Fajar menyingsing di cakrawala Desa Sukawangi. Kabut tebal yang masih menyelimuti lembah perlahan mulai menghilang. Tapi hawa dingin masih menusuk tulang.
Di teras rumah joglo miliknya, Ki Panji duduk tenang sambil menyesap kopinya yang hitam pekat. Asap dari rokok kreteknya menyatu dengan kabut pagi.
Langkah kaki yang terburu-buru dari kejauhan, memecah keheningan jalanan setapak yang masih basah oleh embun. Pak Karto datang dengan wajah yang jauh lebih cerah dibandingkan semalam. Ia menjinjing seekor ayam cemani yang masih hidup dan sebuah bungkusan kain berisi beras serta beberapa keping uang perak di tangannya. Hasil dari tabungan yang ia sisihkan dengan susah payah dari hasil panennya.
"Ki... Ki Panji," sapa Pak Karto dengan napas tersenggal-senggal sambil bersimpuh di undakan teras. "Bagaimana keadaan putri saya, Ki?"
Ki Panji meletakkan cangkir kopinya. Ia mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat lelah, seolah baru saja melakukan pertempuran besar di alam gaib. Matanya dibuat sedikit sayu, memberikan kesan bahwa energinya terkuras habis demi menyelamatkan Lestari.
"Tenang, Karto. Anakmu sudah sadar," suara Ki Panji terdengar berat. "Makhluk itu sangat kuat, ia hampir saja merobek sukma Lestari. Tapi beruntung, kekuatan leluhur yang kupanggil berhasil memukul mundur jin itu. Sekarang, rahim dan jiwa anakmu sudah bersih."
Pak Karto nyaris menangis mendengarnya. Ia berkali-kali mencium lantai teras sebagai tanda syukur. "Terima kasih, Ki. Terima kasih banyak. Ini... ada sedikit tanda terima kasih dari saya. Mohon diterima, Ki."
Ki Panji melirik ayam cemani dan bungkusan uang itu dengan tatapan meremehkan, namun ia tetap mengangguk. "Letakkan saja di sana. Harta hanyalah titipan, Karto. Yang penting adalah keselamatan anakmu. Panggillah dia keluar, kita lihat apakah dia benar-benar sudah pulih sekarang."
Lestari keluar dari dalam rumah dengan langkah yang sedikit limbung. Wajahnya yang cantik tampak bingung, ia memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Ada rasa nyeri yang aneh di bagian bawah perutnya dan pangkal paha, namun ia hanya mengira itu adalah efek samping dari pertempuran antara Ki Panji dan roh jahat yang merasukinya semalam.
"Bapak?" bisik Lestari pelan.
"Nduk, kamu sudah sehat? Sembah sujud pada Ki Panji, Nduk. Beliau yang menyelamatkan nyawamu semalam," perintah Pak Karto.
Lestari menatap Ki Panji. Saat matanya bertemu dengan mata tajam sang dukun, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada ikatan yang tidak ia mengerti. Ingatannya tentang semalam tidak begitu jelas. Tentang rasa hangat, sentuhan lembut, dan desahan yang ia kira adalah bagian dari mimpi suci.
"Terima kasih banyak, Ki..." Lestari menunduk dalam, tangannya gemetar saat menyentuh tangan Ki Panji untuk bersalaman.
Ki Panji sengaja menggenggam tangan Lestari lebih lama. Mengelus punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang tampak akrab bagi seorang dukun dan pasiennya.
"Jaga dirimu baik-baik, Nduk. Jika kau merasa lemas atau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, datanglah kemari lagi. Pembersihan ini terkadang butuh dua atau tiga kali ritual agar benar-benar tuntas."
Lestari hanya mengangguk dengan patuh. Setelah Pak Karto dan Lestari pamit, Ki Panji kembali ke kursinya dengan senyum keberhasilan.
Matahari semakin tinggi, rumah Ki Panji kembali didatangi tamu. Mbak Ratna—janda pemilik kedai kopi di desa itu. Tubuhnya sangat berisi, dengan lekukan yang selalu membuat mata pria di desa itu melotot. Bokongnya padat, dadanya juga menonjol.
Mbak Ratna datang dengan wajah yang ceria. Ia berjalan dengan gemulai, melirik Ki Panji dengan tatapan yang penuh arti. Ratna adalah salah satu dari selir tersembunyi Ki Panji yang paling setia. Ia tidak butuh mantra untuk tunduk, karena ia sudah lama terikat dalam simbiosis mutualisme yang panas dengan sang dukun.
"Pagi yang cukup sibuk, Ki?" suara Ratna terdengar lembut dan menggoda.
"Begitulah, Ratna. Warga desa ini terlalu banyak masalah," jawab Ki Panji sambil memberikan isyarat agar Ratna masuk ke dalam ruang ritual yang tertutup.
Pintu jati itu kemudian tertutup, suasana langsung berubah. Ratna meletakkan tasnya dan langsung menghampiri Ki Panji, memeluk pria itu dari belakang.
"Aku dengar semalam Karto membawa anaknya kemari. Apa Ki Panji membersihkannya juga seperti Ki Panji membersihkanku dulu?"
Ki Panji tertawa kecil, ia membalikkan tubuhnya dan langsung merangkul pinggang Ratna yang ramping. "Jangan cemburu, Ratna. Setiap bunga di desa ini punya harum yang berbeda. Tapi kau tahu, kaulah yang paling mengerti bagaimana cara melayaniku tanpa perlu mantra."
Tangan Ki Panji mulai berjelajah di balik kebaya ketat yang dikenakan Ratna. Ratna merespons dengan agresif. Ia tahu bahwa mendekat pada Ki Panji berarti keamanan bagi bisnisnya dan kepuasan bagi batinnya yang sudah lama haus semenjak suaminya meninggal.
"Ki, aku butuh jimat baru untuk kedaiku. Akhir-akhir ini rasanya sangat sepi." Bisik Ratna sambil menggigit lembut telinga Ki Panji.
"Akan ku berikan. Tapi itu tidak gratis, Ratna. Kau tahu apa maharnya," jawab Ki Panji dengan suara yang penuh gairah.
Ki Panji mengangkat tubuh Ratna dan mendudukkannya di atas meja jati tempat ia biasa menaruh kemenyan. Di ruangan yang masih berbau sisa ritual semalam, ia kembali memuaskan nafsunya. Ki Panji membuka seluruh pakaian Ratna. Menciumi setiap lekuk tubuh Ratna yang indah. Ratna mendesah keras, tidak peduli jika ada warga yang lewat di depan rumah. Karena semua orang tahu bahwa saat pintu rumah Ki Panji tertutup, ritual suci sedang berlangsung dan tidak ada yang berani mengganggu.
Di desa ini, aturan moral hanyalah sekadar ilusi bagi Ki Panji. Ia adalah hukum di sana, ia adalah Tuhan, dan setiap wanita di desa ini hanyalah properti yang siap ia petik kapan saja ia mau.
Setelah selesai bermain berjam-jam, Ratna merapikan pakaiannya dengan wajah puas. Ia keluar dari rumah Ki Panji dengan langkah yang angkuh, seolah ia membawa berkah yang tidak dimiliki wanita lain di desa.
Ki Panji kembali menyalakan rokok kreteknya lagi.
Ia menatap keluar jendela, melihat desa yang tampak damai namun sebenarnya busuk dari dalam. Baginya... desa ini adalah surga pribadi.