4. Panggilan Tak Dikenali

1070 Words
“Rafif! Di mana lo!?” Teriakan menggelegar dari seorang wanita tampal memecahkan keheningan seorang lelaki yang tengah sibuk menatap layar komputer di hadapannya. Lelaki itu mengembuskan napasnya berat, lalu bangkit dari tempat duduk. Tentu saja ia hendak keluar dari tempat persembunyian. “Kenapa lagi?” tanya Rafif menyembulkan kepalanya di ambang pintu menatap seorang wanita setengah mabuk bersandar di tembok tepat di depan kamarnya. “Akhirnya, lo di rumah juga, Rafif,” ucap wanita itu sembari mendekati seorang lelaki yang terlihat mengernyit bingung, lalu menyanggah tubuh ramping itu dengan mudah. Kemudian, ia menutup pintu kamar, dan menuntun kembali seorang wanita yang terus berkicau layaknya burung beo. Bahkan Rafif sama sekali tidak mengindahkan semua perkataan wanita itu, selain ucapannya yang penuh u*****n mengenai seorang lelaki. “Rafif, lo dengerin gue enggak, sih!?” sentak wanita itu kesal dengan spontan melepaskan rengkuhan tangan Rafif yang berada di pinggang. Dalam sekejap wanita itu akan jatuh terjerembab kalau tidak cepat-cepat Rafif raih kembali pinggang ramping yang penuh akan olahraga. “Iya, iya, sekarang lo mendingan tidur aja, Kak. Besok kalau ada waktu, lo bisa cerita lagi sama gue,” ucap Rafif lembut, lalu menjatuhkan dengan lembut tubuh seorang wanita yang tiada hari tanpa mabuk. Sebuah apartemen mewah yang hanya dihuni oleh dua orang itu tampak sangat besar. Regina dan Rafif, keduanya terjebak bersama ketika Rafif dengan sengaja diasuh oleh orang tua Regina. Akibat kejadian memilukan beberapa tahun lalu. Bisa dikatakan Regina dan Rafif layaknya kakak beradik yang saling mengasihi. Hanya saja Rafif memiliki tembok pembatas yang cukup tinggi membuat dirinya merasa tidak nyaman pada keluarga tersebut. Namun, lama-kelamaan Rafif sadar bahwa tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Akhirnya, Rafif pun memutuskan untuk menjaga Regina. Sama seperti ketika wanita itu menjaga dirinya saat ada beberapa anak nakal yang membully dengan sengaja. Semua wanita itu lakukan demi menjaga Rafif agar tidak terjadi sesuatu. Baru saja Rafif hendak menyelimuti tubuh wanita itu, tiba-tiba tangah Regina menahan pergerakan. Membuat Rafif menaikkan alis kanannya bingung. “Ambilin gue minum,” pinta Regina setengah merengek. “Astaga, Kak, kenapa setia lo mabuk pasti aja nyusahin gue,” keluh Rafif terang-terangan, meskipun ia tahu wanita yang kini tersenyum layaknya orang bodoh itu tidak akan mengingatnya. Walaupun terlihat menyebalkan, Rafif tidak akan pernah meninggalkan Regina sampai kapan pun. Sebab, tujuan akhir Rafif menemani wanita itu adalah menemui jodoh yang benar-benar menjaga Regina dengan baik. “Nih, minum dulu,” titah Rafif memberikan sebuah gelas berisikan air minum yang penuh. Dengan patuh Regina tertawa pelan sembari menerima air minum dari adik kesayangannya. Tanpa menunggu lama, air minum yang berada di dalam gelas itu pun tandas membuat Rafif yang melihatnya sedikit terkejut. Nyatanya Regina benar-benar haus. Sebab, wanita itu jarang sekali minum air mineral tanpa perasa sama sekali. Karena sepanjang hidupnya, ia hanya meminum air jus atau pun sari dari buah-buahan yang dibuat oleh orang tuanya. Membuat semua itu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Setelah selesai minum, Regina pun langsung merebahkan diri dengan mata yang terpejam damai. Bahkan tanpa menunggu lama, suara dengkuran halus terdengar membuat Rafif yang baru saja kembali dari dapur menaruh gelas kosong itu pun tertawa pelan. “Begini dari tadi ‘kan damai,” gumam Rafif tertawa pelan, lalu menaikkan selimut yang membungkus tubuh sang kakak. Kemudian, Rafif mematikan lampu kamar agar kualitas tidur sang kakak menjadi lebih baik. Meskipun alasan sebenarnya, ia hanya tidak ingin mendengar jeritan yang membuat telinga para tetangga sakit. Akibat Regina melihat wajahnya sendiri yang benar-benar tidak lagi terbentuk. Selesai menenangkan sang kakak, Rafif memutuskan melangkah ke arah balkon yang masih terbuka menampilkan langit malam bertabur bintang. Sudah lama sekali rasanya ia tidak merasa setenang ini setelah bergelut dengan banyak kasus di sebuah ruangan kecil bersama beberapa rekan kerjanya. Tangan Rafif menyangga tubuhnya di pembatas balkon, lalu menatap ke arah bawah yang terlihat begitu ramai nan padat kendaraan. Mengingat malam ini adalah malam minggu. Sehingga banyak pasangan muda-mudi yang masih menikmati malam panjang. Walaupun pada kenyataannya, malam tetaplah sama, 24 jam. Di tengah Rafif menikmati suasana malam yang sudah lama tidak ia rasakan, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Menandakan ada seseorang menganggu malamnya yang panjang. “Ada apa?” tanya Rafif tanpa melihat nama sang pemanggil, sebab ia hanya memiliki dua nomor di ponselnya, yaitu Regina, dan satu rekan kerjanya. “Rafif, lo enggak buka room chat kita, ya?” tebak seorang lelaki mendengkus kesal. “Enggak,” jawab Rafif singkat dan sesuai dengan kenyataan. “Astaga, cepat lo lihat sekarang!” ucap Grubby terdengar memerintah membuat Rafif melebarkan matanya terkejut. “Grubby, lo lagi bicara sama Rafif atau ketua tim?” tanya Rafif sinis. Sontak hal tersebut membuat seorang lelaki berwajah tampan sekaligus menggemaskan dalam waktu bersamaan itu pun terdiam membisu. Lalu, ia menyadari ucapannya sendiri. “Bicara sama ketua tim,” jawab Grubby meringis pelan. Rafif yang berada di seberang itu pun memutar bola matanya malas, lalu berkata, “Apa yang terjadi?” “Kepala Pimpinan minta lo, gue, sama Beryl pindah divisi,” ucap Grubby mulai terdengar serius. “Apa lo ngelakuin kesalahan saat penyidikan?” tanya Rafif terdengar menyindir sekaligus menusuk. “Bukan,” jawab Grubby menggeleng pelan. “Dari yang gue dengar, katanya sih departemen sebelah kekuarangan personil. Jadi, nunjuk kita bertiga yang lumayan berbakat.” “Lumayan berbakat?” ucap Rafif mengulangi perkataan Grubby dengan nada setengah menyindir kesal. “Jelas yang paling berbakat itu gue,” balas Grubby penuh percaya diri sembari tertawa pelan. Sontak hal tersebut membuat Rafif mendengkus, lalu menutup panggilannya sepihak. Kemudian, ia langsung memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya. Sampai pandangannya kembali menatap ke arah langit gelap yang terlihat jauh lebih cerah ketika bulan datang mengisi kegelapan. Sementara itu, di sisi lain Grubby mendelik tidak percaya ketika panggilannya diputuskan begitu saja. Membuat seorang lelaki yang berada di hadapannya tertawa pelan. Beryl memang benar-benar menyebalkan ketika melihat Grubby selalu saja diacuhkan oleh Rafif. “Rafif benar-benar menyebalkan,” keluh Grubby mendengkus kesal. “Gue bilang juga apa, Rafif itu gunung es yang cairnya Cuma sama Regina,” balas Beryl tertawa pelan membuat Grubby seketika menegakkan tubuhnya. “Maksud lo wanita cantik yang pernah datang ke sini?” Beryl mengangguk singkat. “Itu kakaknya Rafif bernama Regina.” “Gue baru tahu Rafif punya kakak secantik itu,” gumam Grubby tersenyum penuh arti. Akan tetapi, tingkah itu langsung digagalkan oleh Beryl yang memukul kepala sahabatnya sedikit kuat. Bahkan suaranya terdengar menyakitkan. “Ingat, lo kalau nyakiti Regina urusannya sama Rafif,” ucap Beryl serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD