Malam mulai larut. Bintang-bintang bertabur di langit, seolah turut menjadi saksi kebersamaan tiga jiwa yang perlahan saling menemukan kembali. Di teras rumah sederhana itu, Pak Hartawan, Satria, dan Alesha duduk dalam keheningan yang nyaman. Percakapan mereka sudah menepi dari topik berat dan berubah menjadi hangat — tentang masa lalu, tentang harapan, dan tentang kesempatan kedua. Pak Hartawan melirik jam tangannya, lalu menghela napas pelan. "Sudah larut. Papa harus pamit, besok ada rapat pagi," ujarnya seraya berdiri. Satria ikut berdiri, begitu pula Alesha. Tiba-tiba, Pak Hartawan meraih bahu anak laki-lakinya—anak yang selama ini hanya bisa ia lihat dalam mimpi dan foto lawas. "Terima kasih, Nak…" suaranya berat. "Karena kamu telah menerima Papa… dan memaafkan Papa." Satria tak

