8. Penyelidikan LUCA

1022 Words
“Rafif, bangun! Lo ketiduran di sini, ya?” Sayup-sayup seseorang memanggil nama Rafif membuat lelaki itu mengernyit sesaat, lalu mengangkat kepalanya yang terasa sedikit pegal akibat semalaman suntuk tertidur di atas meja. Kemudian, lelaki itu merenggangkan tubuhnya sembari menatap sang pemanggil dengan wajah bantal yang masih menyipit. “Jam berapa sekarang, Zian?” tanya Rafif mengusap wajahnya sembari mengusap lebar membuat Jarvis menggeleng tidak percaya melihat betapa jeleknya keadaan Rafif pagi ini. Padahal biasanya lelaki itu akan menjadi pemandangan indah tersendiri bagi kaum hawa. “Baru jam tujuh pagi, tapi lo ‘kan udah bukan departemen ini lagi, Raf. Jadi, lo mendingan masuk ke sana sekarang. Itung-itung perkenalan,” jawab Lizian meletakkan sekotak sarapan untuk lelaki itu. Seperti biasa, sebagai teman yang baik ia memang sering membawakan sarapan untuk Rafif, begitupun sebaliknya. “Ya udah, gue cuci muka dulu,” putus Rafif bangkit dari kursinya, lalu melenggang pergi meninggalkan teman sekaligus sahabat terdekatnya yang menggeleng tidak percaya. Setelah itu, Lizian pun kembali mendudukkan diri di meja kerjanya. Ia mulai mengerjakan kasus yang ditinggalkan oleh Rafif. Karena lelaki itu segera resmi berpindah departemen membuat seluruh pekerjaan Rafif akan ia kerjakan sendiri. Tak lama kemudian, Rafif pun kembali dengan wajah segarnya. Ternyata lelaki itu menyempatkan diri untuk mandi membuat Jarvis tersenyum geli. Entah kenapa ia sudah terbiasa dengan semua tingkah Rafif yang sudah menganggap kantor sebagai rumah keduanya. “Ponsel gue di mana, Zian?” tanya Rafif mengacak-acak mejanya untuk mencari benda pipih berwarna hitam dengan hard case hitam polos. “Ada di colokan, tadi gue lihat baterai ponsel lo kelaparan,” jawab Lizian menunjuk ke arah atas lemari kasus yang tersedia sebuah stop contact. “Makasih, gue mau sarapan dulu,” ucap Rafif menarik kursinya, lalu mendudukkan diri dengan nyaman di sana sembari membuka kontak nasi bawaan dari sahabatnya. “Tadi gue enggak sengaja lihat ada panggilan dari Kak Regina, tapi pas mau gue angkat malah mati duluan.” “Biarin aja, dia pasti nanya gue aja yang enggak balik semalam.” Lizian mengangguk beberapa kali. “Memangnya lo kenapa enggak balik, Raf? Ada yang lo temuin sama pencarian kemarin? Soalnya gue dengar dari beberapa polisi yang bertugas bilang, kalau lo dari semalam enggak keluar ruangan.” “Biasalah, gue cuma belajar sama dunia yang nanti gue masuki. Jadi, wajar gue belajar dari kasus mereka, tapi ada satu kasus yang menurut gue janggal, Jar.” “Maksud lo?” “Nanti gue ceritain. Sekarang gue harus lapor ke Pak Andri,” pungkas Rafif bangkit dari tempat duduknya sembari meraih jaket dan membawa kotak kosong tersebut untuk dibuang ke dalam tong sampah ruang tunggu. Sebab, Rafif sangat membenci kotoran yang menumpuk di dalam ruangan. Sehingga lelaki itu memilih untuk membuat bungkus makanan berat di luar dibandingkan ruangan. Selain hemat energi membuangnya secara rutin, jelas tong sampah dalam hanya untuk bekas makanan ringan dan sampah kertas lainnya. Selama menyusuri lorong sembari memakai jaket, Rafif mendapat banyak sekali perhatian bagi beberapa polisi yang bertugas. Mereka tampak menatap lelaki itu kagum sekaligus geli. Mengingat Rafif sama sekali belum pulang dan sekarang sudah kembali bertugas. Baru saja Rafif hendak masuk ke dalam ruangan atasannya, tiba-tiba ia melihat seorang lelaki paruh baya tengah berbincang dengan beberapa petugas polisi lainnya membuat Rafif mengurungkan niatnya untuk masuk. “Pak Andri, saya ingin berbicara,” ucap Rafif tersenyum sopan membuat lelaki paruh baya itu menoleh. “Baiklah, Rafif. Kamu bisa langsung ke sana, nanti akan ada beberap personil yang membantumu. Kebetulan sekali hari ini mereka ingin melakukan penyelidikan di TKP,” balas Pak Andri mengangguk singkat. Sedangkan Rafif yang merasa terkejut akan perkataan Pak Andri pun mengernyit dalam, lalu berkata, “Baik, Pak!” Rafif pun berbalik menuju departemen barunya yang terletak di gedung atas membuat ia harus menggunakan elevator ke sana. Sebab, beberapa hari yang lalu tangga sedang dalam perbaikan. Sehingga kesenangan tersendiri bagi personil polisi yang tidak menyukai tangga. Sesampainya di lantai atas, Rafif agak kebingungan. Karena ia memang tidak pernah datang. Sehingga rasanya sedikit canggung melihat orang-orang di sini begitu rapi, sedangkan dirinya tampak sangat kurang rapi. “Rafif Osm Arkhanza?” Dengan cepat Rafif membalikkan tubuhnya menatap seorang lelaki muda bertubuh tegap menatap dirinya sopan. “Iya, saya Rafif anggota baru di departemen ini yang mendapat promosi dari Pak Andri,” jawab lelaki itu mengangguk singkat. “Mari ikuti saya, kita harus bergegas karena semua orang sudah berkumpul!” ajak pemuda itu mempercepat langkahnya membuat Rafif tersenyum tipis. Ketika sampai di depan pintu yang Rafif yakin adalah ruangan pertemuan itu tampak beberapa orang menyambut kedatangannya datar, lalu lelaki muda tadi langsung mempersilakan ia masuk ke dalam. “Perkenalkan dirimu anggota baru!” titah seorang lelaki berwajah tegas menatap Rafif tanpa berkedip. Rafif menegakkan tubuhnya, lalu berkata dengan lantang, “Perkenalkan nama saya Rafif Osm Arkhanza. Penyidik dari departemen pembunuhan yang dipindah tugaskan oleh Pak Andri. Mohon bantuannya dan terima kasih!” Dalam sekejap suasana ruangan berubah menjadi sepi atau memang sepi sedari tadi membuat Rafif meringis pelan. sepertinya ia salah telah pindah ke departemen yang isinya hanya orang-orang kaku. “Salam kenal, Rafif. Nama saya Frank, ketua tim di sini,” balas seorang lelaki yang berada di tengah-tengah ruangan. Sempat menatap tajam mengintimidasi ke arah Rafif. Semua orang tampak tidak ramah membuat Rafif merasa bersalah telah pindah ke departemen ini daripada bersama temannya di sana. Namun, ini merupakan langkah awal dirinya untuk berkarir membuat ia tidak memiliki pilihan lain, selain mengikuti semua yang dilakukan oleh rekan kerja barunya. “Rafif, nanti kamu naik mobil bersama Veera ke TKP untuk mengamankan selama kita melakukan penyelidikan. Jadi, tolong kamu jangan lupa bawa pistol berjaga-jaga ketika ada penyusupan. Karena musuh kita adalah LUCA,” ucap Franky mengangguk singkat, lalu melenggang pergi. Rafif terdiam sesaat. Ia memang sempat mengetahui organisasi gelap itu, tetapi ia lebih tidak menyangka bahwa akan dipasangkan oleh seorang gadis cantik yang menatap dengan alis terangkat angkuh. “Apa yang kamu tunggu? Ayo, cepat!” ajak Veera tidak sabar. “Bagaimana dengan pistolku yang disuruh Ketua Tim?” tanya Rafif mengernyit bingung. “Astaga, ini pistol milikmu!” jawab Veera mengembuskan napasnya malas, lalu melenggang pergi meninggalkan Rafif yang tersenyum kecut. Ia tidak percaya diperlakukan seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD