9. Penculikan Tanpa Nyali

1042 Words
Sesampainya di tempat kejadian perkara, Rafif dan Veera langsung menangkan warga yang berusaha melihat karena penasaran. Padahal tempat kejadian harus tetap steril. Sebab, salah seseorang melaporkan kejadian tersebut dengan cepat. Bertepatan dengan seluruh anggota detektif di perjalanan. “Rafif, tolong lo selidiki keadaan sekitar. Gue curiga orang itu belum terlalu jauh,” pinta Veera sembari menelisik kejadian perkara yang terlihat sedikit berantakan. “Oke!” balas Rafif berlari mengitari sekitar. Walaupun sesekali ia menatap ke arah bangunan tua nan kosong tersebut dengan pandangan yang begitu tajam. Namun, sekecil apa pun petunjuk akan tetap Rafif temukan. Tanpa sengaja lelaki it melihat siluet seseorang tengah bersembunyi di balik pilar. Membuat lelaki itu mendekati secara perlahan. Bahkan jantungnya ikut berdetak dua kali lebih cepat menantikan seseorang yang bisa dijadikan sebagai tersangka. Melalui earpiece, Rafif berbisik, “Veera, lapor! Gue sekarang lagi berada di belakang gedung tepat berdiri di pilar ke delapan. Sekarang gue lihat ada seorang laki-laki bersembunyi membuat gue penasaran untuk melihatnya.” “Hati-hati, Rafif. Gue ke sana sekarang!” balas Veera terdengar cemas. Sebab, ia melihat empat tusukan yang terdapat pada tubuh korban. Menyakinkan diri bahwa sang pelaku masih menggenggam pisau tajam. Tanpa sadar Rafif menganggu, lalu mulai bergerak mendekati pilar tersebut sembari berusaha tidak mengeluarkan suara. Namun, saat lelaki itu berdiri dengan jarak satu langkah saja tiba-tiba ia menginjal sebuah ranting menimbulkan suara patahan yang cukup keras. Sedangkan Rafif langsung bergerak kaku menatap siluet lelaki berpakaian jaket hitam yang menutup sebagian wajahnya. Akan tetapi, ia bisa melihat jelas senyuman miring yang dihiasi oleh gigi rapi berwarna putih. “Rafif, awas!” teriak Veera dari belakang membuat lelaki itu kembali terfokus, lalu melebarkan matanya saat melihat sebuah moncong pistol tepat mengarah pada dirinya. Namun, sayang sekali dugaan para polisi itu. Nyatanya Rafif sama sekali tidak ditembak, melainkan dimasukkan secara paksa ke dalam mobil. Sedangkan Rafif yang merasa terkejut pun mendadak tidak bisa bergerak, selain mencerna situasi yang telah terjadi. Saat dirinya dibawa pergi, barulah Rafif sadar bahwa ia akan dijadikan sebagai sanderaan membuat lelaki itu menatap bingung pada empat lelaki berpakaian hitam yang memperhatikan dirinya begitu intens. “Nama lo Rafif, ya?” tanya salah satu pelaku kejahatan itu dengan santai. “Kenapa? Lo takut gue gitu aja?” tebak Rafif tersenyum miring sembari menyandarkan punggungnya. “Lo harus hati-hati, Rafif. Karena sebentar lagi lo enggak akan bisa melihat dunia,”sahut seorang lelaki sang pengemudi yang melirik sesaat. Akan tetapi, salah satu dari keempatnya menerima telepon membuat suasana mobil mendadak senyap. Sedangkan Rafif yang menjadi bagian dari mereka pun ikut terdiam mendengarkan sang pembicara. Entah kenapa Rafif merasa pengkapan kali ini sedikit berbeda. Seakan dirinya sudah dekat dengan mereka semua sampai rasanya sama sekali tidak cangung, atau lebih tepatnya merasa bukanlah orang asing sekalipun Rafif memiliki identitas sebagai polisi. Selepas menerima telepon, lelaki itu tampak menatap Rafif tanpa berkedip membuat lelaki tampan itu malah mengernyit bingung. Kemudian, ikut mengalihkan pandangannya menatap ketiga lainnya yang malah ikut memperhatikan dirinya juga. “Kenapa lo semua natap gue?” tanya Rafif tidak suka. Spontan keempatnya menggeleng pelan, sampai tiba-tiba pintu tepat di samping terbuka lebar membuat lelaki itu menoleh terkejut. Belum tepat Rafif menoleh meminta penjelasan, ia merasa tubuhnya melayang begitu saja keluar dari mobil yang melaju cukup pelan tersebut. Tentu saja jatuh terjerembab di atas aspal tidak terhindarkan. Membuat Rafif menahan tubuhnya dengan siku itu pun terluka. Ia meringis pelan sembari menatap kesal pada mobil yang langsung menancapkan gasnya. “Apa-apaan itu mereka!” sungut Rafif menggeleng tidak percaya, lalu berusaha bangkit dengan kaki yang tertatih-hatih. Perhatian pemuda itu mengarah pada temannya yang masih berada di kantor polisi untuk menjemput dirinya. Karena suasana di jalan besar ini tampak sepi, membuat ia merasa ragu dan sedikit ketakutan. “Zian, lo masih di kantor, ‘kan?” tebak Rafif asal, sebab ia hanya ingin lelaki yang kini berteleponan dengan dirinya segera datang. “Enggak, Raf. Gue lagi sama Pak Andri ketemuan sama Perwira Jarvis,” balas Lizian begitu jujur. “Astaga, lo bisa jemput gue sekarang?” tanya Rafif dengan nada sangat berharap. “Memangnya lo di mana? Bukannya lagi sama Veera?” Lizian malah berbalik tanya membuat Rafif mengembuskan napas berat. “Gue baru diculik. Sekarang diturun begitu aja di jalan. Gue sama sekali belum paham jalanan di sini, Zian. Ayo, jemput gue! Lo masa tega membiarkan gue di sini sendirian?” ucap Rafif dengan nada sedikit menyedihkan membuat Lizian mengernyit tidak percaya. “Ya udah, gue jemput lo sekarang!“ putus Lizian tepat ketika lelaki itu memutuskan panggilannya secara sepihak. Tak lama kemudian, sebuah mobil jeep berwarna hitam itu pun datang menepikan diri tepat di samping Rafif yang melangkah secara perlahan menyusuri jalan aspal kosong. Bahkan sejak tadi Rafif melangkah, lelaki itu sama sekali belum menemukan ada mobil yang melintas. “Ayo, naik!” seru Lizian dari dalam mobil sembari kaca jendela tersebut diturunkan. Rafif menukik alis kanan penasaran menatap seorang gadis cantik yang berada di samping Lizian. Namun, lelaki itu sama sekali tidak mengatakan apa pun, selain mengkode Rafif untuk segera masuk. Selama perjalanan menuju kantor, Rafif tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya itu pun mulai bertanya, “Lo siapa?” Gadis cantik yang murah senyum itu pun membalikkan tubuhnya menatap Rafif dengan ramah, lalu mengulurkan tangan sembari menjawab, “Perkenalkan nama saya Zyrach Olv Jansen. Dokter forensik BIN.” Rafif melebarkan matanya, lalu mengangguk ramah. Ia menjabat tangan mulus nan putih yang tidak disangka-sangka telah mengaduk-aduk isi tubuh seorang mayat. Bahkan ia lebih tidak menyangka lagi, gadis itu benar-benar terlihat luar biasa dibandingkan penampilannya kali ini. “Zyrach ini adiknya Perwira Jarvis,” timpal Lizian tersenyum geli melihat ekspresi wajah sahabatnya yang begitu jujur. Rafif mengangguk kaku membuat Zyrach kembali menatap lurus ke depan. Namun, hal tersebut justru mengundang banyak pertanyaan di benak Rafif. Bahkan ia lebih penasaran lagi ketika mengetahui gadis cantik itu mengikutinya sampai di kantor dan turun. Sesampainya di depan elevator, Rafif menoleh ke arah dua orang yang berada di samping kanannya. Ia menatap temannya dengan makna penuh tersirat, lalu tersenyum ramah pada Zyrach. “Gue duluan ke bawah dulu, ya. Tadi Veera ngabarin kalau dia baru sampai di parkiran,” pamit Rafif memperlihatkan pesan singkat dari rekan barunya. “Ya udah, gue sama Zyrach ke atas dulu buat laporan sama Pak Andri,” balas Lizian mengangguk singkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD