Bab 4

1507 Words
Malam itu, langit Bogor begitu cerah. Setelah sore mereka habiskan di kebun raya, Arka mengajak Safiyah makan malam di sebuah restoran romantis yang terletak di pinggir bukit dengan pemandangan kota yang berkelap-kelip. Cahaya lilin dan alunan musik jazz pelan menciptakan suasana tenang, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Arka menatap Safiyah beberapa kali sepanjang makan malam itu—diam-diam mengagumi perubahan gadis itu. Bukan hanya dari penampilan, tapi dari caranya tersenyum, menatap, dan menanggapi obrolan ringan. Ada kelembutan dan ketegaran yang sulit dijelaskan. Setelah makan malam usai, mereka kembali ke rumah. Mobil meluncur pelan di bawah remang lampu jalan. Setibanya di rumah, Arka langsung naik ke kamar, membuka kancing kemejanya sambil berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia mengganti pakaiannya dengan kaus hitam dan celana training abu-abu. Lalu ia duduk di meja kerja di sudut kamar, membuka laptopnya. Tak banyak yang tahu, selain menjadi dokter, Arka juga CEO dari sebuah perusahaan besar—warisan dari kakeknya. Perusahaan farmasi yang kini tengah berkembang pesat di bawah pengelolaannya. Email dan laporan keuangan sudah menumpuk, tapi malam ini pikirannya tak sepenuhnya tertuju ke layar. Saat Safiyah keluar dari kamar mandi, semuanya seolah terhenti. Gadis itu mengenakan dress pendek tanpa lengan berwarna lembut yang baru dibelinya dari butik kemarin. Rambutnya masih sedikit basah, jatuh ke bahunya dengan alami. Wajahnya segar, dan kulitnya yang bersih membuat Arka tertegun sejenak. Arka menutup laptopnya perlahan. Matanya tak lepas dari sosok itu. “Kamu…” bisiknya nyaris tak terdengar, “...cantik banget malam ini, Fiya.” Safiyah menunduk, malu. Pipinya memerah. Dress itu awalnya hanya akan ia kenakan saat tidur, tapi entah kenapa, malam ini ia ingin tampil berbeda di hadapan suaminya. “Makasih, Mas...” jawabnya pelan. Arka bangkit dari kursinya, berjalan mendekat. “Boleh nggak… malam ini aku peluk istri aku yang cantik ini tanpa jarak?” Safiyah tak menjawab. Tapi langkahnya mendekat, dan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Arka dengan perlahan. Hangat. Aman. Pelukan itu bukan sekadar kedekatan fisik, tapi kepercayaan. Dan malam itu… bukan hanya tubuh mereka yang saling mendekat, tapi hati mereka juga mulai menyatu. Arka membopong tubuh Safiyah yang terasa ringan dan merebahkannya perlahan di atas kasur. Sentuhan kulit mereka memicu kembali percikan gairah yang sempat mereda. Dengan gerakan lembut, Arka naik, menempatkan dirinya di atas Safiyah, menatap lekat mata gadis itu. Ia memulai pagutan lembut, mengecup kening Safiyah yang mulus, lalu turun ke pipi. Setiap sentuhannya diselingi bisikan-bisikan manis yang membuat Safiyah merinding. Kemudian, bibir Arka mendarat di bibir Safiyah, awalnya perlahan, penuh pemujaan. "Kamu indah, Safiyah," bisik Arka di antara ciuman mereka, suaranya serak menahan gairah. Safiyah membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya melingkar erat di leher Arka, menariknya makin dekat. Ciuman mereka semakin dalam, panas, dan memabukkan. Mereka saling melumat, menikmati setiap sentuhan, setiap rasa yang membakar. Gairah Arka kembali menggebu, dan Safiyah pun larut dalam sensasi nikmat yang disajikan Arka. Mereka tak peduli waktu, tak peduli dunia, hanya ada mereka berdua, tenggelam dalam lautan asmara yang tak bertepi. Pakaian yang membalut tubuh mereka akhirnya terlepas, jatuh begitu saja ke lantai, menyisakan dua tubuh yang memanas karena gairah. Arka tak menyia-nyiakan waktu. Ciumannya merambat dari leher jenjang Safiyah, turun ke d**a, membelai perut rata, hingga akhirnya mendarat di daerah intim Safiyah. Setiap kecupan Arka membakar kulit Safiyah, memancing desahan-desahan kecil lolos dari bibir gadis itu. "Mas Arka... ahh..." desah Safiyah, tubuhnya melengkung, merasakan gelombang kenikmatan yang memabukkan. Arka semakin tak terkendali. Dengan satu sentuhan, pusakanya kembali menembus daerah intim Safiyah. Awalnya, gerakan Arka begitu lembut, penuh pemujaan, memberi kesempatan Safiyah untuk menyesuaikan diri. Namun, seiring waktu, ritme itu berubah, menjadi lebih cepat dan bertenaga, seolah tak sabar ingin mencapai puncak. Safiyah semakin mendesah, suaranya bercampur dengan desahan berat Arka. "Sayang... ahh..." Arka balas mengerang, menikmati setiap sentuhan, setiap gesekan, dan merasakan nikmatnya daerah intim Safiyah yang membalas setiap gerakannya. Nafasnya memburu, desahan dan erangan mereka bersahutan, mengisi setiap sudut kamar dengan simfoni gairah. Puncak kenikmatan itu akhirnya tiba. Tubuh keduanya bergetar hebat, mencapai klimaks yang memabukkan. Cairan kenikmatan membanjiri rahim Safiyah, mengikat mereka lebih dalam lagi dalam lautan asmara. Mereka terengah, berbaring saling mendekap, merasakan sisa-sisa gelombang kenikmatan yang masih membanjiri tubuh. Malam itu menjadi saksi bisu atas lembar baru hubungan Arka dan Safiyah. Setelah makan malam yang manis, mereka larut dalam kehangatan yang sulit diungkap dengan kata. Di balik lampu temaram kamar, cinta yang selama ini samar mulai menemukan bentuknya—bukan sekadar ikatan sah di atas kertas, tapi perasaan yang tumbuh dari kedekatan hati dan waktu. Usai gelombang keintiman mereda, Arka menarik tubuh Safiyah ke dalam pelukannya. Nafas mereka masih saling bertaut, d**a yang naik turun beriringan, dan degup jantung yang terasa menyatu. Arka mengecup pelipis Safiyah lembut, lalu membisikkan kata-kata yang mengguncang jiwanya. “Aku cinta kamu, Fiya… dan aku nggak akan pernah ngelepasin kamu.” Bisikan itu lirih, namun menggetarkan. Membius. Safiyah membalas pelukan itu, mengeratkan tangannya di d**a Arka. Matanya berkaca-kaca, bukan karena luka, tapi karena bahagia yang belum pernah ia rasa sebelumnya. Tubuhnya bergetar pelan, bukan karena takut… tapi karena ia tak ingin malam ini berakhir. “Aku juga cinta Mas Arka… terima kasih sudah membuat aku merasa berarti.” Mereka terdiam dalam pelukan, saling menyatu dalam keheningan yang begitu hangat. Tak ada lagi jarak, tak ada lagi sekat. Hanya dua hati yang kini saling menjaga. Dan malam itu, bukan sekadar malam panas… tapi malam penuh cinta, yang akan mereka kenang sebagai awal dari rumah tangga yang bukan hanya dibangun atas tanggung jawab, tapi juga rasa. Malam begitu sunyi, namun di dalam kamar, kehangatan tak mengenal batas. Nafas mereka memburu, menyatu dalam irama yang hanya mereka pahami. Arka membisikkan namanya di telinga Safiyah, dan Safiyah membalasnya dengan pelukan erat, seakan ingin waktu berhenti di pelukan suaminya. Namun tiba-tiba— TRRRRRTTT... Nada dering ponsel memecah keheningan. Arka tersentak, nafasnya masih berat, tubuhnya menegang. Dengan enggan, ia meraih ponsel di atas nakas, melihat layar yang menyala. "Raisa..." gumamnya lirih. Gairah yang menguasai tubuhnya seketika surut. Ia menarik nafas panjang, menghentikan gerakannya, lalu turun dari ranjang. Safiyah yang menyadari perubahan itu segera menarik selimut, menutupi tubuhnya yang polos. Tatapannya mengabur antara kecewa dan bingung, namun ia memilih diam. Arka berjalan ke sofa, duduk, lalu menjawab telepon dengan suara tertahan, masih berat oleh sisa-sisa nafas yang belum teratur. "Assalamu’alaikum, sayang…" Suara di seberang terdengar jelas dan penuh nada menuntut. "Mas Arka… di mana?" tanya Raisa cepat, penuh curiga. "Mas lagi di Jakarta, Sayang. Ketemu klien," jawab Arka, mencoba tenang meski detak jantungnya belum sepenuhnya mereda. Ia berbohong. "Kapan pulang?" "Insya Allah besok, Sayang." "Besok? Kenapa nggak malam ini? Raisa kangen, Mas… banyak yang harus disiapkan. Nikahan kita tinggal seminggu lagi." Suara Raisa mulai terdengar cemas, bahkan sedikit cerewet. Arka menatap lantai kosong di hadapannya, lalu menanggapi dengan nada yang dibuat selembut mungkin. "Sayang… untuk pernikahan kita, Mas ikut kamu aja. Apapun yang kamu pilih, Mas pasti suka." Hening sejenak. Lalu suara Raisa melunak. "Ya sudah… Mas cepat pulang ya. Raisa tunggu." "Pasti, Sayang…" ucap Arka sebelum menutup panggilan. Ponsel ditaruh di meja. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit dengan d**a yang terasa berat. Di dalam kamar, ada Safiyah yang kini menjadi istrinya, namun di luar sana… ada Raisa yang sebentar lagi akan menjadi istrinya juga—di depan seluruh keluarganya, di bawah lampu sorot pesta pernikahan mewah. Arka menghela napas panjang. Cinta, tanggung jawab, dan kebohongan kini saling bertubrukan di kepalanya. Safiyah masih terbaring di ranjang, selimut membalut tubuhnya rapat. Udara di dalam kamar masih hangat, namun hatinya justru terasa dingin. Dari balik punggungnya, ia bisa mendengar suara Arka yang terdengar lembut, namun berbeda dari biasanya—lebih terkontrol, lebih… berpura-pura. Ia tak sengaja mendengar nama itu: Raisa. Safiyah mengatupkan matanya erat-erat. Sakitnya bukan karena suara itu keras, tapi karena suara Arka saat menyebut nama perempuan lain terdengar… hangat. Sehangat sapaan yang ia terima tadi sore. Sehangat pelukan yang baru saja berakhir lima menit lalu. Jadi selama ini... aku bukan satu-satunya? Lalu… aku ini apa? Tempat pelarian? Tanggung jawab? Atau… hanya pelengkap yang tak boleh diketahui siapa pun? Air mata menggenang di pelupuknya, tapi Safiyah tak membiarkannya jatuh. Ia menelannya, sebagaimana ia telah menelan banyak luka sejak kecil. Sejak hidupnya berpindah dari rumah pamannya ke mobil sayur, lalu ke lantai rumah makan, hingga kini… ranjang mewah yang entah milik siapa sebenarnya. Ia mengeratkan selimut, tubuhnya sedikit menggigil. Hatinya berperang. Ingin marah, tapi pada siapa? Arka telah menikahinya. Ia telah dipeluk, dicintai, dicium. Tapi mengapa nama wanita lain terdengar begitu jelas dari bibir yang sama? Dan lebih menyakitkan… Raisa akan menikah dengan Arka. Secara sah, secara terbuka. Di depan semua orang. Sementara ia? Disembunyikan. Bahkan tidak boleh membocorkan statusnya sendiri. Safiyah tak berkata apa pun saat Arka kembali ke ranjang. Ia tetap pura-pura tidur. Hanya menghadap ke sisi lain, diam, seolah tak mendengar apa pun. Arka memeluknya dari belakang, menyandarkan dagu di pundaknya. “Maaf ya, Fiya…” bisik Arka, seperti angin. Safiyah menutup matanya lebih rapat. Ia menahan napas. Maaf untuk apa, Mas? Karena berbohong? Atau karena membuatku jatuh cinta padahal hatimu masih milik orang lain? Ia tak menjawab. Hanya diam. Namun di dalam dirinya, badai perlahan mulai terbentuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD