Hujan turun tanpa ampun, menghantam atap café seperti jutaan paku yang dijatuhkan dari langit. Pukul dua belas malam, Rafandra akhirnya keluar dari pintu belakang, menggenggam jas hujan lusuh yang sempat ia gantung sejak sore. Wajahnya letih. Mata menyiratkan kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga batin. Sepanjang malam ia menyeduh kopi, mengantar pesanan, mencatat nota, dan melayani pelanggan yang tak tahu diri. Tapi bukan itu yang membuat langkahnya berat malam ini—melainkan satu nama: Aulia. Ia mengenakan jas hujannya perlahan, lalu menarik resleting hingga menutup leher. Dingin malam dan semprotan hujan menusuk hingga ke tulang. "Aku harus bicara sama dia..." gumamnya pelan, nyaris tenggelam oleh suara rintik hujan. Motor tuanya meraung pelan di jalanan basah. Kilat sesekali m

