Kinanti duduk bersandar di sofa putih ruang pemulihan, matanya perlahan menatap ke sekeliling. Cahaya mentari masuk lewat jendela, menyentuh kulit wajahnya yang tenang. Untuk pertama kalinya, dunia tak lagi gelap. Ia bisa melihat... dengan jelas. Arjuna menghampirinya dengan senyum penuh haru. Ia duduk di samping istrinya dan memeluknya erat. “Sayang…” bisiknya lembut. “Kamu… sudah bisa melihat wajah mas sekarang, ya?” Kinanti mengangguk pelan. Ia menatap wajah Arjuna dengan tatapan yang penuh takjub, lalu senyuman tipis merekah di bibirnya. “Iya, Mas... ternyata Mas sangat tampan…” ucapnya polos, pipinya merona malu. Arjuna terkekeh kecil, wajahnya memerah, lalu membelai lembut pipi Kinanti. “Dan kamu… sangat cantik, Sayang. Lihatlah dirimu.” Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kamera

