Setelah puas tertawa dan saling menggambar wajah satu sama lain, suasana di ruang rawat Aulia berubah menjadi hangat dan intim. Rafandra menatap Aulia yang kini bersandar di bantal dengan pipi yang masih bersemu merah karena tawa. Beberapa coretan lipstik masih menempel di wajahnya, tapi itu justru membuatnya tampak semakin menggemaskan di mata Rafandra. Rafandra mendekat, duduk di tepi ranjang, lalu meraih tangan Aulia pelan. Jemarinya membelai punggung tangan gadis itu dengan lembut. "Aku suka lihat kamu ketawa kayak tadi," ucap Rafandra pelan, suaranya rendah dan dalam. "Kamu terlihat lebih hidup, lebih manis... dan jujur, aku nggak mau lihat kamu terbaring sakit kayak gini lagi." Aulia tersenyum tipis, matanya menatap Rafandra lekat. "Aku juga nggak suka sakit, apalagi kalau bikin k

