4. Romanticism 3.50

1569 Words
"Ruth, kamu sama Arka gimana?" Ruth menoleh menatap sang ayah. "Ga gimana-gimana, Yah," sahut Ruth. Perempuan itu kembali fokus menonton sinetron favorit bundanya. Ia melirik ke arah bunda yang tampak khusyuk menonton adegan menangis si protagonis dalam sinetron itu sebentar, lalu kembali memfokuskan atensinya menonton sinetron itu. "Kapan terakhir kali kalian ketemu?" Ayah kembali menginterupsi. Pria itu beralih duduk di sebelah bunda lalu membuka tutup toples yang berisikan kacang polong lalu ikut melihat ke layar televisi sembari memasukkan kacang berwarna hijau itu ke dalam mulutnya sesekali. "Sekitaran dua minggu— eh, tiga minggu yang lalu deh kayaknya." Ruth melirik ke arah sang ayah. "Ga inget lagi, Yah. Udah lama banget soalnya," ujar Ruth. Ia menampakkan cengirannya pada ayahnya. Ayah menghela napas. Baik Karina ataupun Ruth ... kedua putrinya itu sama-sama meresahkan sekali. "Keputusan kamu gimana, Ruth? Kamu udah ngomongin soal ini sama Arka?" tanya bunda. Wanita itu akhirnya ikut nimbrung kala jeda iklan baru saja dimulai.. Ruth terdiam sejenak. Menatap ayah dan bunda bergantian. "Masih gak tahu. Aku juga belum omongin soal ini sama Arka." "Kalau lusa masih belum ada keputusan, Ayah anggap kamu setuju. Dalam bulan ini kalian harus sudah menikah," tegas sang ayah. Ruth terbelalak. "Ayah jangan ngadi-ngadi. Ya kali aku langsung nikah bulan ini juga? Belum lagi nyiapin gaun pernikahan dan segala-galanya itu. Pasti bakalan ngabisin banyak waktu." "Gaun pernikahan 'kan udah ada punya Karina. Kamu pake aja punya kakak kamu. Masih baru juga 'kan itu," ujar bunda. Ruth merengut, mengerucutkan bibir pada bundanya. "Nanti kalau akunya ditinggal nikah sama Arka juga gimana, Bun? Bunda mau tanggung jawab? Eh— tapi gapapa juga sih. Malah bagus juga—" Omongan Ruth terhenti sewaktu sang ibunda menyentil jidatnya. Ruth meringis seraya mengusap jidatnya yang terasa perih. Sejujurnya Ruth sudah menduga bahwa bunda akan mengusulkan hal tersebut. Karena itu Ruth tidak tampak terkejut dengan ujaran sang bunda. Ruth ... perempuan itu bukannya tidak mau. Hanya saja, ia ingin menghindari hal-hal yang harus dihindarinya. Seperti mengenakan gaun pengantin yang pernah dikenakan oleh kakaknya, Karina. Sudah menjadi rahasia umum kalau pernikahan kakaknya itu tidak berhasil. Lagi pula jika dipikir-pikir lagi, Karina kenapa masih menyimpan gaun yang memiliki banyak kenangan menyakitkan hati itu sih? Harusnya 'kan dibuang saja. Tapi jika dipikir-pikir sekali lagi, sayang juga kalau gaun semahal itu lenyap hanya karena kejahatan seorang lelaki seperti mantannya Karina itu. "Pakai yang baru dong. Boleh ya, Bun?" Ruth memelas pada bunda. "Enggak! Kita mesti hemat pengeluaran," tegas wanita itu. "Nikah 'kan cuma sekali seumur hidup ... masa sih nanti kalau udah tua pas lagi mengenang masa lalu malah diketawain Kak Karin karena aku pake baju pengantin yang gagal nikah? Sewa juga gapapa deh, Bunda," ucap Ruth. "Berarti kamu mau 'kan nikah sama Arka?" Ayah nampak menaikkan sebelah alisnya menatap Ruth. "Masih belum tahu, Ayah." Ruth terdiam sejenak. "Aku samperin Arkanya dulu deh besok," ujarnya. * "Permisi. Arka ada, Mbak?" "Pak Arka baru saja keluar. Ada apa ya, Mbak?" Ruth terdiam sesaat. Perempuan itu memperhatikan ke arah sekitarnya. "Eum ... Arka ada ngasih tahu mau ke mana?" Sang barista melongo mendengar pertanyaan Ruth, ya kali atasannya tatkala mau pergi berpamitan dulu pada pegawai yang bahkan ia sendiri tidak yakin bahwa Arka tahu keberadaannya. Barista itu tersenyum kikuk pada Ruth. "Kalau itu sih ... mungkin bisa Mbak tanyain sama Mas Edwin, Manajer—" "Kak Arka ada?" Keduanya mengalihkan atensi melihat kedatangan seorang siswi berseragam putih - abu. "Pak Arka baru saja keluar, Dek," ujar si barista. "Ya udah deh. Kak, tolong yang kayak biasa ya," ucap pemudi itu sembari melepas dasi yang dikenakannya. Barista itu mengangguk lalu menoleh melirik Ruth. "Mbak masih ada yang mau ditanyain?" Ruth menggeleng cepat. "Makasih ya, Mbak." "Sama-sama." Diam-diam Ruth memperhatikan gerak-gerik siswi yang juga mencari keberadaan Arka. Siswi itu berjalan meninggalkannya lalu duduk di kursi dekat dinding kaca. Sekali lagi Ruth mencoba memperhatikan dengan saksama tanda nama yang melekat di seragam siswi itu. Ia melihat jelas nama yang tertulis di tanda namanya. Yumi Lilia. Ruth ingat betul, Arka pernah membahas tentang Yumi tatkala insiden scrunchie malam itu. Perlahan, Ruth beranjak menghampirinya. "Ehm." Mendengar dehaman seseorang yang tidak dikenalnya, gadis itu mendongak menatap Ruth. "Kamu adiknya Arka, 'kan?" Yumi diam memperhatikan. Pemudi itu menatap Ruth penuh sangsi. Selama ini yang suka sok kenal dengannya hanyalah perempuan-perempuan yang juga sok kenal, sok akrab dengan Arka. "Kakak siapa ya?" Ruth terdiam. Respon yang ditunjukkan Yumi untuknya membuat perempuan itu mengerutkan kening. "Ruth Anasthasia ... pernah dengar tentang Kakak?" tanya Ruth. "Emang Kakak sepenting Ludwig van Beethoven?" Ruth mematung. Mungkinkah gadis di hadapannya itu bukan Yumi yang dimaksud Arka? Tatapan sinis Yumi yang kian menjadi-jadi membuat mental Ruth kian menciut. "Kalau enggak silakan angkat kaki dari tempat ini ... kalau enggak ada niatan pesan apapun di sini," ujarnya. "Ganggu aja." Ruth meringis. Bagaimana bisa seorang gadis yang masih berstatus sebagai pelajar mengucapkan kalimat seperti itu? Sesaat kemudian ia tersadar. Zaman telah berubah. Kalimat yang dilontarkan Yumi benar-benar tajam. Sementara Yumi nampak tak acuh. Gadis itu mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas. Lalu menata rapi buku-buku itu ke sudut meja dan mengambil salah satu buku ... eh, sebentar! Sudut bibir Ruth melengkung ke atas. Perempuan itu menarik kursi lalu duduk tepat di hadapan Yumi. Yumi menatap tajam pada Ruth. "Kakak udah selesai baca novel itu," ucap Ruth tanpa membiarkan Yumi mengeluarkan sumpah serapahnya lagi. Ya, bacaan yang dipilih Yumi bukanlah buku pelajaran ... seperti buku tentang anatomi tubuh atau apalah itu. Melainkan, Yumi memilih membaca buku fiksi yang sangat digemari oleh remaja seusianya. Novel. "Kamu udah selesai baca? Kalau udah, ayo kita bahas bareng." Ruth berujar penuh semangat. "Kamu tau ga ... penulis novel ini siapa?" "Ga usah sok akrab," tegas Yumi. "Tujuan Kakak nyamperin aku buat apa sih?" Ruth tersenyum. "Kamu adiknya Arka, 'kan?" Yumi berdecak. "Iya. Kenapa? Ada urusan apa Kakak sama Kak Arka?" "Urusan penting sih. Menyangkut kehidupan Kakak sama Kakak kamu juga." Yumi terperangah. "Maaf aja nih ya, Kak. Tapi Kak Arka ga suka sama perempuan yang agresif. Mending Kakak pulang aja deh. Lagi pun Kak Arka lagi ga ada juga." Ttak. "Sok tahu banget kamu soal tipe ideal Kakak, Yu." Yumi meringis. Gadis itu mengusap pelipis sebelah kiri yang baru saja kena jitakan Arka yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekatnya. "Sakit, Kak Arka." "Tapi kamunya masih bisa napas tuh. Jadi gapapa," ucap Arka. Lelaki itu beralih duduk di sebelah Yumi. "Ini adik aku ... Yumi." Arka memperkenalkan adiknya pada Ruth. "Yu, kenalan dulu sama—" "Dih. Ga penting banget." Yumi kembali membuka novelnya tanpa menghiraukan keberadaan Ruth. Geram dengan kelakuan sang adik, Arka kembali menjitak Yumi. "Kak Ruth ini calon istri Kakak. Calon Kakak ipar kamu." Novel yang dipegang Yumi terlepas dari pegangannya. Tatapannya membelalak menatap Ruth. "B-beneran?" Arka maupun Ruth, keduanya sama-sama mengangguk. "Kok ga bilang dari tadi sih, Kak?" Yumi mencebikkan bibir. Gadis itu menutupi wajah dengan novel yang masih dipegangnya. Ruth tertawa. "Kamunya ga mau tau sih tadi. Padahal dari tadi juga Kakak mau ngasih tahu." "Oya, Ruth ... kamu ke sini pasti mau ngomongin sesuatu, 'kan?" Ruth mengangguk. "Ayo. Ke ruangan aku aja." Arka menarik novel yang dipegang Yumi untuk menutupi wajahnya. "Kamu tunggu di sini dulu. Nanti Kakak anterin pulang." * "Jadi gimana menurut kamu, Ar? Lanjutin aja boleh, 'kan?" "Boleh sih. Tapi kamu beneran mau ngelanjutin?" Arka kembali memfokuskan tatapannya pada Ruth. "Sebenarnya Mama udah nyiapin segala kebutuhan acara kita nanti. Cuma tinggal baju pengantin doang. Mama terus nyuruh aku ngajak kamu ke butiknya. Tapi ...." Ruth mengangguk beberapa kali. "Lagi pun lucu juga ya kita. Padahal yang bakalan nikah tuh kita. Tapi yang ngurusin semuanya malah orang tua kita masing-masing." Arka tertawa mendengarnya. "Ini karena pernikahan yang orang tua kita rencanakan. Bukan kita." "Omong-omong ... adik kamu, Yumi suka banget baca novel?" "Aku ga tahu. Tapi dari yang kulihat sih kayaknya iya. Soalnya dia lebih sering baca novel daripada baca buku pelajaran," ujar Arka. "Kamu? Sukanya apa?" "Banyak hal yang aku suka. Kalau aku sebutin satu-satu takutnya kamu bakalan bosen." Ruth beranjak dari sofa. Berjalan mengelilingi ruang kerja Arka. "Aku boleh liat-liat 'kan, Ar?" Arka mengangguk cepat. "Boleh kok. Boleh." Ia tampak fokus memperhatikan tiap langkah Ruth. Tiba-tiba saja, ia teringat akan suatu hal. "Ruth, setahuku ... aku lebih tua dua tahun dari kamu." Ruth menoleh menatap Arka. "Jadi? Kamu mau aku panggil apa? Abang? Kakak? Atau ... Sayang?" Arka bergidik. "Enggak! Panggil nama aja." Arka berjalan mendekati Ruth. "Ngeri juga dengerin kamu manggil aku begitu." Ruth dibuat tertawa dengan jawaban Arka. "Kamu tahu ga aku minta apa sebagai hadiah pernikahan kita ke Papa?" Ruth menoleh menatap Arka. Perempuan itu bersedekap dengan sebelah tangannya menopang dagu. "Harta warisan Om Purnama buat kamu semua?" "Salah!" Arka terkekeh mendengar hal tersebut. "Kalau aku minta itu kayaknya sampe kapan pun ga akan dikasih. Kasian juga Yumi kalau ga kebagian apa-apa. Ayo coba tebak lagi." Ruth menyipitkan mata menatap Arka. Perempuan itu memperhatikan Arka dengan saksama. "Semua cabang restoran yang dirintis Om Purnama pengen kamu ambil alih?" terka Ruth lagi. "Salah juga." Arka tersenyum lebar. Lelaki itu bersedekap, menaikkan dagunya menatap Ruth dengan arogan. "Terus apa dong?" Ruth mulai dongkol karena terkaannya tidak ada yang tepat. Arka tersenyum. Lelaki itu memperlihatkan layar ponselnya yang berisi percakapan teks pesan dengan papa pada Ruth. Ruth terperangah. Menatap Arka dengan raut wajah yang amat sulit diartikan. Ruth berjinjit berusaha menyamakan tingginya dengan Arka. Ttak. Perempuan itu memberi sentilan di dahi Arka. Arka meringis kesakitan. "Bisa-bisanya kamu minta dibeliin rumah atas namamu ke Papa Mertua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD