Bab 11

1477 Words
Di Rumah Belakang Pesantren – Sore Hari Setelah pelukan hangat yang penuh haru, Alesha membuka tas kecil beludru biru dan menyerahkannya ke pangkuan Safiyah. > “Ini, Mbak. Mama Karina yang titip. Satu set perhiasan untuk Mbak Safiyah. Katanya, ini hadiah kecil sebagai lambang penerimaan Mama atas pernikahan Kak Arka dan Mbak.” Safiyah menggeleng cepat, suaranya serak tertahan. > “Alesha... Aku nggak bisa terima. Aku—aku bukan siapa-siapa. Aku bukan dari keluarga terpandang seperti kalian...” Alesha menggenggam tangan Safiyah dengan penuh keyakinan. > “Mbak, tolong jangan tolak kasih sayang Mama Karina. Ini bukan tentang harga atau status, tapi tentang restu dan cinta. Mbak adalah kakak ipar yang pantas, bukan karena harta, tapi karena cinta dan ketulusan hati.” Safiyah diam, air matanya menetes perlahan. Akhirnya, ia menerima kotak perhiasan itu. Alesha pun mengangkat ponselnya. > “Mbak... kita video call Mama Karina, ya. Mama pengin banget lihat Mbak.” Safiyah hanya mengangguk pelan. Layar ponsel menyala, memperlihatkan wajah lembut Mama Karina yang sedang duduk di ruang keluarga. > “Assalamu’alaikum, Ma...” “Wa’alaikumussalam, sayang. Kamu sudah sampai di Banyuwangi?” > “Sudah, Ma. Dan… ada yang ingin bicara sama Mama,” ucap Alesha sambil memberikan ponsel ke Safiyah. Safiyah menarik napas panjang, menahan gemetar di bibirnya. > “Assalamu’alaikum, Mama…” Mama Karina terdiam beberapa detik. Matanya membelalak, lalu mulai berkaca-kaca. > “Wa’alaikumussalam… suara ini… Masya Allah… kamu… kamu yang dulu menolong Mama di pasar, waktu dihadang preman itu?” Safiyah mengangguk perlahan, air matanya jatuh. > “Iya, Mama. Waktu itu saya belum tahu siapa Mama sebenarnya…” Mama Karina menahan haru. Suaranya bergetar. > “Ya Allah… sekarang kamu jadi menantu Mama. Betapa indah takdir Allah. Mama ridha… Mama bahagia. Safiyah, kamu perempuan hebat. Mama doakan kamu dan Arka membina keluarga sakinah, mawaddah, warahmah…” > “Terima kasih, Mama… mohon doa restunya ya Ma…” > “Selalu, Nak. Mama tahu, kamu wanita baik. Walau Papanya Arka belum bisa menerima kamu, Mama yakin hatinya akan luluh. Waktu yang akan menyadarkannya.” > “Insya Allah, Ma. Saya ikhlas…” > “Boleh Mama lihat cucu Mama?” Alesha membalikkan kamera, memperlihatkan Yusuf yang tertidur di ranjang. > “Masya Allah… cucu Mama... mirip banget sama Arka waktu kecil. Lihat itu alisnya…” Safiyah tak kuasa menahan air mata. Hangatnya sambutan Mama Karina membuat hatinya tenang. > “Terima kasih, Mama… Safiyah janji akan menjaga Arka dan Yusuf sebaik mungkin…” > “Mama yakin, Nak. Mama tunggu saat bisa memeluk kalian bertiga.” Video call berakhir dengan doa yang hangat, dan hari itu jadi salah satu hari paling bermakna dalam hidup Safiyah. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Langit malam telah menggelap sempurna, angin sejuk Banyuwangi menyapu halaman pesantren Al Hikmah. Usai salat Isya berjamaah, para santri dan keluarga besar Kyai Hasyim berkumpul di aula utama. Arka duduk tegak di hadapan penghulu. Wajahnya tenang namun sorot matanya tegas dan penuh keyakinan. Kali ini, tak ada rahasia. Tak ada lagi pintu yang tertutup. Di hadapannya ada kitab nikah, pena, dan saksi-saksi yang sah. Safiyah duduk anggun di barisan perempuan, mengenakan gamis putih dan kerudung putih. Busana yang sama seperti saat pertama kali ia menikah secara sirri dengan Arka—namun kini wajahnya dirias lembut oleh tangan Alesha, adik perempuan Arka, yang tampak ikut terharu. Ijab kabul pun dimulai. Suara penghulu mengalun dengan wibawa. Dan Arka, dengan suara lantang dan mantap, mengucapkan kalimat ijab kabul untuk kedua kalinya dengan wanita yang sama… wanita yang begitu ia cintai. "Saya terima nikahnya Safiyah binti Rahman dengan mas kawin tersebut, tunai!" Hening. Lalu suara para saksi menggema serempak, > “SAH!” Semua mata menitikkan air haru. Tidak ada lagi yang disembunyikan. Kini Arka dan Safiyah resmi menjadi suami istri, secara agama, negara, dan di hadapan masyarakat. Alesha dan Aisyah Hanum menuntun Safiyah berdiri, lalu melangkah pelan menghampiri suaminya. Wajah Safiyah bersinar dalam riasan sederhana—ia tampak begitu cantik dan tenang. Arka berdiri, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kilasan kenangan tiba-tiba berkelebat di benaknya—saat pertama kali ia menikahi Safiyah secara diam-diam di sebuah kamar hotel. Saat itu, tanpa saksi dan doa, hanya hitam di atas putih dengan perjanjian yang menyakitkan. Kini semuanya berbeda. Lebih mulia. Lebih berarti. Safiyah menghampiri Arka, lalu menunduk, mengecup punggung tangan suaminya penuh takzim. Arka membalasnya dengan lembut, menyentuh ubun-ubun kepala Safiyah dan melantunkan doa. > “Ya Allah… jadikanlah istriku ini bidadari yang menentramkan jiwa, penyejuk hati dan penguat langkahku…” Ia mengecup keningnya pelan. Lalu, keduanya duduk berdampingan dan bersama-sama menandatangani buku nikah. Tangan Safiyah gemetar ketika pena menyentuh kertas—tak pernah terlintas dalam hidupnya bahwa ia akan menikah kembali dengan lelaki yang sama, namun kali ini ia benar-benar menjadi istri yang sah di mata negara. Air mata kebahagiaan jatuh dari pelupuk matanya saat ia menyerahkan pena pada penghulu. Acara dilanjutkan dengan ucapan selamat dan doa dari Kyai Hasyim, Umi Hamidah, Ustaz Musa, dan para santri. Alesha memeluk kakaknya sambil membisikkan, > “Selamat, Kak… akhirnya semua jadi terang.” Arka tersenyum. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, hatinya merasa benar-benar damai. Setelah prosesi akad nikah yang mengharukan, suasana berubah menjadi meriah. Para santri, keluarga besar Kyai Hasyim, dan para tamu mulai menikmati hidangan sederhana namun lezat yang telah dipesan langsung oleh Arka. Nasi kebuli, ayam bakar madu, sayur asem, dan aneka kue basah disajikan di atas tikar panjang yang digelar di halaman rumah Kyai. Arka duduk bersila, santai, dengan wajah yang kali ini benar-benar damai. Di pangkuannya, Yusuf tertidur pulas, seolah tahu bahwa malam ini adalah malam kebahagiaan kedua orang tuanya. Tangannya yang mungil masih menggenggam ujung baju koko Arka. Di samping Arka, duduk Safiyah, masih dengan busana putih yang ia kenakan saat akad. Rona wajahnya bersinar, tidak hanya karena riasan, tapi karena rasa syukur yang melimpah di hatinya. Dengan penuh kelembutan, Safiyah menyuapi Arka potongan ayam bakar, sesekali mengusap keringat di kening suaminya. Arka hanya tersenyum, membiarkan dirinya dimanjakan oleh sang istri. “Wah, wah, ini baru namanya suami sah yang beneran disuapi di depan umum,” goda dokter Yuda sambil tertawa. Alesha yang duduk di dekat Aisyah tak mau kalah, “Mas Arka sekarang udah gak bisa sembunyi-sembunyi lagi ya. Dulu nikahnya sembunyi di hotel, sekarang disuapi di pesantren.” Tawa meledak di antara mereka. Arka hanya geleng-geleng kepala, namun senyum lebar tetap merekah di bibirnya. Ia menatap Yusuf yang tertidur dan Safiyah yang sedang mengatur potongan buah di piringnya. Hatinya mengucap syukur dalam-dalam. > Akhirnya… aku pulang ke rumahku. Ke tempat yang seharusnya. Di pelukan wanita yang sempat kuabaikan namun ternyata adalah takdir terbaik dari Allah. Kyai Hasyim yang duduk tak jauh dari mereka tersenyum penuh kebapakan melihat kehangatan keluarga muda itu. Umi Hamidah pun tampak sibuk memastikan semua tamu kenyang dan bahagia. Malam itu, tak hanya pesta pernikahan yang berlangsung, tapi juga pesta syukur. Arka dan Safiyah, yang dulu sempat terpisah oleh ego dan luka, kini menyatu dalam ikatan yang sah, tulus, dan penuh cinta. Malam makin larut. Di kamar mungil yang hangat itu, Arka membaringkan Yusuf di atas ranjang sederhana, menyelimuti tubuh mungil putranya dengan hati-hati. Wajah Yusuf terlihat begitu damai dalam tidurnya, bibirnya sedikit terbuka, sesekali menarik napas panjang seolah lelah seharian bermain dan menyaksikan momen bahagia kedua orang tuanya. Sementara itu, Alesha telah berpindah ke kamar depan, tidur bersama Mba Naning agar memberikan ruang khusus bagi pasangan pengantin yang baru saja resmi di hadapan semua orang. Safiyah berdiri di depan kaca lemari, rambut panjangnya digerai bebas, jatuh melintasi punggung dan bahunya. Ia mengenakan daster pendek berwarna pastel, sederhana namun manis, mencerminkan sosok istri yang tak lagi malu-malu menunjukkan dirinya sepenuhnya di hadapan suaminya. Arka mendekat pelan, lalu melingkarkan lengannya dari belakang. Ia memeluk pinggang Safiyah dengan erat, menenggelamkan wajahnya di bahu sang istri. "Aku pikir... aku sudah kehilangan kamu untuk selamanya," bisik Arka lirih, suaranya parau penuh rasa. Safiyah tersenyum, lalu mengangkat tangan menyentuh pipi Arka yang bersandar di pundaknya. “Tapi nyatanya kita ditakdirkan, Mas,” ucapnya lembut, matanya menatap pantulan mereka di kaca. “Sejauh apapun aku pergi, ternyata pelabuhanku tetap kamu.” Arka tersenyum kecil, lalu mencium bahu Safiyah pelan. “Kamu tahu, Fiyah? Sejak kamu pergi, malam-malamku seperti hampa. Sekarang aku bersumpah... gak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi.” Safiyah membalas dengan canda ringan, “Emangnya aku boneka mas, bisa kamu peluk terus tiap malam?” Arka terkekeh. “Bukan. Kamu bukan boneka... kamu jantungku.” Safiyah menoleh setengah, wajahnya memerah, tapi matanya memancarkan cinta yang tak terbendung. Ia membalikkan badan, menatap wajah suaminya penuh kasih, lalu memeluknya erat. “Kalau begitu... jangan lepasin aku ya, Mas,” bisik Safiyah. Arka mengangguk, memeluk Safiyah lebih erat. Malam itu, tak perlu lagi janji-janji yang rumit. Tak ada lagi kata yang harus disusun terlalu puitis. Hanya pelukan... dan kehadiran satu sama lain. Itu sudah cukup untuk menyembuhkan luka lama dan membangun cinta yang baru—di rumah yang kecil tapi penuh berkah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD