Hari itu, seperti biasa, dokter Arka menjalani rutinitasnya di Rumah Sakit Intra Medika. Senyumnya merekah hangat, bak kue bolu yang baru matang—lembut, hangat, dan mengundang. Sosoknya yang lugas, pintar, dan cekatan membuat namanya semakin dikenal di kalangan pasien dan perawat. Ia bukan hanya dokter muda yang cerdas, tapi juga memiliki empati yang tulus, hingga banyak pasien merasa nyaman saat ditangani olehnya.
Meski usia pernikahannya masih seumur jagung dan pernikahan itu masih diselimuti rahasia, Arka menyimpan kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apapun.
Sore menjelang, setelah jam praktik selesai, Arka pulang ke rumah kontrakannya—rumah kecil yang sederhana di pinggir kota. Rumah itu jauh dari kemewahan, bahkan jauh dari fasilitas layaknya rumah keluarga dokter pada umumnya. Tapi begitu ia membuka pintu, hatinya selalu merasa pulang dengan sempurna.
Di ambang pintu, berdiri seorang gadis mungil berseragam daster biru muda, dengan senyum manis yang tak pernah gagal meluluhkan hatinya.
"Sudah pulang, Mas?" ucap Safiyah, lembut dan penuh cinta.
Arka tersenyum, langkahnya ringan menghampiri istrinya. "Sudah, Sayang. Rumah ini selalu jadi tempat paling aku rindukan setiap hari."
Tak ada sofa empuk, tak ada pendingin ruangan. Hanya tikar rotan yang digelar di ruang tamu, sepiring tempe goreng, dan segelas teh hangat. Tapi di sanalah Arka merasa menjadi pria paling beruntung. Bahagianya bukan karena harta, tapi karena cinta tulus yang ia temukan dalam pelukan Safiyah.
Kemesraan Arka dan Safiyah tak pernah luntur. Waktu seakan memperkuat ikatan yang telah terjalin di antara keduanya. Setiap malam, di balik dinding rumah kontrakan yang sederhana, mereka saling menemukan kehangatan—dalam pelukan, dalam desah rindu, dalam bisikan cinta yang tak pernah bosan terucap. Di sana, cinta tak hanya berwujud kata, tapi juga dalam sentuhan penuh makna.
Sudah tiga bulan mereka menjalani kehidupan sebagai suami istri. Tiga bulan yang terasa seperti mimpi bagi Safiyah—yang dulunya hanya tidur di ruang sempit seperti gudang, kini memiliki rumah meski kecil namun penuh kasih dan kepastian. Setiap pagi ia menyambut suaminya dengan teh hangat dan senyum tulus, dan setiap malam ia ditenangkan oleh pelukan yang tak pernah membuatnya merasa sendiri lagi.
Suatu sore, sambil duduk di depan teras rumah kontrakan mereka yang menghadap jalan raya, Safiyah membuka pembicaraan dengan hati-hati.
“Mas, aku ada rencana... Mau buka warung kecil di depan rumah ini. Jual gorengan, kopi, teh manis... siapa tahu bisa bantu ekonomi kita pelan-pelan,” ucapnya dengan nada penuh harap.
Arka menoleh, menatap wajah istrinya yang mulai terlihat matang dalam berpikir. Ia tahu betul bagaimana gigihnya Safiyah. Namun, sebagai suami, ia tak ingin wanita yang dicintainya itu terlalu lelah.
“Boleh... Tapi ada satu syarat,” jawab Arka pelan.
“Apa itu, Mas?” tanya Safiyah, gugup.
Arka mengusap rambut istrinya lembut. “Kamu nggak boleh capek. Harus istirahat cukup. Aku nggak mau kamu sakit.”
Safiyah mengangguk pelan, senyumnya mengembang. “Iya, Mas. Aku janji.”
Rencana itu tak hanya menjadi wacana. Safiyah pun dibantu oleh tetangganya yang baik hati, Novi—seorang wanita tangguh yang pernah bernasib sama: ditinggal suami yang selingkuh dan harus membesarkan anaknya seorang diri. Sejak pertemuan pertama, Safiyah dan Novi saling mengenali luka, dan dari situlah tumbuh kekuatan.
“Aku bantu sebisaku, Fi,” ujar Novi saat mereka mulai merapikan bagian depan rumah untuk dijadikan warung kecil. “Aku tahu gimana rasanya hidup dari nol. Kita bisa saling topang.”
Dua perempuan yang pernah dipukul nasib, kini saling menggenggam harapan. Dan dari rumah kecil di pinggir jalan itu, perlahan cinta, kerja keras, dan ketulusan mereka mulai menyalakan cahaya masa depan.
Pukul tiga pagi, Safiyah sudah terjaga. Ia bangkit dengan semangat, meski mata masih berat, namun hati terasa ringan. Di dapur kecil rumah kontrakan mereka, ia mulai menanak nasi uduk dan nasi kuning, menghangatkan sayur lodeh untuk lontong sayur, dan menyiapkan lauk pelengkap: sambal goreng, bihun, tempe orek, dan telur balado. Aroma harum mulai menyebar, seakan-akan mengundang pagi untuk datang lebih cepat.
Warung kecil di depan rumah itu dibuka saat azan subuh berkumandang. Meja kayu panjang, termos besar berisi teh manis, dan papan kecil bertuliskan:
"Warung Nasi Bu Safiyah – Pagi Ceria, Perut Bahagia"
Hari pertama berjualan, sambutan warga sekitar cukup hangat. Banyak ibu-ibu yang belum sempat memasak sarapan untuk anak dan suami mereka, mampir membeli. Ada yang membeli dibungkus, ada juga yang memilih duduk di bangku kecil sambil menyeruput teh manis hangat. Beberapa bahkan memuji rasa masakan Safiyah yang gurih dan terasa seperti masakan rumah.
“Lontong sayurnya enak banget, Dek. Rasa bumbunya pas,” ujar salah satu ibu-ibu.
“Bener, kayak masakan emak saya dulu,” sahut yang lain.
Sementara itu, dokter Arka yang sedang libur dari rumah sakit membantu dari dalam rumah. Ia mengganti popok Yusuf, memandikannya, lalu menyuapi sarapan sambil bermain pesawat-pesawatan. Gelak tawa Yusuf terdengar sampai teras depan, membuat suasana makin hidup.
Tak hanya itu, saat melihat warung Safiyah mulai ramai dan sang istri kewalahan, Arka dengan santai ikut turun tangan. Ia membantu menyendokkan nasi, mengambil pesanan, dan kadang ikut menghitung kembalian.
Begitu Arka muncul di warung, suasana langsung berubah.
“Ya ampun, itu suaminya, ya?” bisik salah satu ibu sambil menepuk temannya.
“Iya, ganteng banget. Kayak aktor Korea tapi lebih maskulin!” sahut ibu lain sambil tertawa kecil.
Arka hanya tersenyum geli setiap kali dipuji. Ia tahu betul ibu-ibu kompleks suka menggoda, apalagi kalau tahu dirinya adalah dokter. Tapi ia tetap santun, menjawab dengan senyum, dan sesekali melontarkan candaan ringan.
Safiyah? Bukannya cemburu, ia justru tertawa geli dari belakang meja. Ia sudah tahu benar siapa suaminya dan bagaimana cara Arka menjaga sikap.
“Nanti, warung ini bukan cuma dikenal karena nasi uduknya, Mas,” canda Safiyah sambil menyendokkan bihun ke bungkus pembeli.
“Kenapa?” tanya Arka sambil melayani pembeli lain.
“Karena suaminya jadi daya tarik utama,” jawabnya sambil terkekeh. Arka ikut tertawa.
Anehnya, setiap kali Arka membantu, warung selalu lebih ramai. Apalagi para ibu-ibu kompleks yang seakan-akan menyesuaikan jam belanjanya dengan jadwal libur Arka. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang tidak berubah—cinta dan kerja sama mereka sebagai suami istri, yang membalut kehidupan sederhana dengan rasa syukur dan tawa.
Tiga bulan telah berlalu sejak Safiyah membuka warung kecilnya di pinggir jalan. Usaha itu perlahan berkembang, pelanggannya makin banyak, dan senyum Safiyah pun semakin sering mengembang. Namun ada kabar yang lebih membahagiakan dari itu semua: Safiyah tengah mengandung anak kedua.
Saat Safiyah menunjukkan hasil test pack dua garis merah pada Arka, pria itu sempat terpaku. Matanya membesar, lalu berkilat bahagia. “Benar ini, Fi? Kita mau punya anak lagi?” tanyanya dengan suara pelan, seolah takut kabar bahagia itu menguap seperti mimpi.
Safiyah mengangguk pelan, senyum hangat mengembang di wajahnya. Dan sejak saat itu, Arka menjadi suami paling siaga di muka bumi.
Ia tak membiarkan istrinya kelelahan. Warung tetap buka, tapi tugas-tugas berat perlahan diambil alih oleh Arka dan Novi. Safiyah hanya membantu sebatas yang ia sanggupi. “Kamu itu barang pecah belah sekarang,” ucap Arka suatu pagi sambil mengikat celemeknya. “Harus dijaga, disayang, dan jangan dijatuhkan.”
Perhatian Arka bukan basa-basi. Ia bangun lebih pagi, menyiapkan air hangat, menyiapkan sarapan, bahkan dengan sabar memenuhi semua ngidam aneh istrinya.
Mulai dari minta rujak tengah malam, nasi goreng pete jam dua pagi, sampai hanya ingin teh manis yang diseduh Arka sendiri karena katanya beda rasanya jika orang lain yang buat. Arka melayani semuanya dengan senyum, bahkan sering menggodanya.
“Mau bayi kita nanti lahir dengan lidah penuh rasa kayak bundanya, ya?” canda Arka sambil menyuapkan potongan mangga muda.
Namun yang paling menyentuh bagi Safiyah adalah setiap malam menjelang tidur, Arka akan mengelus perutnya yang masih rata, sambil berbicara dengan lembut pada bayi mereka.
“Assalamualaikum, anak Papa. Hari ini Mama kamu capek nggak? Jangan nakal ya di dalam sana,” bisiknya sambil tersenyum hangat.
Arka juga selalu mendampingi Safiyah saat kontrol ke dokter kandungan. Setiap kali melihat layar USG, ia tak pernah bosan merasa takjub. Melihat sosok kecil yang sedang tumbuh di dalam perut istrinya membuat matanya berembun.
“Dulu waktu kamu hamil Yusuf, aku... nggak ada di samping kamu,” ucapnya suatu malam dengan nada penuh penyesalan.
Safiyah menggenggam tangannya lembut. “Tapi sekarang Mas ada. Itu lebih dari cukup.”
Dan memang, Arka kini benar-benar ada. Ia hadir, bukan hanya secara fisik tapi juga batin. Menebus semuanya—dengan cinta, dengan waktu, dan dengan ketulusan tanpa batas.
Waktu berjalan begitu cepat. Usia kandungan Safiyah kini telah menginjak bulan ketujuh. Perutnya semakin membesar, geraknya pun mulai melambat. Namun, wajahnya tetap bersinar, dipenuhi cahaya cinta dan kehangatan rumah tangga.
Arka menjadi semakin protektif. Ia tak membiarkan istrinya terlalu lelah. Ia tahu warung mereka makin ramai, dan kini Arka mengambil keputusan penting: mempekerjakan satu orang lagi. Seorang gadis tangguh bernama Mba Naning dari pesantren tempat Novi dulu mengaji, datang membantu.
Naning dan Novi cepat akrab. Keduanya kompak saling bahu membahu, mulai dari belanja bahan baku subuh hari, menata meja warung, hingga melayani pelanggan yang tak kunjung sepi. Safiyah mulai lebih banyak beristirahat, duduk mengawasi sambil sesekali tersenyum melihat kesibukan di depan rumahnya.
Tapi pagi itu berbeda.
Di seberang jalan, sebuah mobil mewah berhenti. Seorang wanita anggun dengan pakaian elegan turun dari dalamnya, Ibu Karina—ibu kandung Arka. Ia tak langsung turun, melainkan duduk mematung di kursi penumpang belakang sambil menatap warung kecil yang ramai di depan rumah kontrakan sederhana itu.
Air matanya menetes.
Hatinya tergetar melihat anak sulungnya, Arka, melayani pembeli dengan celemek di pinggang. Ia melihat Arka tertawa, membantu mengambilkan lontong sayur, bahkan membantu Novi menyapu sisa nasi yang jatuh di meja. Bukan karena sedih, tapi karena ia tak menyangka anak yang dulu ia besarkan di rumah megah di Bandung, kini hidup begitu bersahaja—namun tampak sangat bahagia.
Tak bisa menahan rindunya, Ibu Karina akhirnya turun.
Langkahnya perlahan menyusuri trotoar, hingga sampai di depan warung. Arka yang tengah mengantar pesanan melihat sosok itu, sontak terkejut dan menghentikan langkahnya.
“Mama?”
Ibu Karina membuka tangan, dan tanpa banyak kata, Arka segera memeluknya. Pelukan itu lama. Hangat. Penuh perasaan yang selama ini terpendam. Air mata mengalir di pipi keduanya. Pelanggan warung sesaat terdiam, menyaksikan pemandangan penuh haru itu.
Setelah beberapa saat, Arka mempersilakan sang ibu masuk ke dalam rumah kontrakannya. Ibu Karina duduk di karpet ruang tamu yang sederhana, kipas angin menyala pelan, menemani kehangatan yang tak bisa dibeli dengan kemewahan manapun.
Tak lama kemudian, Safiyah keluar dari dapur, membawa nampan berisi teh manis hangat dan piring berisi pisang goreng kesukaan Arka. Meski perutnya besar, wajahnya tetap lembut, dan senyum tulus tak pernah lepas dari wajahnya.
“Silakan, Mama... maaf rumahnya sederhana,” ucap Safiyah sopan.
Ibu Karina hanya menatap menantu yang belum pernah ia temui sebelumnya. Bukan dengan sinis, bukan pula dengan kaget. Tapi dengan mata yang penuh kekaguman.
“Terima kasih, Nak. Kamu luar biasa,” ucapnya pelan.
Arka membantu istrinya duduk, mengangkat kakinya, menyandarkannya agar tak terlalu tegang. Ia bahkan merapikan bantal kecil di punggung Safiyah, membuat ibunya terdiam haru.
Di tengah kesederhanaan rumah itu, Ibu Karina menyaksikan cinta yang nyata. Tak ada sofa empuk, tak ada meja marmer, tapi ada cinta yang hadir di setiap gerak, di setiap tatap, di setiap pelayanan kecil antara suami dan istri.
Dan di sanalah, Ibu Karina tahu bahwa anaknya mungkin hidup sederhana...
Tapi ia sangat kaya akan kebahagiaan.