bc

MANTRA PENGIKAT SUKMA

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
doctor
drama
bxg
serious
campus
mythology
small town
like
intro-logo
Blurb

Perlindungan Ki Panji di Desa Sukawangi, adalah perisai sekaligus jerat tipu daya. Ia menjaga sawah tetap menguning dan wabah tetap bungkam. Namun ia menagih upeti berupa kesucian kembang desa yang ia hisap pelan-pelan di kegelapan malam.Mantra yang ia bisikkan bukan sekadar kata-kata biasa, melainkan benang gaib yang mengikat urat nadi para korbannya hingga mereka menjadi raga tanpa jiwa.Logika kedokteran dan kekuatan doa yang dibawa dua orang asing dari kota hanyalah gangguan kecil—sebelum Ki Panji memutuskan untuk benar-benar melepas apa yang selama ini ia kurung."Jangan melawan. Tunduk dan patuhlah. Maka...kalian akan selamat."

chap-preview
Free preview
01. Ritual Pembersihan Sukma
Asap kemenyan mengepul tebal di ruangan yang remang itu. Hanya ada cahaya yang berasal dari sepasang lilin merah yang mulai meleleh di sudut meja kayu jati tua. Bau bunga mawar yang membusuk bercampur dengan aroma tajam tembakau milik Ki Panji, membuat sesak bagi siapa pun yang tidak terbiasa menciumnya Di atas kursi kayu besar miliknya, Ki Panji duduk dengan tenang. Wajahnya yang tegas dengan garis rahang yang keras memberikan kesan wibawa yang tak bisa terbantahkan. Ia mengenakan beskap hitam dengan kain jarik bermotif parang yang melilit pinggangnya. Sebuah keris dengan gagang berlapis emas terselip di punggungnya, memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. "Sembah sujud, Ki... Tolong anak saya," suara parau itu memecah keheningan. Pak Karto—seorang petani tua dengan baju yang lusuh bersimpuh di lantai tanah. Seorang gadis muda bernama Lestari terbaring lemas di atas amben bambu di sampingnya. Lestari baru berusia sembilan belas tahun dengan kulit sawo matang yang bersih dan tubuh yang mulai merekah. Matanya terpejam, napasnya tersengal-sengal, dan keringat dingin membasahi keningnya. Ki Panji mengisap rokok kreteknya lalu menghembuskan asapnya tepat ke arah Lestari. Matanya yang tajam menyisir lekuk tubuh gadis itu dari ujung kaki hingga ke dadanya yang naik-turun tak teratur. Seringai tipis muncul di bibir sang dukun, namun segera ia tutupi dengan wajah serius. "Anakmu ini bukan sakit biasa, Karto," suara Ki Panji terdengar bergema di ruangan itu. "Ada penunggu hutan larangan yang menempel di rahimnya. Jika tidak segera dipindahkan, sukma anakmu akan diseret ke alam mereka sebelum ayam berkokok esok pagi." Pak Karto gemetar hebat. Ia merangkak mendekat, mencium kaki Ki Panji yang mengenakan selop hitam. "Lakukan apa saja, Ki! Saya tidak mau kehilangan satu-satunya anak saya. Berapa pun maharnya, akan saya usahakan!" Ki Panji berdeham pelan. "Mahar bukan urusan utama sekarang. Nyawa anakmu di ujung tanduk. Tapi ritual ini sangat berbahaya. Kau tidak boleh ada di sini. Kehadiranmu hanya akan memicu amarah makhluk itu." "Lalu apa yang harus saya lakukan, Ki?" "Pulanglah. Siapkan sesaji berupa ayam cemani dan kembang tujuh rupa. Letakkan di perempatan desa tepat tengah malam nanti. Jangan menoleh ke belakang sampai kau masuk ke dalam rumah. Biarkan Lestari di sini. Aku akan melakukan ritual penyucian sukma agar makhluk itu melepaskan ikatannya." Perintah Ki Panji dengan nada yang tak bisa dibantah. Pak Karto yang sudah buta oleh ketakutan dan takhayul, hanya bisa mengangguk patuh. Ia segera bangkit dan memberikan hormat terakhir sebelum melangkah keluar dengan terburu-buru, meninggalkan putrinya di bawah kekuasaan sang dukun sakti. Setelah pintu kayu jati itu tertutup rapat dan suara langkah kaki Pak Karto menghilang, Ki Panji bangkit dari kursinya. Langkah kakinya mendekati amben tempat Lestari berbaring. Ia berdiri di samping gadis itu, memandangi wajah cantik yang sedang dalam pengaruh mantra tidurnya. Ki Panji memang dukun sakti, ia tahu Lestari tidak sedang diganggu jin hutan. Gadis ini hanya kelelahan dan ia beri sedikit sentuhan ilmu batin agar jatuh pingsan saat memasuki rumahnya. "Cantik sekali kau, Nduk." Bisik Ki Panji. Jarinya yang kasar dan berhias cincin batu akik besar mengelus pipi Lestari yang halus. "Sayang sekali kalau kecantikanmu ini hanya dinikmati oleh pemuda desa yang tidak punya apa-apa." Ki Panji mulai merapal mantra. Mantra Aji Asmara Dahana—sebuah ilmu yang bisa membuat wanita yang disentuhnya menjadi tunduk dan terangsang dalam alam bawah sadarnya. Suaranya yang rendah, merayap masuk ke telinga Lestari. Gadis itu menggeliat pelan dalam tidurnya. Ki Panji mulai melepaskan ikat pinggang kain milik Lestari dengan perlahan. Setiap bagian tubuh yang terungkap, membuat mata sang dukun semakin berkilat penuh nafsu. Baginya, ini adalah upah yang sebenarnya. Uang dari para petani hanyalah tambahan, tapi kesucian para gadis desa adalah sumber energi yang membuatnya tetap terlihat awet muda dan berwibawa. "Kau harus dibersihkan... dari ujung kepala hingga ke tempat yang paling dalam." Gumamnya dengan nada yang bergetar karena gairah. Tangan Ki Panji mulai bekerja. Ia membasuh tubuh Lestari dengan air bunga yang sudah ia beri jampi-jampi. Gerakannya tidak seperti seorang tabib yang sedang menyembuhkan pasien. Sentuhannya sengaja dibuat sensual, menekan di titik-titik sensitif yang membuat napas Lestari mulai memburu. Tangannya memijat-mijat tubuh lestari yang terlihat montok. Gadis itu masih terpejam, namun bibirnya mulai terbuka sedikit. Mengeluarkan desahan halus yang sangat tipis. Di alam bawah sadarnya, Lestari merasa seolah sedang berendam di air hangat yang sangat nyaman. Sementara ribuan tangan halus membelainya dengan penuh kasih sayang. Ia tidak sadar bahwa, Ki Panji sedang memuaskan nafsu bejatnya di atas tubuhnya yang tak berdaya. Ki Panji semakin berani. Ia menanggalkan beskap hitamnya, memperlihatkan tubuhnya yang masih kokoh meski usianya sudah masuk kepala empat. d**a bidangnya yang dipenuhi tato rajah perlindungan bergerak naik turun. Nafsunya sudah di ubun-ubun. Ia menarik kain jarik yang menutupi bagian bawah tubuh Lestari. Sambil terus berkomat-kamit seolah melakukan ritual suci. Lalu mulai menjajahi wilayah terlarang gadis itu. Ia tidak ingin meninggalkan bekas memar yang mencurigakan, ia ingin memastikan bahwa Lestari benar-benar ia miliki sepenuhnya malam ini. "Jadilah milikku, Nduk. Sukmamu, tubuhmu... semuanya akan menjadi penguat ilmuku," ucapnya sebelum ia memposisikan dirinya di antara kedua kaki gadis malang itu. Ki Panji memainkan nafsunya yang liar. Setiap yang ia lakukan, membuat Lestari mendesah dan bergeliat. Ki Panji benar-benar tidak ingin melewatkan satu pun bagian tubuh Lestari. Malam itu di bawah temaram lilin dan aroma kemenyan yang menyesakkan, sebuah dosa besar dilakukan atas nama keselamatan. Ki Panji bergerak dengan buas namun penuh kendali, merenggut apa yang selama ini dijaga ketat oleh Pak Karto. Lestari hanya bisa menerima setiap hentakan dan sentuhan sang dukun, tertipu oleh mantra yang menyulap rasa sakit menjadi kenikmatan semu di alam mimpi. Setelah satu jam berlalu, Ki Panji ambruk di samping Lestari dengan napas tersenggal-senggal. Ia merasa puas. Kekuatannya terasa pulih kembali, dan birahinya telah terpuaskan untuk sementara. Dengan sisa tenaganya, ia merapikan kembali pakaian Lestari, menghapus sisa-sisa ritual bejatnya dengan kain basah yang sudah dijampi-jampi agar tidak meninggalkan bau ataupun jejak. Ki Panji kembali duduk di kursinya, menyalakan rokok kretek baru, dan menatap Lestari yang masih tertidur lelap dengan rona merah di pipinya. "Satu lagi selir dalam koleksiku," batinnya sambil tersenyum puas. Ia akan memberitahu Pak Karto esok pagi, bahwa ritual berhasil. Dan Lestari sudah bersih dari gangguan jin. Warga desa akan kembali memujanya sebagai penyelamat.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
632.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.2M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
870.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
303.9K
bc

Not just, the Beta

read
311.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.0M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook