Sebuah mobil berwarna hitam pekat yang ditumpangi oleh seorang lelaki tampan berjaket kulit dipadukan kaus hitam polos beserta celana panjang senada dengan warna mobilnya. Salah satu style kesukaan Rafif ketika sedang melakukan tugas di kantor polisi.
Selain posisinya sebagai detektif, terkadang lelaki itu melakukan tugasnya sebagai penerima laporan di polisi sekitar desa terpencil. Mengingat pekerjaannya yang tidak mengenal waktu membuat Regina kesulitan bertemu.
Namun, wanita itu tetap menyayangi Rafif seperti adiknya sendiri. Walaupun ia terkadang bisa bertingkah layaknya seorang adik di depan Rafif. Karena mereka saling melengkapi, bukan mendominasi.
Rafif menatap ponselnya untuk meneliti laporan cuaca hari ini yang menandakan sedikit cerah, tetapi sedikit dingin. Akibat sebentar lagi musim dingin yang akan menyiksa siapa pun ketika berada di luar ruangan.
“Selamat pagi. Pak Rafif!” sapa beberapa personil polisi berpakaian dinas. Menandakan mereka akan terjun ke lapangan melakukan sesuatu.
Langkah Rafif terlihat lebar masuk ke dalam ruangan departemennya yang masih sepi. Hanya ada beberapa pekerja magang dan anggota kepolisian yang baru saja terbangun. Menandakan mereka tidak pulang sama sekali.
“Zian, lo nginap lagi di sini?” tanya Rafif mengernyit terkejut.
“Biasa. Bibi gue enggak balik, jadi mau enggak mau gue terpaksa nginap di kantor lagi,” jawab Lizian merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal akibat terlalu lama duduk.
“Kenapa lo enggak tidur di asrama?” tanya Rafif bingung.
“Enggak, deh! Demi keselamatan jantung gue lebih baik di sini. Kalau di toilet perempuan jelas sudah digunakan banyak hal yang tidak baik,” jawab Lizian bergidik ngeri sembari menaikkan kedua kakinya di atas meja.
“Hah? Mengapa menjadi toilet perempuan?” tanya Rafif mengernyit bingung sembari mendudukkan diri di meja pimpinan yang begitu terawat.
Akan tetapi, Lizian hanya tersenyum penuh misteri daripada memilih menjawab pertanyaan temannya yang terlihat penasaran. Sebab, tepat di bekalang lelaki itu terdapat seorang lelaki paruh baya melenggang masuk sembari membawa kertas di tangannya.
“Marcus, apa yang terjadi?” tanya Lizian bangkit membuat Rafif mengernyit bingung, lalu melompat turun dan berbalik mengikuti langkah temannya.
“Surat penangkapan sudah didapatkan dari jaksa, jadi kita harus bergegas menangkap pelakunya. Kemarin saya dengar dari beberapa warga yang mengatakan mereka cukup resah membiarkan pembunuh itu tetap di sana tanpa ditahan,” jawab Marcus selaku rekan kerja kedua pemuda itu menatap serius.
“Kalau begitu, kita harus bergegas ke sana!” ajak Rafif bersemangat.
Namun, Marcus terdiam sesaat mendengar perkataan sedikit mengganjal di hatinya, lalu menggeleng pelan. “Kamu tidak bisa ke sana, Rafif.”
“Kenapa? Bukankah ini kasus yang saya tangani juga?” tanya Rafif terkejut.
“Pimpinan meminta kamu datang ke sana, saya juga tidak tahu,” jawab Marcus mengembuskan napasnya berat.
Sedangkan Lizian yang mendengar hal tersebut langsung menepuk bahu temannya sedikit keras sembari berkata, “Tidak apa-apa, Rafif. Lo bisa datang ke sana dulu minta penjelasan. Karena Marcus juga sepertinya tidak tahu-mehanu masalah ini.”
“Tapi, ‘kan kinerja gue baik, Zian. Agaknya sedikit enggak masuk akal kalau tiba-tiba Pimpinan minta gue berhenti buat nyelidikin kasus ini,” sanggah Rafif bersikeras.
“Sudahlah, Rafif. Kalau kamu masih berada di sini bersikeras, itu akan sia-sia. Karena hanya Pimpinan yang tahu alasan kamu diberhentikan,” pungkas Marcus membuat Rafif seketika bungkam.
Sontak lelaki tampan itu langsung melenggang keluar dengan langkah lebar-lebar. Ia ingin menuntut penjelasan pada pemimpi departemennya yang terlihat begitu semena-mena. Sebab, selama dirinya menjadi seorang detektif, tidak pernah sekalipun diberhentikan secara mendadak seperti ini.
Selama melangkah di lorong, Rafif menerima banyak sapaan sekaligus beberapa kotak sarapan yang diberikan oleh para polisi wanita yang sengaja mencari perhatian pada dirinya. Namun, sayang sekali semua kotak itu ditolak oleh Rafif.
Jika biasanya, kotak tersebut akan tetapi diterima oleh Jarvis. Karena lelaki itu dengan lapang d**a menerima semua pemberian dari para penggemar Rafif yang begitu royal dalam memberikan apa pun, termasuk makanan mahal dan beberapa barang mewah.
Sesampainya di sebuah pintu bertuliskan nama pemimpin departemen kejahatan pembunuhan, Rafif mengembuskan napas berat. Ini bukanlah kali pertama dirinya datang ke ruangan yang dihormati hampir seluruh departemen. Hanya saja situasi yang terjadi saat ini terasa sedikit canggung sekaligus tidak terima membuat Rafif ragu.
Namun, tak urung Rafif mengetuk pintu ruangan tersebut sampai terdengar seruan teredam ruangan. Akan tetapi, ia memiliki pendengaran yang cukup unggul dibandingkan manusia biasa membuat ia mendengar pembicaraan pemimpinnya dari telepon.
“Pak Andri,” panggil Rafif berjalan menghadap pemimpinnya yang terlihat baru saja meletakkan ponsel, lalu meraih sesuatu dari tumpukan berkas.
“Duduklah, Rafif! Saya ingin mengatakan banyak hal padamu,” titah Pak Andri mengkode pada Rafif untuk duduk di sofa kecil yang berada di sudut ruangan.
Dengan patuh lelaki tampan itu duduk di sofa panjang sembari menunggu pemimpinnya datang membawa sesuatu. Tentu saja perhatiannya tertarik pada sebuah amplop berwarna cokelat yang dipegang.
“Apa kamu langsung datang ke sini ketika diketahui telah diberhentikan pada kasusmu sendiri?” tanya Pak Andri tersenyum tipis, lalu mendudukkan diri di sofa single.
“Iya, saya ingin menuntut penjelasan tentang pemberhentian saya terhadap kasus ini,” jawab Rafif menatap serius pada pemimpinnya.
“Kamu bukalah amplop itu sebelum protes,” titah Pak Andri mendorong amplop cokelat tersebut pada Rafif yang menatap bingung.
Tanpa pikir panjang, Rafif langsung membuka amplop tersebut dan membacanya dengan seksama. Kening lelaki tampan itu sesekali mengernyit, dan membungkam tidak percaya.
“Saya dipindah tugaskan?” ucap Rafif mendelik tidak percaya.
Pak Andri yang sudah menebak reaksi terkejut dari Rafif langsung tersenyum tipis, lalu membalas, “Kamu bukan hanya dipindah tugaskan, melainkan ikut pada kasus besar ini. Karena kamu bisa mendapatkan promosi jabatan, Rafif.”
“Tapi, Pak, saya juga punya kasus sendiri,” sanggah Rafif tidak suka.
“Saya tahu, kamu punya kasus juga. Kesempatan ini tidak datang dua kali, Rafif. Kamu harus memanfaatkannya sebaik mungkin,” balas Pak Andri menyakinkan agar seorang lelaki muda yang sangat berbakat di hadapannya bisa naik jabatan.
Siapa pun jelas tidak meragukan kemampuan Rafif dalam memahami setiap kasus. Apalagi ditambah lelaki itu mempunyai pendengaran dan daya peka yang lebih unggul daripada orang lain. Sungguh disayangkan jika bakatnya sia-sia begitu saja.
“Saya akan memikirkannya dulu, Pak,” ucap Rafif lemah sembari meletakkan amplop beserta kertasnya di atas meja.
“Kalau begitu, saya tunggu keputusan kamu secepatnya, Rafif. Karena masalah ini tidak bisa dibiarkan lama,” pungkas Pak Andri mengangguk serius.