Mentari pagi menyinari halaman rumah megah itu. Burung-burung bernyanyi di pepohonan, membawa ketenangan pagi yang baru. Di teras depan, Arjuna berdiri tegap dalam balutan jas abu gelap, siap berangkat ke kantor. Di hadapannya, Kinanti berdiri anggun dalam balutan gamis putih sederhana, wajahnya berseri-seri meski kedua matanya tak mampu melihat dunia. “Mas Arjuna mau ke kantor?” tanyanya lirih, tangan terulur dengan ragu. Arjuna menggenggamnya lembut, lalu mengangguk meski tahu Kinanti tak bisa melihat. “Iya, Sayang. Mas ada meeting pagi ini. Insya Allah, sore nanti Mas pulang lebih cepat.” Kinanti tersenyum. “Hati-hati, Mas…” Ia menundukkan wajahnya, tangan halusnya membawa jemari Arjuna ke bibirnya. Dikecupnya lembut dengan penuh hormat dan kasih sayang. Arjuna tersenyum bangga, ha

