Bab 12

1586 Words
Arka tak bisa lagi menahan hasratnya. Begitu Safiyah berada di hadapannya, tatapan mata yang penuh kerinduan itu tak bisa lagi disembunyikan. Ia menarik Safiyah mendekat, dan tanpa menunggu, bibirnya langsung mendarat di bibir Safiyah yang telah lama ia rindukan. Ciuman itu dalam, sarat emosi yang tertahan. Ia tak hanya mencium bibir, tapi juga seluruh wajah Safiyah, dari kening, pipi, hingga dagu, seolah ingin memastikan kembali bahwa wanita itu benar-benar ada di pelukannya. Gairah keduanya melonjak, memanas di antara kerinduan yang mendalam. Arka mendorong tubuh Safiyah perlahan hingga merapat ke dinding. Ciumannya turun, meluncur di leher jenjang Safiyah, lalu membasahi area dadanya. "Mas Arka... ahh..." desah Safiyah, tubuhnya melengkung, merasakan setiap sentuhan dan ciuman yang diberikan Arka. Arka tak berhenti, terus menghujani Safiyah dengan ciuman dan sentuhan yang membakar, membawa mereka kembali ke dalam pusaran gairah yang sudah lama terpendam. Pakaian Arka dan Safiyah terlepas, jatuh begitu saja ke lantai. Arka mendudukkan Safiyah di sebuah kursi kayu kokoh. Safiyah meraih sandaran ranjang dan lemari, mencengkeramnya erat dengan kedua tangannya, tubuhnya sedikit gemetar. Di bawah sana, Arka merendahkan dirinya. Lidahnya mulai menari, memainkan setiap lekuk di daerah intim Safiyah. Desahan yang dalam dan tertahan lolos dari bibir Safiyah, berusaha ia redam agar tidak keluar dari kamar. "Mas Arka... ahh..." desahnya berulang-ulang, tertahan namun penuh gairah. Tak lama kemudian, Safiyah merasakan "pusaka" Arka masuk ke daerah intimnya, dalam posisi duduk di kursi kayu. Arka bergerak perlahan, memberi waktu bagi Safiyah untuk menyesuaikan diri. Desahan dan erangannya tertahan, namun gerakannya semakin cepat dan bertenaga. Gelombang kenikmatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh Safiyah. Puncak kenikmatan itu pun tiba, menghempaskan keduanya. Tubuh mereka bergetar hebat, dan cairan kenikmatan itu melebur, membanjiri rahim Safiyah. Napas keduanya masih memburu, memecah keheningan di dalam kamar. Arka berjalan perlahan, memunguti pakaiannya dan pakaian Safiyah yang berserakan di lantai. Dengan gerakan lembut, ia mengenakan kembali kemejanya. Safiyah pun tersenyum tipis, ikut mengenakan pakaiannya. Setelah berpakaian kembali, Arka merebahkan diri di samping Safiyah. Mentari pagi belum sepenuhnya menampakkan sinarnya, namun udara segar khas pesantren Al Hikmah sudah menyelimuti rumah Kyai Hasyim. Di kamar sederhana itu, Arka dan Safiyah masih terlelap. Di antara mereka, Yusuf tertidur dengan tenang, tangan mungilnya memeluk lengan Arka, seolah takut ayahnya akan menghilang lagi dari kehidupannya. Namun tak lama, suara azan subuh dari masjid pesantren membangunkan mereka. Arka membuka matanya lebih dulu, menatap Safiyah yang masih terlelap. Ia tersenyum, lalu perlahan bangkit dan membangunkan sang istri. “Sayang, ayo shalat subuh,” bisiknya pelan. Safiyah mengangguk, perlahan bangkit dan mengusap wajahnya. Mereka lalu bersiap dengan perlengkapan salat masing-masing. Arka mengenakan koko putih bersih dan sarung, sementara Safiyah memakai mukena berenda putih yang diberikan umi Hamidah malam sebelumnya. Arka berjalan ke masjid bersama Dokter Yuda, Ustad Musa, dan Kyai Hasyim, langkah mereka khidmat dan teratur. Di belakang, Safiyah berjalan dengan Alesha, Aisyah, dan Umi Hamidah. Semua terlihat damai dalam kebersamaan spiritual itu. Usai salat subuh dan doa bersama, Safiyah bersama Mba Naning membantu Umi Hamidah di dapur. Aroma bawang goreng dan sayur bening mulai menguar, menambah kehangatan pagi itu. Di rumah utama, Yusuf sudah bangun dan merengek pelan. Arka segera menghampiri dan menggendong anaknya. “Bangun ya, jagoan kecil Abi,” ujarnya sambil menggelitik perut Yusuf. Tawa Yusuf pun meledak, membangunkan tawa kecil dari Arka juga. Tak lama kemudian, Dokter Yuda muncul sambil menggendong anaknya, Fathir. “Pagi, Om Yusuf,” sapa Yuda sambil mengayun-ayunkan Fathir. Kedua anak kecil itu diletakkan di atas tikar di ruang tamu, saling menyentuh tangan dan tertawa—seolah bahasa bayi mereka saling memahami. “Gimana rasanya jadi suami sah dan ayah seutuhnya?” tanya Dokter Yuda menggoda. Arka hanya tertawa kecil, lalu mengangkat bahu. “Rasanya... kayak hidup baru dimulai dari nol lagi, tapi kali ini jalannya benar.” “Ya iyalah. Bayangin, istri cantik, anak lucu, keluarga pondok yang hangat, dan yang paling penting... ada sahabat paling keren yang bantuin dari awal,” celetuk Yuda sambil menepuk pundaknya sendiri. Arka tertawa geli, “Kamu butuh pujian, Dok?” Yuda mengangguk serius, “Tentu. Minimal kopi dan pisang goreng buatan Safiyah. Itu harga jasa saya.” Tawa mereka pun kembali mewarnai ruang tamu, diiringi suara tawa anak-anak mereka yang mulai tumbuh dalam lingkungan penuh kasih dan doa. Setelah sarapan sederhana bersama keluarga pesantren, suasana pagi itu penuh kehangatan dan canda ringan. Namun, waktu terus berjalan. Alesha harus kembali ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya. Arka, Safiyah, dan Yusuf bersiap mengantarkan Alesha ke bandara menggunakan mobil yang dipinjamkan oleh Kyai Hasyim. Yusuf duduk di pangkuan Safiyah, mengenakan kemeja kecil dan celana pendek, sesekali tertawa melihat burung-burung beterbangan di sepanjang jalan. Dokter Yuda, Aisyah, dan anak mereka, Fathir, ikut mengantar sampai ke halaman pesantren. “Titip salam buat mama Karina, ya Lesh,” ujar Aisyah sambil memeluk Alesha. “Iya kak Aisyah, terima kasih banyak,” jawab Alesha dengan senyum hangat. Perjalanan menuju bandara diiringi obrolan ringan. Alesha bercerita banyak hal tentang Jepang, tentang rindu rumah, dan juga rasa syukurnya bisa melihat pernikahan kakaknya berjalan dengan indah meski penuh perjuangan. Setibanya di bandara, suasana berubah menjadi haru. Alesha berdiri di hadapan Arka dan Safiyah. Ia memeluk Safiyah erat. “Terima kasih sudah membuat kakakku bahagia, Mbak Safiyah. Jaga diri baik-baik, ya.” Safiyah memeluknya balik, menahan air mata. “Kamu juga hati-hati di sana. Fokus kuliah, jangan lupa kabari mama.” Lalu Alesha beralih memeluk kakaknya. “Kak Arka… akhirnya kamu sampai di titik ini juga. Aku bangga.” Arka memeluk adiknya dengan hangat. “Jaga diri baik-baik di sana, Lesh. Terima kasih karena kamu datang dan mendukung pernikahan kami.” Kemudian, Alesha membungkuk pelan mencium pipi Yusuf yang berada di gendongan Safiyah. “Daaaah Yusuf, tante pergi dulu, nanti tante kirimin mainan dari Jepang yaaa.” Yusuf melambaikan tangan kecilnya. “Daa… tante Ayesa…” Alesha tertawa haru. “Ya Allah, dia manggilku Ayesa.” Arka dan Safiyah melambaikan tangan ketika Alesha berjalan memasuki ruang keberangkatan. Alesha menoleh sejenak, mengangkat tangan dan mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum…” “Wa’alaikumussalam,” jawab Arka dan Safiyah bersamaan, masih berdiri di tempat yang sama sampai bayangan Alesha tak lagi terlihat. Sore itu, angin semilir membawa aroma tanah basah selepas hujan. Arka dan Safiyah berdiri di depan serambi rumah Kyai Hasyim. Dengan penuh hormat, mereka berpamitan. "Titip salam untuk para santri ya, Pak Kyai... Umi," ucap Arka sambil membungkukkan badan. "Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, nak," balas Umi Hamidah dengan senyum tulus, lalu mengecup kening Yusuf. “Jaga Yusuf baik-baik, ya.” Setelah pamit, Arka memesan mobil online. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan pesantren. Safiyah turun lebih dulu, menggendong Yusuf yang tertidur pulas di pundaknya. Sementara Arka memanggul koper besar dan tas-tas milik istrinya dan anaknya. Perjalanan ke kontrakan mereka sunyi namun hangat. Pandangan Safiyah sesekali menoleh pada Arka yang menatap ke luar jendela, seolah sedang menyusun rencana masa depan mereka. Setibanya di rumah kontrakan yang mungil dan bersahaja, Arka membuka pintu dengan pelan. “Semoga kamu suka sayang... rumah kontrakan ini sederhana, tapi semoga nyaman buat kamu dan Yusuf.” Safiyah tersenyum hangat. “Iya mas... selama bersama mas Arka, Safiyah akan selalu betah dan nyaman... sekalipun tinggal di gubug.” Arka menatap istrinya penuh haru, memeluknya sebentar. “Makasih sayang... sudah menerima mas Arka yang serba kekurangan ini.” Safiyah menurunkan Yusuf dengan hati-hati ke atas kasur kecil di sudut kamar. Arka meletakkan koper dan tas, lalu ikut duduk bersila di lantai, menyaksikan istrinya mulai merapikan isi koper. Gantungan baju mulai diisi, lemari kecil mulai tertata rapi dengan pakaian Yusuf di susunan paling bawah. Arka mendekat pelan, mengulurkan tangan membantu mengambil baju. “Yang ini lipatan kamu kurang rapi nih,” godanya pelan. Safiyah menoleh sambil tersenyum manja. “Mas... kalau bantu ya bantu... jangan malah kritik.” “Hehehe, iya iya... cuma biar kamu sering ngajak mas ngobrol aja.” Mereka tertawa pelan bersama, seolah dunia luar tak penting. Di rumah sederhana itu, cinta dan kebahagiaan mulai bertumbuh, dari hal-hal kecil, dari tawa lembut, dan dari rasa saling memiliki. Sore menjelang maghrib, langit Banyuwangi tampak redup berwarna keemasan. Arka keluar dari rumah kontrakan dengan motor matic tuanya, melaju pelan menuju warung makan langganan. Sementara itu, di dalam rumah, Safiyah baru saja selesai membersihkan diri dan berganti pakaian santai: gamis sederhana warna pastel dan kerudung segi empat yang dilipat rapi. Tak lama, suara rengekan kecil terdengar dari kamar. “Yusuf bangun ya, Nak?” ucap Safiyah lembut, segera menghampiri dan menggendong bocah kecil itu. Yusuf mengucek matanya dan tersenyum melihat wajah ibunya. Safiyah mendekapnya erat, mencium pipinya yang hangat. “Ayo kita mandi dulu ya sayang,” bisik Safiyah, penuh kasih. Di kamar mandi, Safiyah memandikan Yusuf dengan sabun bayi, sesekali Yusuf merengek karena air dingin, namun tawa kecilnya terdengar saat ibunya mencipratkan air ke perut mungilnya. Setelah bersih, Yusuf digendong lagi, dibalut handuk kecil, lalu digantikan pakaian santai bergambar hewan kesukaannya. Setelah itu, mereka berdua duduk di ruang tengah. Safiyah menyalakan TV, memilih acara anak-anak yang edukatif. Yusuf duduk di pangkuannya, terkekeh-kekeh melihat animasi lucu di layar kaca. “Lucu ya, Nak? Tuh kelinci loncat-loncat,” kata Safiyah sambil mencubit pipi Yusuf ringan. Yusuf tertawa lepas, lalu menoleh dan mencium pipi ibunya dengan polos. “Abi mana, Ma?” tanyanya dengan suara cadel. Safiyah tertegun sejenak, lalu tersenyum sambil membelai rambut Yusuf. “Abi lagi beli makan kesukaan kamu, nanti pulang deh,” jawabnya pelan, sembari memeluk Yusuf lebih erat. Sore itu, meski dalam kesederhanaan, rumah mungil mereka penuh dengan tawa kecil dan cinta tulus. Safiyah tersenyum menatap anaknya, lalu memandang ke luar jendela, menunggu suaminya pulang membawa makanan—dan rasa aman yang selalu ia rindukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD