6. Romanticism 3.50

1519 Words
Acara resepsi pernikahan baru saja selesai. Ruth, perempuan yang tadinya tampak seperti seorang putri dari kerajaan dunia dongeng bahkan telah mengganti gaun pernikahannya dengan piyama abu-abu bermotif bunga dandelion. Sementara itu, Arka merebahkan tubuhnya di kasur milik Ruth. Sesuai permintaan mertuanya, Arka memutuskan untuk menginap di kediaman sang istri, Ruth malam ini. "Jam berapa, Ruth?" tanya Arka. "12.44." Ruth menjawab seadanya. "Arka, kita kapan pindahannya?" Arka menoleh menatap Ruth yang tengah duduk di kursi meja rias. Perempuan itu duduk menghadap ke arah Arka. "Lusa aja gimana? Besok masih ada yang mesti kita urusin. Ga enak juga 'kan sama Bunda kalau kita langsung pindah," ujar Arka. Ruth mengangguk paham. "Hampir jam 1 pagi. Sampe kapan kamu masih mau duduk di situ, Ruth?" Ruth terdiam. Benar juga ... mau sampai kapan ia duduk di kursi tanpa sandaran itu? "Ya mau gimana lagi? Mau tidur tapi kamunya lagi rebahan. Kasihan juga kamu tadi kelamaan berdiri." Arka tertawa pelan mendengar ucapan Ruth. "Memang kenapa aku rebahan di sini? Kita juga udah sah, 'kan? Jadi ga bakalan timbul fitnah." Ruth meringis. Arka ... kenapa harus terang-terangan begitu sih ngomongnya? "Iya. Tau. Tapi, 'kan— " Ucapan Ruth terhenti kala perempuan itu tiba-tiba saja terbatuk. Buru-buru Arka beranjak dari tempat tidur. Lelaki itu segera menghampiri Ruth. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Ruth. "Tuh 'kan. Kamunya jadi demam begini. Masih aja ngeyel disuruh rebahan." Ruth menjauhkan tangan Arka dari dahinya. Menatap sekilas ke arah Arka. "Aku gapapa, Arka." "Gapapa apanya? Kamu ga sadar kalau wajah kamu udah pucat begitu? Dari tadi kamu juga diem banget gak kayak biasanya." Meski baru berkenalan selama beberapa bulan, Arka sangat yakin bahwa Ruth bukanlah seseorang dengan kepribadian yang tenang, seperti saat ini. Arka menatap galak pada Ruth. "Sana tidur." "Terus kamu?" Ruth menautkan alisnya. Mendongak menatap Arka yang berdiri di sebelahnya. "Masih aja mikirin orang lain." Arka berdecak. "Ruth ...." Ruth mencebikkan bibir. Perempuan itu dengan amat terpaksa beranjak dari kursi tanpa sandaran itu lalu berbaring di kasur. "Arka," panggil Ruth. "Ya?" Arka bergerak menyelimuti tubuh Ruth, lelaki itu menoleh menatap Ruth. "Kamu butuh sesuatu?" "Kepalaku sakit banget." Arka terdiam. Melihat Ruth yang benar-benar tampak kesakitan membuatnya belingsatan. "Kamu ada nyimpen stok obat ga, Ruth?" "Aku udah minum obat tadi. Tapi kayaknya masih belum bereaksi." Ruth memegangi kepala sebelah kanannya yang terasa begitu nyeri. Kepalanya terasa hampir pecah saking sakitnya. Sejujurnya, Arka telah menyadari bahwa istrinya sedang tidak baik-baik saja seusai resepsi pernikahan berlangsung. Bahkan Arka kerap kali mendapati Ruth meringis. Entah karena kepalanya yang sakit atau mungkin kelelahan. Arka tidak bertanya karena ia menunggu Ruth untuk memberitahukannya lebih dahulu. Bukan karena apa ... hanya saja, Arka merasa bahwa Ruth mungkin tidak akan suka jika kondisi kesehatannya dibahas. "Ar ...." Ruth meraih tangan kanan Arka. Perempuan itu menggenggam suaminya dengan erat. Arka perlahan beralih duduk di tepi kasur. Entah mengapa ia dapat merasakan rasa sakit yang dirasakan Ruth melalui genggaman itu. "Mau aku buatkan sesuatu?" Ruth menggeleng lemah. Perlahan, matanya mulai terpejam. Arka diam memperhatikan Ruth dengan intens. Tangan kirinya bergerak menyibak rambut Ruth yang menutupi wajah. Lengkukan senyum terbentuk di bibir Arka. Ruth bukanlah primadona yang diidamkan oleh segala kaum adam. Ruth tidak secantik itu hingga membuat para kaum lelaki berpaling menoleh ke arahnya dengan mulut terbuka lebar secara spontan. Namun begitu, bukan berarti Ruth itu jelek. Karena bagi Arka tidak ada perempuan yang tidak cantik. Para perempuan cantik dengan versi mereka masing-masing, baginya. Ruth hanya biasa-biasa saja. Lebih-lebih lagi jika mengingat pertemuan mereka malam itu. Arka masih mengingat jelas kaos abu-abu berlengan panjang yang dikenakan Ruth. Sempat-sempatnya Ruth fangirling di saat mereka harus membahas tentang hal yang begitu sakral. Yaitu pernikahan. Namun hal itulah yang membuat Arka tertarik. Entah mengapa kini ia bersyukur karena malam itu Ruth salah meminum minuman. "Arka." Ruth kembali memanggilnya. Arka menghentikan pergerakannya. Menatap Ruth dengan hangat. "Iya?" Ruth mengerjapkan mata. Tatapannya bertemu dengan tatapan Arka. "Kamu tidur aja," ujar Ruth. "Nanti. Kalau kamu udah bener-bener tidur aku bakalan langsung tidur di sofa itu." Arka menampakkan senyumnya pada Ruth. Ruth menarik napas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan. "Maksud aku ... kamu tidurnya di sini. Di kasur ini aja." Arka terkesiap mendengarnya. Ia ... tidak salah dengar, 'kan? "'Kan kamu sendiri tadi yang bilang kalau kita ini udah sah. Jadi gapapa. Ga akan timbul fitnah juga," ucap Ruth. Aih. Kenapa Arka tiba-tiba jadi salah tingkah begini ya? Ruth beringsut tidur ke bagian sebelah kanan kasur. "Tidur, Ar." Perlahan, Arka merebahkan tubuhnya ke samping Ruth. "Ar." "Iya, Ruth?" "Selamat malam." * "Kak Arka! Nih." Arka menerima suapan dari Yumi yang tiba-tiba saja menyuapinya sepotong roti. Berkat paksaan dari sepupu-sepupu Ruth, Yumi juga ikut tidur di kediaman kakak iparnya itu. "Nak Arka, ayo sini. Kita sarapan dulu." Neneknya Ruth mengajak Arka ke ruang makan. "Yang merasa dirinya ga penting-penting amat, makannya lesehan di sini." Jangan ditanya. Sudah jelas itu Fei, sepupu Ruth yang tidak pernah tidak bersikap bar-bar. "Yumi!! Ayo kita makan di sini aja. Jangan deket-deket sama Kak Fei." Yumi tertawa mendengar ujaran sepupu Ruth yang sebaya dengannya. Gadis itu menoleh menatap Arka. "Kak, aku makannya di sana ya." Arka mengangguk. "Kamu jangan cuek-cuek banget sama mereka ya." Yumi tersenyum lebar seraya mengangguk lalu beranjak dari sana. Sementara itu Arka segera duduk setelah sang ayah mertua menyuruhnya untuk duduk. Di sana hanya ada nenek, ayah, bunda, Karina, Fei, dan juga Rio, sepupu Ruth yang lebih tua. Arka mengalihkan atensinya ke arah lain. Dimana bunda dan Karina, kakak iparnya masih sibuk menata makanan di meja makan. Sejujurnya Arka merasa agak canggung. Ini kali pertama ia menyantap sarapan bersama keluarga istrinya. Untung saja keberadaan Rio di sana sangat membantu. Tampaknya Rio sadar bahwa Arka merasa canggung bersama mereka. "Oya, Arka ... Ruth dari tadi ga keliatan. Dia belum bangun?" tanya ayah yang tampak menaikkan sebelah alis menatap ke arah Arka. Arka menoleh ke arah ayah. "Ruth lagi sakit, Yah." Suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring kaca, juga Fei yang tiba-tiba saja terbatuk membuat Arka bergeming. Arka meringis dalam diam. Gawat! Ia telah membuat keluarga istrinya salah paham. "Maksudku ...," Aih. Mendapat tatapan aneh dari mereka malah membuat Arka kehabisan kata-kata. "Aku ga nyangka kamu bakalan gerak cepat." Rio berbisik namun seperti tidak berbisik. Orang-orang di ruang makan dapat mendengar dengan begitu jelas apa yang diujarkan Rio barusan. "Kak, maksudku—" "Gapapa atuh," celetuk ayah. Nahas. Arka tetap disalah pahami oleh sang ayah mertua. "Yang ada di sini juga udah pada dewasa semua," ujar ayah. Arka menelan saliva dengan kasar. Sungguh, seumur hidup ini adalah momen termemalukannya. "Lebih cepat lebih baik. Nenek juga pengen cepet-cepet lihat cicit." "Tapi, Nek—" "Bunda, aku laper." Atensi mereka teralihkan dengan kedatangan Ruth. Perempuan itu berjalan menghampiri sang ibunda. Lalu memeluk bundanya dengan manja dari samping. "Baru bangun, Ruth?" tanya Karina. "Iya, Kak Karin." Ruth menjawab seadanya lalu melepas pelukannya pada bunda. "Ruth," panggil Fei. "Katanya kamu lagi sakit. Beneran?" Ruth menoleh melirik Arka yang tampaknya ingin menjelaskan sesuatu padanya. "Rambutnya Ruth udah basah begitu. Kalian jangan tanya macam-macam lagi," ucap nenek. Sial. Benar-benar sial. Ruth ngapain sok kerajinan keramas pagi-pagi begini sih? * Arka memperhatikan Ruth yang fokus dengan layar laptop. Jari-jari istrinya Arka itu tengah menari-nari di permukaan tombol keyboard laptop. Arka menarik kursi meja belajar, memposisikannya tepat di samping Ruth. Lelaki itu duduk di sana. Tadinya Arka hanya fokus memperhatikan Ruth. Kali ini, ia ikut melihat ke layar laptop. Arka tertawa. "Bah. Emang kamu tahu rasanya dipeluk doi itu gimana?" Jari telunjuk Ruth melayang di udara. Tepat di atas huruf F. Ia menatap tajam pada Arka, suaminya. "Laura bilang kemaren, kamu jomblo kongenital. Jadi mana tau soal mesra-mesraan sama doi begitu." Tawa Arka terdengar kian menggelegar. "Udah deh. Mending kamu tulis novel horor aja. Cocok banget sama kamu." "Ar, aku masih marah ya sama kamu," ucap Ruth. "Yang pagi tadi itu murni kesalahpahaman semata. Ayah nanyain kamu, ya aku jawab. 'Kan kamu juga beneran sakit." "Tapi 'kan bisa kamu jelasin kalau aku sakit bukan karena itu. Tapi karena kecapean doang." Ruth berdecak. "Aku sampe males keluar kamar karena dijulidin Fei terus." "Kamu juga salah, Ruth. Ngapain coba keramas pagi-pagi buta? Yang lihat juga cuma aku sama orang-orang rumah doang. Keluar rumah juga enggak." Ruth bungkam. Omongan Arka ada benarnya juga. "Lagi pun, Ruth ... kita 'kan udah nikah, jadi jelas orang-orang pikirannya bakalan travelling kemana-mana." Iya sih. Yang diucapkan Arka tidak ada salahnya. Tapi tetap saja hal itu membuat Ruth merasa tidak nyaman. Lebih-lebih lagi saat ia berhadapan dengan orang tuanya, ia merasa bahwa dirinya telah melakukan dosa besar. "Terserah." Ruth membuang muka. Kembali menatap layar laptop. "Aku mau fokus kelarin ini dulu. Kamu jangan ganggu." Arka mengangguk meski ia yakin Ruth tidak melihat responnya. "Tapi, Ruth ...," "Apa lagi?" Arka mengambil alih laptop milik Ruth. Lelaki itu menghapus beberapa kata yang telah ditata rapi oleh Ruth menjadi sebuah kalimat. Arka menulis ulang paragraf yang telah dihapusnya barusan. "Nah, sekarang adegan pelukan sama doinya jadi terasa lebih nyata," ujar Arka sembari menyodorkan kembali laptop itu ke hadapan Ruth. Ruth membaca paragraf itu dengan saksama. "Kamu kayaknya pengalaman banget ya." Arka menoleh menatap Ruth yang juga tengah menatapnya. Ia melemparkan senyum manisnya pada Ruth. "Iya. Kamu mau coba?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD