“Lo dapat tawaran ikut kasus LUCA?” tanya Lizian mendelik tidak percaya.
Kini keduanya tengah istirahat makan siang di salah satu restoran rumahan yang terletak di pinggir jalan. Sudah menjadi kebiasaan mereka makan siang sederhana dengan lauk rumahan yang bisa mengobati rasa rindu ketika berada di rumah.
Sebab, sebagian besar personil kepolisian jarang sekali kembali ke rumah. Bahkan bisa dikatakan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di markas dan jalanan untuk menangkap para penjahat yang sudah meresahkan warga.
“Menurut lo gimana, Zian? Gue terima atau enggak?” tanya Rafif meminta pendapat dari sahabat satu-satunya yang ia miliki selama berada di kepolisian. Karena ia dikenal sebagai seseorang yang dingin dan cuek, tetapi lain halnya bersama Regina.
Marcus menegakkan tubuhnya serius, lalu menjawab, “Ini kesempatan emas buat lo bisa dijadiin promosi sebagai jenderal, Rafif. Bahkan lo bisa ngendaliin Pak Andri, kalau lo mau.”
“Iya, gue tahu. Tapi, kalau ternyata kasus ini gagal gimana? Gue enggak mau dianggap personil baru yang merusak semuanya,” imbuh Rafif mengangguk mantap.
“Lantas, lo maunya gimana? Kalau gue jadi lo, enggak akan gue sia-siain. Karena jarang banget departemen kejahatan siber bisa rekrut orang tanpa tes sama sekali dan langsung ikut menangani kasus besar,” papar Lizian menatap sahabatanya serius.
“Lo ‘kan tahu, Zian. Gue susah beradaptasi sama lingkungan baru,” keluh Rafif mengembuskan napas panjang.
“Tenang aja. Lo masih punya gue tempat untuk bercerita,” balas Lizian tersenyum ringan.
Akhirnya, setelah mendapatkan banyak semangat dari sahabatnya yang dengan sangat nyata membuat Rafif merasa bangkit lagi. Memang mendapat tawaran seperti ini bisa terhitung jarang sekali.
Namun, entah kenapa ia merasa sesuatu besar akan terjadi di belakangnya. Membuat Rafif terasa ragu sekaligus penasaran. Akan tetapi, ia juga sadar bahwa ketika dirinya beralih departemen, pasti kesibukannya akan menyita banyak waktu. Sehingga waktu untuk ia mengawasi Regina akan berkurang.
Setelah selesai makan siang, keduanya kembali ke markas kepolisian dengan dipenuhi para pelanggar aturan. Tak sedikit mereka diborgol agar tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
“Ada apa ini?” tanya Lizian pada salah satu personil yang baru saja kembali dari dalam sembari membawa sesuatu di tangannya.
Personil itu menoleh, lalu sedikit terkejut mendapati Rafif di sana. Akan tetapi, tak urung ia kembali menatap ke arah Lizian yang bertanya.
“Ini beberapa pelaku tindak kejahatan yang hendak membunuh salah satu pekerja pabrik, Pak.”
“Kenapa dibunuh?”
“Karena pekerja pabrik itu berasal dari organisasi kriminal LUCA,” jawab polisi muda itu menunduk sembari memberika beberapa surat penangkapan sekaligus penyitaan pada sekumpulan polisi tanpa seragam.
“Oh, berita yang mengenai pabrik terbakar tadi?”
“Iya benar, Pak. Jadi, mereka yang berada di sana dan ditubuh melakukan konsleting listrik. Namun, karena amukan beberapa bawahan LUCA yang terdengar sampai keluar, akhirnya salah satu warga melakukan hal ini kepada polisi untuk ditangani lebih lanjut,” tutur personil itu membuat Lizian mengangguk mengerti.
Sedangkan Rafif terlihat mendekat ke arah sang pelaku yang bertingkah cukup aneh. Seakan bukan gerakan yang biasa dilakukan oleh manusia, melainkan sebuah gerakan yang seperti monyet.
Rafif memegang rambut lelaki itu, lalu mendorongnya ke belakang membuat luka bekas suntikan terlihat jelas. Membuat lelaki bertingkah aneh tadi langsung tidak terima dan hendak menyerang Rafif. Namun, dengan cepat ditahan oleh beberapa anggota polisi yang mendampingi.
“Dia sakit?” tanya Rafif menatap polisi muda yang tadi sibuk menjelaskan pada Lizian.
“Kami menemukannya sudah dalam keadaan seperti itu, Pak.”
“Coba selidiki semua yang kalian temukan di TKP, dan kirim ke ruanganku,” pinta Rafif menatap polisi muda itu serius, lalu melenggang pergi begitu.
Sontak Lizian yang merada ditinggalkan itu pun terkejut, dan berusaha lari mengejar sahabatnya. Sebab, terkadang Rafif bisa hilang begitu saja kalau tidak diawasi dengan seksama.
Sementara itu, beberapa personil polisi yang mendengar ucapan Rafif sedikit terkejut. Mereka jelas sudah mendengar berita bahwa lelaki itu akan dipindah tugaskan dalam kasus LUCA. Namun, anehnya Rafif yang menolak mentah-mentah itu pun langsung meminta barang bukti. Seakan memberi sinyal bahwa ia setuju dipindah tugaskan.
“Kamu lakukan yang seperti diminta oleh Pak Rafif,” ucap teman polisi muda tadi yang mendengar semua ucapan Rafif.
Terkadang jalan pikiran seseorang tidak mudah ditebak. Bahkan Rafif yang biasanya teguh pendirian pun mendadak goyah ketika melihat sesuatu telah terjadi di hadapannya. Membuat lelaki itu kini duduk di depan komputer pribadinya dan mulai menelusuri semua jejak gital yang ditinggalkan oleh LUCA.
“Raf, lo lagi selidiki anggota kriminal LUCA?” tanya Lizian yang baru saja datang dan menghampiri sahabatnya.
Dengan memutar kursinya, kini Rafif menghadap sahabatnya yang menatap penuh, lalu berkata, “Lo lihat tadi bekas suntikan di bawah leher cowok aneh tadi, ‘kan, Jar?”
“Iya, gue lihat,” jawab Lizian mengangguk pelan.
“Gue rasa ada sesuatu aneh yang terjadi,” gumam Rafif mengundang banyak pertanyaan.
“Maksud lo apa, Raf?” desak Lizian penasaran.
“Jadi, sewaktu gue ngerasa cowok itu aneh, enggak sengaja gue lihat bekas suntikan yang malah membuat dia ketakutan bukannya marah,” ucap Rafif merendahkan suara dan menatap Jarvis dengan ekspresi begitu meyakinkan.
“Mustahil, Raf. Kalau memang anggota LUCA melakukan penelitian illegal pasti semakin merajalela. Mungkin dia hanya salah satu pecandu obat-obatan,” balas Lizian menggeleng tidak percaya.
“Kok lo bisa begitu yakin kalau mereka cuma pecandu?” tanya Rafif menatap penuh selidik.
“Sebenarnya udah enggak asing lagi mereka melanggar aturan, apalagi sama yang beraroma obat-obatan. Secara mereka dari dulu memang terlibat dalam n*****a dan hal-hal terlarang. Sampai saat ini belum ada satu polisi pun yang berhasil menggugat anggota kriminal itu seakan dia benar-benar licin dan licik dalam mempermainkan hukum,” jawab Lizian mengembuskan napas panjang, lalu menarik salah satu kursi kosong untuk duduk di samping sahabatnya yang terlihat sibuk mendengarkan sekaligus membaca semua berita perihal LUCA.
“Gue mau ke ruangan Pak Andri dulu,” pamit Rafif bangkit dari tempat duduknya, lalu melenggang keluar begitu saja meninggalkan sahabatnya yang menggeleng tidak percaya.
Nyatanya Rafif memang benar-benar ke ruangan pemimpin yang ternyata masih berada di dalam tengah menyeruput kopi sembari memandangi luar jendela ruangannya. Sebab, departemen kejahatan pembunuhan berada di lantai empat sehingga cukup menikmati suasana luar yang terlihat damai sekaligus menenangkan.
Rafif mengembuskan napasnya panjang, lalu mengetuk pintu ruangan tersebut dengan pelan. Membuat sang pemiliknya menoleh sembari tersenyum tipis ketika mendapati seorang polisi muda menatap dirinya.
“Bagaimana sudah mendapatkan keputusan yang tepat, Rafif?” tanya Pak Andir meletakkan cangkir kosong tersebut di atas meja.
“Sudah, Pak,” jawab Rafif mengangguk mantap.
“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Pak Andri mendudukkan diri di sofa single.
“Saya terima tawaran untuk menjadi penyidik kasus organisasi kriminal LUCA,” putus Rafif mengangguk mantap.
Lelaki itu pun sadar apa yang akan terjadi di kehidupannya tidaklah mudah. Apalagi menyidik kasus yang selama ini tidak pernah selesai. Lambat laun mereka pasti akan menyelidiki keluarganya juga. Namun, hal tersebut ada sesuatu pencapaian besar yang harus Rafif lakukan dalam menyidik kasus tersebut.