya memasuki rumah yang dulu penuh kenangan masa kecil. Tanpa membangunkan siapa pun, Arka langsung naik ke lantai dua. Ia membuka pintu kamarnya—ruang pribadi yang masih tertata rapi seperti terakhir kali ia tinggalkan. Dinding abu lembut, tempat tidur empuk, lampu tidur yang hangat, dan rak buku yang penuh jurnal medis dan laporan perusahaan. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit. Tapi pikirannya tidak tenang. Wajah Safiyah yang menangis saat ia tinggal, masih tergambar jelas di matanya. Namun bersamaan dengan itu, bayangan Raisa muncul… perempuan yang telah dijanjikan oleh keluarganya… dan yang akan ia nikahi dalam hitungan hari. Arka menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya dan menelepon Raisa. Panggilan tersambung setelah beberapa detik. "Halo, Sayang..." Suara Raisa terdengar dari seberang, lelah namun lega. "Mas Arka udah sampai Bandung?" "Iya, Sayang. Mas baru aja sampai rumah." "Alhamdulillah… Raisa sempat khawatir." Arka menatap langit-langit. Suaranya lembut, menenangkan. "Kamu masih di rumah sakit?" "Iya, masih jagain pasien. Tadi ada operasi darurat. Tapi sekarang udah selesai." Ada jeda sejenak sebelum Raisa berkata, "Mas, besok pagi datang ke rumah sakit, ya? Kita bahas detail acara pernikahan, fitting baju, dan undangan yang belum kamu cek." Arka menutup matanya sejenak, lalu menjawab pelan, "Oke, Sayang… besok Mas datang. Kirimin aja jam pastinya." "Makasih ya, Mas… Aku kangen." "Mas juga…" Telepon berakhir. Arka menaruh ponsel di meja samping tempat tidur, lalu menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Ia menutup mata—bukan untuk tidur, tapi untuk menenangkan badai yang mulai membesar di hatinya. Dua dunia kini hidup bersamaan: satu yang tersembunyi dalam sunyi, dan satu yang berjalan terang di hadapan semua orang. Dan hanya waktu yang akan menguji… Siapa yang benar-benar akan ia jaga sampai akhir. Pagi yang cerah di Bandung terasa sibuk bagi Arka dan Raisa. Setelah pertemuan singkat di rumah sakit, mereka langsung menuju butik perancang ternama langganan keluarga Raisa. Hari ini adalah sesi penting—fitting pakaian akad dan resepsi pernikahan mereka yang hanya tinggal seminggu lagi. Di ruang VIP butik itu, Arka mengenakan jas berwarna krem gading yang akan ia kenakan saat akad. Potongannya tegas, elegan, mencerminkan status dan kelas. Sementara Raisa sedang dibantu perias mencoba kebaya putih berbordir emas, panjang menjuntai hingga menyentuh lantai. Tak lama, Raisa keluar dari ruang ganti. "Mas… gimana? Cantik nggak?" Suara lembut itu menyapa telinga Arka. Ia menoleh... dan terpaku. Pandangan matanya kosong sejenak. Tubuh Raisa memang di depannya, tapi wajah itu... wajah itu berubah. Menjadi Safiyah. Dengan tatapan polos dan gamis putih sederhana. Senyum lembut penuh kehangatan yang semalam mengisi pelukannya kini hadir lagi—namun hanya dalam ingatan. “Baru satu malam... tapi kenapa aku serindu ini?” batin Arka. Wajahnya tak mampu menyembunyikan gejolak batin yang berusaha ditekan. "Mas? Kamu melamun?" Tangan Raisa menyentuh lengan jasnya, lembut namun menyadarkan. Arka tersentak kecil, segera kembali ke realita. "Eh, iya Sayang... maaf." Raisa tersenyum, memutar tubuhnya perlahan. "Bagus nggak kebaya ini?" Arka menatapnya. Ia memaksakan senyum. "Bagus… cantik. Dan... anggun. Apalagi kamu yang memakainya." Raisa tersenyum puas, lalu memeluk Arka dengan penuh semangat. "Makasih ya, Mas. Aku seneng banget kamu dampingin hari ini." Arka membalas pelukannya singkat. Tapi dalam benaknya, suara Safiyah kembali terngiang—suara tangis yang ia tinggalkan malam tadi… suara lirih saat ia berkata bahwa dirinya hanya simpanan. Hati Arka terasa berat. Di satu sisi ada wanita yang ia janjikan pada keluarganya. Di sisi lain, ada wanita yang ia ikat diam-diam dengan janji yang disembunyikan. Dan di tengah semua itu… Arka mulai kehilangan dirinya sendiri. Setelah sesi mencoba busana usai, Arka dan Raisa melanjutkan ke tempat katering langganan keluarga Haryanto. Hari itu mereka dijadwalkan mencicipi berbagai hidangan yang akan disuguhkan untuk para tamu undangan di hari pernikahan mereka. Meja panjang di depan mereka dipenuhi berbagai menu—dari makanan pembuka khas Barat, hidangan utama tradisional Sunda, hingga aneka kue dan minuman kekinian. Raisa tampak sangat antusias. Ia mencicipi satu per satu, sesekali memberi komentar, sesekali tertawa kecil sambil mencolek lengan Arka. "Mas, ini enak banget ya? Duh, nanti pasti para tamu suka deh!" ucap Raisa dengan mata berbinar. Arka hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia ikut mencicipi beberapa hidangan, namun pikirannya terus saja melayang… bukan pada acara yang akan digelar megah itu, tapi pada seseorang di Bogor yang mungkin sedang makan sendirian di ruang makan rumah sunyi mereka. Apakah Fiya sudah makan? Apakah dia baik-baik saja? Atau… masih menangis? Raisa tak menyadari kegelisahan itu. Ia terlalu bahagia membayangkan hari besarnya. "Mas Arka, makasih ya hari ini udah nemenin semua persiapan. Aku tahu kamu sibuk banget, tapi kamu tetap nyempetin waktu." "Iya, Sayang… ini kan hari penting kita." Arka menjawab dengan suara tenang, menahan konflik batin yang makin menyesakkan. Setelah semua selesai, Raisa terlihat puas. Ia menggandeng tangan Arka saat berjalan ke mobil, lalu bersandar manja di bahunya selama perjalanan. Sore itu, langit Bandung mulai mendung. Udara mulai dingin. Arka menyetir pelan, mengantar Raisa pulang ke rumah mewah orang tuanya. Saat mobil berhenti di depan gerbang, Raisa mencium pipi Arka cepat. "Sampai ketemu besok, ya Mas. Jangan lupa istirahat kalau udah selesai jaga." "Iya, Sayang." Raisa masuk ke dalam rumah. Arka hanya memandanginya sebentar, lalu menghela napas panjang sebelum melajukan mobil ke rumah sakit tempat ia bertugas. Di sepanjang perjalanan, tangan Arka menggenggam erat setir mobil, tapi pikirannya mengembara… bukan ke pasien-pasien yang menunggu… bukan pula ke laporan medis yang harus ia bereskan. Namun ke satu nama… Safiyah. Baik, berikut narasi lanjutan dengan nuansa tekanan psikologis, ketakutan tersembunyi, dan masa lalu yang mulai menghantui kehidupan sempurna Raisa: Malam itu, rumah keluarga Haryanto sunyi. Setelah seharian sibuk bersama Arka, Raisa baru saja mengganti bajunya dan hendak beristirahat, ketika nada dering ponselnya mengusik keheningan kamar. Layar ponsel menyala. Nama itu muncul jelas: Leonardo. Raisa menatap layar dengan tangan gemetar. Seketika wajahnya memucat. Ia menekan tombol "Reject" dengan cepat, lalu melempar ponselnya ke sisi tempat tidur, seolah panggilan itu bisa lenyap bersama detak jantungnya yang kini berdegup tak beraturan. “Tidak… kenapa sekarang?!” bisik Raisa panik. Namun ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan masuk. Dari Leonardo. Leonardo: "Kalau malam ini kamu nggak datang, video kita di apartemen Melbourne akan sampai ke tangan calon suamimu. Ingat, Raisa, aku simpan semuanya." Jantung Raisa serasa berhenti berdetak. Tubuhnya limbung, dan ia duduk di tepi ranjang sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kilasan memori kembali datang… Melbourne, Australia – Dua Tahun Lalu Raisa dan Leonardo. Sepasang kekasih. Tinggal dalam satu apartemen kecil, penuh tawa, gairah, dan janji. Hubungan mereka bukan sekadar pacaran. Mereka telah berbagi segalanya, termasuk ranjang. Raisa yang kala itu terpikat pada pesona Leonardo—laki-laki blasteran tampan dan pintar yang juga satu jurusan dengannya. Mereka hidup layaknya suami istri, melakukan segalanya bersama… termasuk yang seharusnya hanya sah dalam ikatan pernikahan. Namun saat Raisa ingin membawa Leonardo pulang ke Indonesia untuk dikenalkan ke orang tuanya, segalanya hancur. Ayahnya, Pak Dani Haryanto, justru menjodohkannya dengan Dokter Arka—putra rekan bisnisnya. Dan Raisa… tak pernah punya keberanian untuk menolak. Kini semuanya kembali. Dan Leonardo... tak tinggal diam. Dengan tangan gemetar, Raisa mengganti pakaiannya. Ia mengenakan setelan long coat gelap dan celana panjang. Tanpa sepengetahuan siapa pun di rumah, ia keluar lewat pintu samping, masuk ke dalam mobilnya, dan menyetir cepat menembus dinginnya malam Bandung. Tujuannya satu: Hotel tempat Leonardo menunggu. “Tolong jangan hancurkan hidupku, Leo…” “Aku tidak bisa kehilangan semuanya hanya karena masa lalu.” Namun Raisa tahu… Malam ini, ia akan menghadapi luka yang lebih dari sekadar ancaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD