Sembari menyandarkan tubuh ke dinding, Ruth menatap langit-langit kamar tidurnya yang banyak ditempeli stiker berbentuk bintang. Sesaat kemudian Ruth beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan perlahan ke arah jendela lalu membuka jendela kamar dan berdiri di sana sembari menatap ke arah luar. Di jalanan depan rumahnya, tampak dua orang pemuda yang tengah berlari pelan. Di lain sudut, tepat di depan rumah tetangganya tampak seorang paruh baya tengah bercengkerama dengan seorang gadis yang belum pernah dilihat Ruth di area perumahannya.
Omong-omong, lusa merupakan hari pernikahan Ruth dengan Arka. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan menikah lebih dahulu melangkahi sang kakak, Karina. Hal yang lebih tidak disangkanya ialah ... Ruth benar-benar menerima perjodohan yang bermula dari nilai IPK.
Ruth menghirup dalam-dalam udara bersih di pagi hari. Samar-samar bibir Ruth tampak melengkung ke atas.
"Mungkin ini yang terbaik buat Ruth Anasthasia."
Perempuan itu bergumam. Mensugesti diri untuk berpikir lebih positif.
Ruth berbalik kala mendengar suara ketukan pintu. Pagi-pagi begini tidak mungkin bunda yang mengetuk pintu kamarnya. Kalau Karina ... sudah pasti bukan Karina. Ruth sangat tahu bahwa Karina tidak akan pernah mengetuk pintu kamarnya lebih dahulu. Kakaknya itu selalu masuk dan keluar kamar Ruth semaunya.
"Ruth, kamu udah bangun?"
Mendengar suara tersebut, seketika Ruth tampak sumringah. Perempuan itu buru-buru berlari untuk membuka pintu kamar.
Ruth memeluk erat seorang wanita tua yang berdiri tepat di depan kamarnya. "Nenek kapan nyampe ke sini?"
Wanita tua itu tersenyum. Tangan keriputnya bergerak mengusap surai rambut Ruth, cucunya. "Udah dari semalam. Tapi kamu tidurnya pulas banget."
Ruth melepas pelukan. Ia menyengir ke arah neneknya itu. "Kenapa ga bangunin langsung aja, Nek?"
"Rencananya sih begitu. Tapi kasihan juga kalau calon pengantin ga punya cukup waktu untuk tidur," ucap nenek. "Yuk, turun. Kita sarapan dulu."
Ruth menurut. Ia menggandeng tangan neneknya dengan manja.
Tiba-tiba Ruth menyadari suatu hal. Pantas saja dari tadi Ruth mendengar suara berisik dari lantai bawah.
Menjelang dua hari, hari pernikahan ... wajar saja jika kerabat-kerabatnya berdatangan ke rumah.
Ruth mulai menyapa satu persatu saudara-saudaranya. Mulai dari yang lebih tua lalu ke yang lebih muda.
"Udah mau nikah tapi bangunnya tetap telat."
Ruth mendelik menatap sepupunya yang sangat identik dengan kacamata minus yang hampir setiap hari dipakainya. Sepupu Ruth yang satu ini memang sering kali menyimpan akhlaknya di kantong. "Suka-suka aku dong, Fei."
"Cie ... Ruth udah ga jomblo lagi."
Perempuan itu menoleh menatap sepupu laki-lakinya. Melihat ekspresi sepupunya yang penuh dengan kejulidan itu membuat fisik dan batin Ruth benar-benar tersiksa. Mentalnya bisa-bisa lenyap jika harus menghadapi sepupu-sepupunya yang suka lupa dengan yang namanya akhlak. "Ih, apa sih, Kak?! Lebay banget." Ruth mendelik ke arah lelaki itu.
Fei, sepupu Ruth yang tidak kalah julidnya menarik pergelangan Ruth membawanya pergi dari ruang keluarga.
"Kamu mau aku kasih apa sebagai hadiah pernikahan?" tanya Fei.
Ruth terdiam. Tidak biasanya Fei berbaik hati begitu padanya. Fei ... tidak kerasukan arwah baik hati 'kan selama di perjalanan? Namun begitu, niat baik Fei tidak boleh disia-siakan. "Apa aja boleh sih, Fei. Tapi kalau bisa ya ... aku maunya cuma emas batangan. Cukup itu aja. Aku ga akan minta lebih kok. Hehe."
Fei memukul lengan Ruth. Ada-ada saja memang kelakuan Ruth. Fei yang memang sudah miskin mau dibuat semiskin apa oleh Ruth?
"Kamu udah mau nikah masih aja kelakuannya nyebelin begini." Fei berdecak. "Mintanya jangan yang mahal-mahal. Bentar lagi akhir bulan jadi aku mesti pinter-pinter ngurus isi dompet. Jangan minta yang aneh-aneh juga."
"Ih, pelit banget. Sama saudara sendiri juga."
"Ih, pilit bingit. Simi siidiri sindiri jigi."
Ruth berkacak pinggang menatap Fei. "Ngeselin banget!!"
Fei tertawa sinis. "Biar." Perempuan itu berlari meninggalkan Ruth yang nampak ingin membalas perbuatannya.
"Ruth."
Ruth menoleh menatap Karina yang tengah memoles wajahnya dengan buru-buru. "Katanya hari ini mau ambil cuti, Kak. Kok malah berangkat?"
"Gak tau nih, Dek. Si bos maksa nyuruh aku datang. Anterin aku sebentar yuk," ucap Karina.
"Minta anterin sama Ayah aja sih, Kak. Atau bawa mobil sendiri aja sana."
"Ayah lagi asik ngobrol sama Om. Aku juga lagi males bawa mobil hari ini. Ayo, cepetan!"
Ruth mendesah berat. "Ya udah, Kak Karin tunggu sebentar. Aku mau ambil roti dulu buat ngisi perut."
Karina beranjak ke luar lebih dulu. Sementara Ruth kembali ke dapur.
Ruth berbinar. Makanan yang telah tertata rapi di meja benar-benar menggugah seleranya. Namun karena waktu yang cukup singkat, terpaksa ia hanya memakan sepotong roti.
"Kamu mau nganterin Kakakmu 'kan, Ruth?"
Ruth menoleh mendapati bunda yang kini berdiri di hadapannya. Ia mengangguk mengiyakan.
"Karina ga sempat sarapan. Kayaknya dia buru-buru banget. Jadi kamu kasih bekal ini buat Karina ya."
"Siap, Bunda."
*
Ruth menepikan mobil ke pinggir jalan kala melihat keberadaan seseorang yang tampak tidak asing baginya.
Yumi.
Entah bagaimana kronologi ceritanya, Ruth benar-benar dibuat bingung karena Yumi tengah berjalan sembari sesenggukan.
"Yumi ...,"
Langkah Yumi mendadak terhenti. Gadis itu mengusap pipi dengan buru-buru.
"Mau ke sekolah 'kan, Dek? Sini masuk. Kakak anterin," ujar Ruth.
"Gapapa, Kak. Aku bisa berangkat sendiri." Yumi menolak tawaran Ruth. Gadis itu kembali berjalan dengan langkah yang lebih cepat.
"Kamu memang bisa. Tapi jalan kaki sampe ke sekolah kapan nyampenya?" Ruth menarik membawa Yumi masuk ke dalam mobil secara paksa.
Entah mengapa tatkala Ruth menariknya, meski Yumi ingin melawan ... pergerakan gadis itu malah terhenti. Hingga ia benar-benar berakhir memasuki mobil berwarna hitam tersebut.
Ruth ikut masuk ke dalam mobil. Perempuan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Secara diam-diam, Ruth melirik ke arah Yumi sejenak lalu memberi Yumi sekotak tisu. "Nih. Pake semau kamu. Habis juga gapapa. Bisa Kakak beli lagi nanti."
Yumi berusaha keras menahan tangisnya. Sungguh, ia sangat tidak ingin menangis di depan orang lain. Lebih-lebih lagi di hadapan Ruth. Calon kakak iparnya.
"Omong-omong kamu sekolah di mana, Dek?" tanya Ruth. Ia melirik ke arah Yumi sebentar lalu kembali fokus memandang ke arah jalanan yang masih tampak sepi.
"SMA Pertiwi, Kak."
Ruth tampak diam. Ia tengah berusaha mengingat nama sekolah itu. SMA Pertiwi. Itu terdengar begitu familiar di telinganya. "Sekolah yang terkenal banget itu ya? Yang katanya kalau lulusan SMA itu udah dapat jaminan bakalan langsung diterima pas daftar masuk universitas mana pun."
"I-iya, Kak," jawab Yumi dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ruth ingat sekarang. SMA Pertiwi merupakan sekolah yang sangat dibencinya dulu karena sewaktu mendaftar di universitas favoritnya, ia tidak diterima. Sementara seseorang dari SMA Pertiwi langsung diterima tanpa harus bersusah payah seperti dirinya. Ruth merasa diperlakukan dengan tidak adil, ya walaupun nyatanya kapasitas otak perempuan itu benar-benar telah memenuhi limit.
"Udah kelas berapa?"
"Masih kelas 10, Kak."
"Tadi kenapa, Dek? Kamu ditelantarin Arka di jalan?"
Yumi menggeleng spontan.
"Boleh Kakak tau alasannya?"
Yumi terdiam. Gadis itu terlihat tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ruth.
"Ga akan Kakak bocorin ke siapa pun kok. Meskipun orang itu Arka, bakalan Kakak jaga dengan ketat apa yang kamu omongin."
Tampaknya Yumi masih enggan untuk membahas hal itu.
Ruth tersenyum maklum.
"Udah nyampe nih, Dek."
Yumi menoleh menatap Ruth. Namun fokus gadis itu tiba-tiba teralihkan.
Ruth mengikuti arah pandang Yumi.
"Jadi yang nelantarin kamu di jalan bukan Arka, tapi pacar kamu."
Yumi terkesiap.
Tebakan Ruth sangat tepat.
"Cewek yang sama dia itu siapa? Ga mungkin 'kan kalau saudaranya?" Ruth menoleh melirik Yumi. "Kalau kamu ga mau kasih tahu, biar Kakak sendiri yang cari tahu."
Ruth membuka pintu kabin mobil. Ia juga menyuruh Yumi ikut keluar.
Yumi menuruti titah Ruth dengan baik. Gadis itu bahkan berjalan mengikuti langkah Ruth yang berada di depannya.
Ruth mengantar calon adik iparnya itu sampai ke gerbang sekolah. Sengaja, ingin melihat pacar Yumi dengan jarak yang lebih dekat.
"Nanti kamu pulangnya dijemput siapa?"
Yumi diam-diam melirik ke arah pacarnya yang tengah bersama cewek lain.
"Sama Kak Arka ... mungkin."
Ruth mengangguk. "Kalau Kakak kamu ga bisa jemput, telpon Kakak langsung ya."
Yumi mengangguk.
Ruth mengusap surai rambut Yumi. Gadis di hadapannya ini benar-benar sangat menggemaskan.
"Belajar yang rajin ya, Dek." Ruth tersenyum menenangkan. "Kamu masuk sana."
Yumi menahan langkah Ruth. "Kak, jangan kasih tahu Kak Arka ya," ucapnya.
"Iya. Kamu tenang aja. Tentang hari ini ga akan bocor ke orang lain."
*
Arka benar-benar lelah berhadapan dengan orang tuanya. Lebih-lebih lagi mendengar ocehan sang mama di siang hari begini benar-benar membuat telinganya serasa mau pecah.
"Arka, kamu dengerin omongan Mama ga sih?"
"Aku ga b***k, Ma. Omongan Mama dari tadi udah menuhin isi kepalaku malah," ujar Arka. "Papa sama Mama ngapain juga sih ke sini siang-siang begini?"
"Kamu ga suka Papa sama Mama kamu ke sini?" tanya sang papa.
Arka memijit pelipisnya.
Bagaimana lagi ia harus menghadapi orang tuanya?
"Besok kamu bakalan nikah. Kenapa masih sibuk ngurusin restoran?"
"Aku cuma nikah. Bukan ngebangun candi. Mama jangan—"
Mama memukul Arka dengan dompetnya berulang kali. "Pulang. Banyak hal yang mesti kamu urusin."
"Semuanya udah siap. Besok cuma tinggal ijab qabul doang. Dan aku udah hapal ijab qabul dari jauh-jauh hari. Jadi Papa sama Mama ga perlu khawatir."
Tatkala terdengar suara ketukan pintu, atensi ketiganya tampak teralihkan.
"Masuk."
"Pak, Mbak Ruth nyariin. Katanya ada yang mau diomongin."
Arka menoleh menatap kedua orang tuanya. "Papa sama Mama pulang aja duluan. Aku mau ketemu Ruth sebentar."
"Mama juga—"
"Sst. Ma, mungkin ada hal penting yang harus mereka berdua omongin. Kita balik aja duluan."