Malam semakin larut. Setelah makan malam bersama Bi Ijah di ruang makan, Safiyah berpamitan singkat dan naik ke kamarnya. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya jauh lebih letih. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menyandarkan diri di bantal, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Malam pertama di rumah baru… sebagai istri dari seorang dokter yang dulu hanya ia lihat dari kejauhan di rumah sakit.
Sementara itu, di lantai bawah, Arka masih sibuk dengan teleponnya. Suaranya terdengar tenang namun penuh instruksi—berbicara dengan seseorang entah siapa, mungkin asisten atau orang kepercayaannya. Setelah telepon berakhir, ia menghela napas panjang, lalu bangkit dan menaiki anak tangga satu per satu.
Pintu kamar terbuka pelan. Safiyah langsung menoleh dan refleks hendak bangkit, mengambil posisi tidur di sofa kecil di pojok ruangan.
Namun Arka menahan dengan suara tegas namun tidak kasar.
"Sudah, jangan pindah. Kamu tetap di situ."
Safiyah terdiam. Tubuhnya kaku, tapi tidak bergerak lagi. Arka berjalan mendekat, dan tanpa kata, ia merebahkan tubuhnya di samping Safiyah. Jarak mereka semula masih ada, namun kemudian Arka menarik gadis itu pelan ke dalam pelukannya.
Safiyah terkejut, jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia tidak memberontak. Dalam diam, ia membiarkan tubuhnya tersandar di d**a Arka yang hangat dan stabil. Tangannya menggenggam ujung selimut, sementara nafas Arka terdengar lembut di dekat telinganya.
“Fiya…” bisik Arka pelan, “Mulai sekarang, kamu nggak sendiri lagi.”
Tak ada jawaban dari Safiyah. Tapi dari cara ia memejamkan mata perlahan dalam pelukan itu, ada rasa tenang yang perlahan tumbuh—walau samar, namun nyata.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ranjang itu bukan hanya tempat tidur… tapi tempat di mana dua jiwa yang terluka perlahan saling mendekat.
Di sebuah kamar yang remang, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu tidur, Arka menatap Safiyah. Gadis di depannya, dengan balutan gaun sederhana namun anggun yang disiapkan Rudi, tampak begitu berbeda malam ini. Ada aura rapuh namun memikat yang terpancar darinya.
Arka mengangkat tangannya perlahan, jemarinya membelai lembut pipi Safiyah, turun ke garis rahang, lalu menyentuh dagunya. Sentuhan itu terasa begitu halus, kontras dengan memori kasar yang masih membekas di benak Safiyah.
"Safiyah, kamu cantik sekali malam ini," bisik Arka, suaranya dalam dan lembut, seolah ingin menghapus semua ketakutan yang mungkin masih bersarang di hati Safiyah.
Wajahnya mendekat. Perlahan, bibir Arka menyentuh bibir Safiyah. Awalnya, Safiyah terkesiap, tubuhnya menegang. Ini bukan ciuman yang sama dengan malam mengerikan itu. Kali ini, sentuhan Arka begitu lembut, sarat kehati-hatian, dan seolah meminta izin. Arka mulai melumat bibir Safiyah dengan ritme yang pelan, penuh kelembutan.
Safiyah, yang awalnya membeku, perlahan merasakan kehangatan yang menjalar. Entah karena sentuhan Arka yang berbeda atau karena gejolak batinnya sendiri, ia mulai mencoba mengikuti irama ciuman itu. Rasa takut perlahan tergantikan oleh sensasi asing yang memabukkan. Keduanya larut dalam ciuman yang semakin dalam, semakin panas, seolah ingin menyampaikan segala yang tak terucap.
Arka melepaskan ciuman dari bibir Safiyah, perlahan menuruni leher jenjang gadis itu. Ciuman-ciumannya basah, meninggalkan jejak hangat yang membuat Safiyah merinding. Ia bergerak ke area d**a, mengecup kulit di sana dengan kelembutan yang membuat Safiyah merasa nyaman, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan ia rasakan dari Arka.
Desahan kecil lolos dari bibir Safiyah, sebuah suara yang tak ia sadari. "M-Mas Arka... ahh..."
Suara itu, begitu jujur dan penuh gairah, membuat Arka tahu bahwa sentuhannya kini diterima. Malam ini, di bawah ikatan pernikahan siri, mereka memulai babak baru yang rumit, penuh rahasia, namun juga menyimpan percikan tak terduga yang mulai menyala di antara keduanya.
Dengan kelembutan yang tak terduga, Arka mulai melepaskan satu per satu pakaian yang membalut tubuh Safiyah, lalu pakaiannya sendiri. Lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan mereka di dinding, menciptakan siluet intim.
Ketika "pusaka" Arka perlahan kembali memasuki daerah intim Safiyah, sebuah ringisan samar lolos dari bibir gadis itu. Namun, kali ini berbeda. Arka tak lagi kasar. Ia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Safiyah, membisikkan kata-kata cinta yang memabukkan, menenangkan setiap ketakutan yang tersisa. "Kamu cantik, Safiyah... Aku di sini untukmu..."
Bisikan lembut itu, ditambah sentuhan penuh kasih dari Arka, membuat Safiyah terhanyut. Rasa perih yang samar perlahan memudar, berganti dengan gelombang nikmat yang memabukkan. Arka bergerak dengan ritme yang lambat dan lembut, membiarkan Safiyah menyesuaikan diri, merasakan setiap inchi kebersamaan mereka.
"Mas Arka... ahh..." desahan pelan keluar dari bibir Safiyah, sebuah pengakuan akan kenikmatan yang mulai merayapinya.
Mendengar desahan itu, Arka semakin intens. Ia mempercepat gerakannya, seolah tak sabar ingin mencapai puncak bersama. Desahan Arka dan erangan Safiyah kini menggema di seluruh kamar, berpadu dalam simfoni gairah. Dan pada puncaknya, pelepasan pun terjadi, melebur menjadi satu di dalam rahim Safiyah, mengikat dua jiwa dalam ikatan yang rumit, penuh rahasia, namun kini juga diliputi oleh sentuhan cinta yang baru bersemi.
Pelepasan terjadi berkali-kali, seolah tak ada habisnya. Arka dan Safiyah tenggelam dalam lautan asmara yang memabukkan, mencoba berbagai posisi, setiap sentuhan dan desahan mengantar mereka pada puncak kenikmatan yang berbeda. Desahan dan erangan nikmat tak henti menggema di kamar itu, menjadi melodi bagi persatuan dua jiwa yang awalnya terjalin karena tragedi.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa jarum jam menunjuk pukul dua dini hari. Kelelahan yang memuaskan menyelimuti mereka. Dalam dekapan erat satu sama lain, Arka dan Safiyah terlelap, mengarungi mimpi indah yang baru saja mereka ciptakan bersama.
Cahaya lembut fajar menyusup melalui celah tirai jendela kamar. Di atas ranjang, Safiyah perlahan membuka matanya. Pelukan hangat Arka masih melingkupi tubuhnya, membuatnya sempat ragu untuk bergerak. Tapi waktu tak bisa dihentikan. Dengan perlahan dan hati-hati, Safiyah melepaskan diri dari pelukan itu agar tak membangunkan suaminya.
Ia melangkah masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air wudu yang dingin namun menyegarkan. Setelah selesai membersihkan diri, ia mengenakan rok panjang dan blouse lembut berwarna pastel—pakaian yang baru ia beli di butik Bandung kemarin. Rambutnya dikeringkan, disisir rapi, lalu ia duduk di tepi ranjang.
Pandangan matanya jatuh ke wajah Arka yang masih tertidur lelap. Ada ketenangan di sana. Lelaki itu, yang dulu terasa seperti atasan dingin dan tak tersentuh, kini menjadi tempatnya pulang.
Dengan hati-hati, Safiyah menyentuh bahu Arka.
“Mas Arka… bangun,” bisiknya lembut.
Arka perlahan membuka matanya, kelopak matanya yang berat mengangkat sedikit demi sedikit. Ia tersenyum kecil, suaranya masih berat karena baru bangun.
“Hmm... kamu sudah bangun, sayang?”
Pipi Safiyah langsung merona. Hatinya berdebar. Sapaan “sayang” itu terdengar begitu tulus.
“Iya, Mas. Bangun, terus... kita salat subuh bareng, ya.”
Arka mengangguk dan bangkit dari tempat tidur, kemudian masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian salat lengkap. Dengan suara tenangnya, Arka mengimami Safiyah dalam salat subuh pertama mereka sebagai suami istri.
Selesai salam terakhir, Safiyah menunduk dan mencium punggung tangan suaminya penuh hormat, dan Arka membalas dengan mengecup lembut kening Safiyah.
Mereka berdua kemudian kembali berbaring, menyelimuti tubuh dengan kehangatan yang bukan hanya berasal dari selimut, tapi juga dari hati yang perlahan saling menerima.
“Masih sakit, sayang?” tanya Arka penuh perhatian.
Safiyah menggeleng sambil tersenyum malu. “Nggak, Mas.”
“Terima kasih ya… buat malam yang indah,” ucap Arka sambil membelai rambut istrinya.
Safiyah hanya mengangguk pelan. Tatapan matanya yang jernih menyimpan rasa syukur dan haru. Arka tersenyum geli.
“Hmm, sepertinya istri Mas Arka mendadak jadi bisu, ya?” candanya.
Alih-alih menjawab, Safiyah justru memeluknya lebih erat, menyandarkan wajahnya ke d**a Arka.
“Semalam adalah malam yang indah buat Safiyah juga, Mas...”
Arka menarik tubuh istrinya lebih dekat, mengusap punggungnya dengan lembut. “Jadi... mau dilanjutkan lagi?” godanya pelan.
“Nggak!” jawab Safiyah cepat, membuat Arka tertawa renyah.
Ia mencium ubun-ubun Safiyah, lalu memeluknya dengan damai.
“Tidurlah, sayang. Istirahat dulu. Nanti siang kita cari kampus yang cocok buat kamu, ya.”
“Makasih, Mas…”
“Iya, sayang…”
Di balik keheningan kamar itu, tumbuh perlahan sebuah ikatan yang mulai terasa nyata. Bukan hanya pernikahan yang dipaksakan oleh keadaan, tapi mungkin... awal dari cinta yang pelan-pelan menemukan tempatnya.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang saat sinar matahari menyusup lembut melalui sela tirai jendela. Safiyah menggeliat pelan, membuka mata perlahan. Di sampingnya, Arka sudah lebih dulu terjaga, namun enggan beranjak. Ia memandangi wajah istrinya yang masih tampak polos dalam balutan kantuk.
“Gimana, enak tidurnya?” bisiknya sambil tersenyum.
Safiyah mengangguk kecil, masih setengah mengantuk.
“Hmm… iya, Mas. Enak.”
Arka menyelipkan rambut yang jatuh di wajah Safiyah ke belakang telinga, lalu bertanya lagi,
“Kamu lapar, nggak?”
Safiyah menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Iya, Mas…”
“Ya sudah, kita ke bawah. Makan siang bareng, ya.”
Safiyah pun bangkit, merapikan pakaiannya dan mengenakan kerudung lembut warna krem. Arka menggandeng tangannya dengan santai, membawanya turun ke lantai satu. Di meja makan, Bi Ijah sudah menyiapkan hidangan istimewa—nasi hangat, ayam goreng bumbu kuning, sayur asem, sambal terasi, dan es jeruk segar. Aroma masakan rumah membuat perut keduanya langsung bersuara.
“Silakan, Mas, Mba Safiyah,” ucap Bi Ijah ramah.
Mereka duduk berdampingan. Makan siang itu terasa begitu hangat, tidak hanya karena masakan Bi Ijah yang lezat, tapi karena tawa ringan dan percakapan kecil yang mulai tumbuh di antara dua insan yang dulu nyaris asing.
Selesai makan, Arka dan Safiyah berganti pakaian, lalu masuk ke dalam mobil hitam Arka. Siang itu, mereka berkeliling Bogor, menyusuri beberapa kampus pilihan. Safiyah menatap keluar jendela dengan semangat baru yang menyala di matanya—semangat yang lama terkubur oleh luka dan ketakutan.
Sampai akhirnya, mereka berhenti di sebuah kampus swasta yang asri, teduh dengan pohon rindang dan suasana akademik yang nyaman.
“Gimana, kamu suka tempat ini?” tanya Arka.
Safiyah tersenyum pelan.
“Suka, Mas… suasananya tenang, dan jurusan yang aku mau juga ada.”
Ia memilih Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris—jurusan yang sejak SMA sudah ia impikan. Tanpa menunda, Arka langsung mengurus administrasi pendaftaran, membayar lunas untuk satu tahun pertama, termasuk biaya SPP, perlengkapan, dan seragam kampus.
Setelah semuanya selesai, mereka keluar dari kampus dengan hati lega. Matahari mulai condong ke barat, dan Arka melirik jam tangannya.
“Mau jalan-jalan sebentar? Mumpung cuaca bagus.”
“Boleh…” jawab Safiyah pelan, matanya berbinar.
Mobil Arka pun melaju menyusuri kota hujan. Mereka singgah ke kebun raya, menyusuri taman yang hijau sambil bergandengan tangan. Di sana, Safiyah tertawa untuk pertama kalinya dengan lepas, dan Arka merasa dadanya hangat melihatnya begitu bahagia.