bc

THE UNDERCOVER QUEEN

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
drama
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Amira Adeline adalah Ratu CEO di balik kerajaan bisnis 15 Triliun. Di puncak kekuasaan, ia justru memilih turun tahta.

Demi membuktikan cinta tulus, ia menyamar menjadi staf gudang miskin, memakai daster lusuh seharga 35 ribu, dan menikah kontrak dengan karyawannya sendiri, Revano.

Selama 2 tahun, Amira hidup bagai pembantu. Dihina mertua, direndahkan sebagai beban miskin, dan dianggap istri tak berguna. Ia bertahan, menunggu suaminya mencintainya apa adanya.

Hingga di hari anniversary pernikahan mereka, Revano melemparkan surat cerai di depan 100 tamu penting, demi wanita lain yang lebih berkelas.

Semua orang menunggu Amira menangis dan mengemis.

Mereka lupa, siapa yang sebenarnya mereka injak.

Dengan satu telepon, Amira membekukan semua kartu, membatalkan kontrak 500 Miliar milik suaminya, dan membuka topengnya.

Mulai hari ini, aku bukan lagi istri miskinmu. Aku adalah pemilik hidupmu."

Kini Revano menyesal. Tapi sang Ratu sudah menemukan cinta baru, seorang pria yang mencintainya bahkan saat ia memakai daster lusuh.

chap-preview
Free preview
DASTER LUSUH 35 RIBU
Gedung Adeline Tower, lantai 99. Hanya ada satu ruangan di lantai ini. Ruangan milik Amira Adeline. Dindingnya terbuat dari kaca anti peluru setebal 5 cm. Dari sini, Jakarta terlihat kecil. Lampu-lampu mobil seperti semut yang bergerak pelan. Di meja marmer Italia seharga 2 miliar, tergeletak satu lembar laporan keuangan. Total Aset Bersih: Rp 15.234.892.100.000 Lima belas triliun. Itu adalah harga mahkota yang ada di kepala Amira. Pintu kaca terbuka otomatis. Sasa, asisten pribadinya yang setia, masuk dengan tablet di tangan. Wajahnya tegang. "Nona Amira, Dewan Direksi sudah menunggu dari 30 menit yang lalu. Mereka semua ingin Anda segera menandatangani akuisisi Grup Logistik Revano. Nilainya 500 Miliar. Setelah Nona tanda tangan, perusahaan itu resmi jadi milik kita yang ke-89." Amira tidak menoleh. Ia masih menatap pantulan dirinya di kaca. Rambut hitam panjangnya tertata sempurna. Blazer Chanel haute couture putih. Rok span yang membungkus tubuhnya dengan presisi. Jam tangan Richard Mille yang harganya bisa untuk membeli satu rumah cluster. Semua orang di gedung ini memanggilnya Ratu Es. Cantik, kaya, dan tidak tersentuh. "Sa," kata Amira pelan, suaranya menggema di ruangan yang terlalu luas itu. "Menurutmu, kalau aku tidak punya semua ini, apakah masih ada yang mau menatapku?" Sasa terdiam. Ia sudah bekerja dengan Amira selama 10 tahun, sejak Amira masih umur 19 tahun. Ia tahu pertanyaan itu bukan pertanyaan iseng. "Maksud Nona?" tanya Sasa hati-hati. "Lihat aku, Sa. Semua pria yang datang ke hidupku, mereka tidak pernah melihat aku. Mereka melihat 15 Triliun di belakangku. Mereka melihat koneksiku. Mereka melihat Adeline Tower ini. Tidak ada satu pun yang pernah bertanya, Amira itu sukanya makan apa? Amira itu takut sama apa? Mereka hanya bilang, Nona Amira cantik, Nona Amira hebat, Nona Amira sempurna. Padahal aku muak jadi sempurna." Amira berjalan menuju brankas pribadinya. Sidik jari dan retina scan terbuka. Sasa mengira ia akan mengambil kalung berliannya. Tapi yang ia ambil adalah sebuah plastik kresek hitam yang sudah lusuh, yang baru ia beli kemarin sore di Pasar Tanah Abang setelah menyuruh supirnya berhenti jauh-jauh agar tidak ketahuan. Dari dalam kresek itu, ia mengeluarkan sebuah daster. Daster dengan motif bunga mawar besar warna merah dan hijau yang norak. Bahannya tipis, panas, dan agak kasar. Ada benang yang keluar di bagian ketiak. Harganya 35 ribu rupiah. Bahkan Sasa yang gajinya 40 juta sebulan tidak pernah menyentuh kain semurah itu. "Untuk apa itu, Nona? Kenapa Nona membeli itu?" Sasa benar-benar kaget. Amira memeluk daster itu. Ada senyum aneh di wajahnya, senyum yang sudah lama tidak Sasa lihat. Senyum seorang gadis kecil yang menemukan mainan baru. "Aku menemukan satu pria yang berbeda, Sa. Namanya Revano. Kamu tahu Grup Logistik Revano yang mau kita akuisisi itu? Pemiliknya. Umur 28 tahun. Dia membangun perusahaannya dari nol. Dari satu truk bekas ayahnya. Aku sudah bertemu dia tiga kali di rapat." Amira mengingatnya. Di rapat pertama, semua pemilik perusahaan lain memakai jas mahal dan menunduk-nunduk padanya. Hanya Revano yang memakai kemeja putih sederhana, menatapnya lurus, dan berani berkata, "Maaf, Nona Amira, saya tidak bisa menjual perusahaan saya sekarang. Karyawan saya masih butuh saya. Uang 500 Miliar tidak bisa membeli loyalitas mereka." Saat itu, Amira terpana. "Dia tidak silau olehku, Sa. Dia menolakku. Dia adalah satu-satunya pria yang berani menolak 500 Miliar dariku. Jadi aku akan mengujinya. Aku akan melepas semua ini." Amira menunjuk blazer, jam, dan gedungnya. "Aku akan menyamar menjadi gadis paling miskin. Aku akan melamar kerja sebagai staf gudang paling bawah di gudangnya sendiri. Aku akan memakai daster 35 ribu ini setiap hari. Aku akan membuat dia menikahiku dalam keadaan aku miskin. Jika selama dua tahun dia bisa setia dan mencintaiku saat aku tidak punya apa-apa, maka 15 Triliun ini, Adeline Tower ini, semuanya akan aku berikan padanya. Dia akan menjadi Raja." "Dan jika tidak, Nona?" Mata Amira yang tadinya hangat, berubah menjadi es lagi. "Jika dia menghianatiku, jika dia membuangku saat aku miskin, maka aku akan memastikan dia tahu rasa. Aku akan membuatnya berlutut di atas daster lusuh yang sama yang dia hina." Sasa merinding. Rencana gila itu pun dimulai. Dua hari kemudian. Kawasan Industri Pulogadung. Jam 7 pagi. Matahari bahkan belum tinggi tapi hawa sudah menyengat. Gudang Adeline Logistik Timur. Sebuah gudang besar yang berantakan, penuh debu, oli, dan suara forklift. Tidak ada AC, hanya kipas angin besar yang berdebu. Suara motor bebek tua yang knalpotnya bocor memecah kebisingan. Semua orang menoleh. Dari motor itu turun seorang wanita. Daster bunga 35 ribu yang sudah dicuci hingga warnanya agak pudar. Sandal jepit swallow warna biru yang jepitnya sudah mau putus. Rambut panjangnya diikat dengan karet gelang kuning, tidak disisir rapi. Wajahnya sengaja tidak memakai makeup, hanya bedak tabur murah yang membuatnya terlihat kusam. Ia menenteng kotak bekal plastik bening berisi nasi putih, telur dadar tipis, dan sambal sachet. Tidak ada yang mengenali bahwa wanita itu adalah pemilik dari semua gedung di kawasan industri itu. Amira menarik napas dalam. Bau oli menyengat hidungnya. Sepanjang hidupnya, ia hanya mencium parfum Jo Malone. Sekarang ia harus terbiasa. Baru tiga langkah ia masuk ke dalam gudang, sebuah teriakan melengking seperti petir menyambar telinganya. "EH! BERHENTI KAMU! SIAPA KAMU? MAU MALING YA? BAU APA INI? BAU SAMPAH PASAR!" Seorang wanita paruh baya dengan rambut disasak pirang, alis ditato tebal, bibir merah menyala, dan memakai legging ketat serta tas palsu bermerek mendekat dengan langkah menghentak. Itu Rina, ibu kandung Revano, yang di gudang ini semua orang memanggilnya Bu Ratu Gudang karena sifatnya yang bossy dan suka memeras staf baru. "Saya... saya Amira, Bu. Saya staf gudang baru, yang kemarin interview sama Pak HRD," jawab Amira dengan suara pelan, menundukkan kepala dalam-dalam. Ia harus memainkan peran sebagai gadis desa yang lugu. Rina memutar-mutari Amira dari atas ke bawah, matanya penuh penghinaan. "Staf baru? Kamu? Dengan daster butut begini? Kamu pikir ini mau arisan PKK? Lihat penampilanmu! Miskin! Bau! Tidak punya kelas!" Semua staf gudang yang sedang bekerja berhenti dan menonton. Beberapa anak muda tertawa cekikikan. "Kardus-kardus itu! Lihat! Sudah dua hari tidak ada yang naikkan ke lantai dua! Kamu! Angkat sekarang! Kalau tidak selesai sebelum jam 10, gaji hari pertama kamu tidak akan aku bayar! Dasar beban!" Amira tidak menjawab. Ia berjalan menuju tumpukan kardus. Satu kardus beratnya hampir 20 kilogram, berisi baut-baut besi. Tangannya yang biasa hanya memegang gelas kristal, kini harus mengangkat besi. Kardus pertama, tangannya langsung merah. Kardus kedua, telapaknya perih dan mulai lecet. Keringat bercucuran membasahi pelipisnya, membuat bedak murahnya luntur. Daster 35 ribunya basah di bagian punggung. Di kardus keempat, napasnya sudah terengah-engah. Ia hampir jatuh. "LEBIH CEPAT! LAMBAT SEPERTI KURA-KURA! PANTASAN MISKIN SEUMUR HIDUP! DASAR TIDAK BERGUNA!" Rina berteriak lagi, bahkan lebih keras. Dengan sengaja, ia menendang kotak bekal plastik Amira yang tergeletak di lantai. BRAK! Nasi dan telur dadar itu tumpah ke lantai gudang yang penuh debu dan oli hitam. Hening. Amira mematung. Ia menatap nasinya yang sudah kotor. Nasi yang ia masak sendiri jam 4 subuh tadi dengan tangan gemetar karena ini pertama kalinya ia memasak. Air matanya hampir jatuh. Bukan karena nasi itu, tapi karena harga dirinya yang diinjak-injak. Saat itulah, sebuah suara berat, dalam, dan penuh wibawa menghentikan kebisingan itu. "CUKUP! HENTIKAN, BU!" Semua orang menoleh. Revano berdiri di pintu gudang. Kemejanya basah karena baru selesai membantu kuli bongkar muat di bawah terik matahari. Wajahnya berkeringat, tapi sorot matanya tajam dan marah. Dia berjalan cepat, mengabaikan ibunya, dan langsung menuju Amira. Dia tidak melihat daster lusuh itu. Dia melihat seorang gadis yang dipermalukan. Dengan satu gerakan, Revano mengangkat kardus berat yang sedang Amira angkat dengan susah payah. Otot lengannya menegang. "Kamu tidak apa-apa?" bisiknya pelan, hanya agar Amira yang mendengar. Suaranya berbeda, lembut. Amira mendongak. Mata mereka bertemu. Mata Revano coklat, jujur, dan penuh kelelahan seorang pekerja keras. Amira yang Ratu 15 Triliun itu, untuk pertama kalinya dalam 25 tahun hidupnya, merasa jantungnya berdegup kencang bukan karena rapat, tapi karena seorang pria gudang. "Saya... tidak apa-apa, Pak," jawabnya lirih. Rina masih tidak terima. "Revano! Kamu ngapain belain dia! Dia itu cuma sampah miskin!" Revano menatap ibunya dengan tatapan yang membuat Rina mundur selangkah. "Dia adalah karyawan kita, Bu. Mulai hari ini, dia adalah tanggung jawab saya. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menginjak bekal orang lain di gudang saya." Lalu ia menatap Amira lagi dan mengambil kotak bekalnya yang kosong. "Bekalmu tumpah. Nanti makan siang pakai bekal saya saja. Saya bawa dua hari ini. Jangan panggil saya Pak. Panggil saya Revano." Pada detik itu, Amira tahu. Penyamarannya berhasil. Pria yang ia cari selama ini, pria yang tulus, ada di depannya. Dia tidak tahu, pria yang baru saja menyelamatkannya dengan sepotong bekal itu, dua tahun lagi akan menjadi pria yang sama yang akan melemparkan surat cerai ke wajahnya di depan 100 tamu undangan, dan memanggilnya wanita miskin yang tidak tahu diri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.7K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.9K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.2K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
173.4K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
11.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook