Restu di Pagi Hari

1809 Words

Jantungku seperti jatuh ke dasar perut. Itu bukan halusinasiku, bukan mimpi. Itu nyata. Suaranya bergetar, penuh kejujuran. Rasanya semesta menjawab semua doaku dalam satu kalimat. Tanpa ragu, aku mengangguk. Tapi dasar Rafandra—dia pura-pura tak dengar. “Apa, Aulia? Saya nggak ngerti,” katanya dengan ekspresi menggoda. Rasanya aku ingin melempar sendok ke wajahnya. Tapi ya, dia terlalu tampan untuk dilempar sendok. "Iya, aku mau, Mas." “Hmm? Masih pelan, tuh.” Aku mendesis pelan, tapi kali ini aku tak malu lagi. "Aku mau jadi pacar kamu dan aku cinta kamu, Rafandra!" Semua mata menoleh. Dan aku... aku hanya bisa pasrah. Tapi saat dia tertawa bahagia, semua rasa malu itu menguap. Ini… ini adalah hari yang takkan kulupa. ☕ POV Rafandra Aku tahu dia ingin bicara. Tatapan mata Auli

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD