Bab.3 Pertunangan Tetap Berlanjut

1033 Words
  “Kabar buruk,” kata Helvin sambil memandang kedua putrinya bergantian. “putra pertama Pak Alanzo Rico kecelakaan parah!”   Kissia mengerjabkan matanya sementara Feli balas memandang Helvin dengan mata membelalak kaget.   “Apa itu berarti ... acara pertunangannya dibatalkan, Yah?” tanya Kissia memberanikan diri. Dia tahu seharusnya dia bersimpati atas musibah yang menimpa putra pertama dari Alanzo Rico, tetapi tak dapat dipungkiri jika hatinya merasa lega karena kemungkinan pertunangan mereka akan diundur.   “Jelek sekali kalau ayah memilih untuk membatalkan pertunangan kalian,” sahut Helvin datar. “Kecelakaan Giordano tidak akan mengubah rencana yang sudah ayah rancang bersama Pak Alanzo.”   Kissia sudah bisa menebak jika jawaban ayah tirinya akan seperti itu, karena membatalkan rencana perjodohan mereka ibarat melepas ikan besar yang baru saja dia tangkap.   Sementara itu Feli sengaja berlama-lama bersama Helvin saat Kissia memilih pergi menyusul ibu mereka ke dapur.   “Aku tidak mau dapat pria yang cacat, Yah!” protes Feli sambil bergidik. “Siapa yang bisa menjamin kalau Giordano bisa sembuh total setelah kecelakaan dahsyat itu?”   Helvin terdiam sebentar. Menurut informasi yang dia terima, Giordano mengalami kecelakaan hebat dan kemungkinan dia harus menjalani serangkaian operasi untuk membantu penyembuhannya.   “Tapi akan jelek sekali kalau kamu sampai menolak Giordano hanya karena dia terkena musibah,” komentar Helvin. “Justru kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan perhatianmu kepada calon suamimu, itu baru benar.”   Feli menggelengkan kepala, dia tentu saja tidak setuju dengan pendapat Helvin.   “Apa Ayah tega melihatku menikah dengan orang yang habis kecelakaan parah?” tanya Feli dengan wajah memelas. “Meskipun mungkin orang tuanya sanggup membayar banyak dokter untuk kesembuhan anaknya, aku ragu Giordano akan pulih sempurna seperti sebelum dia mengalami musibah kecelakaan itu.”   Helvin tidak menanggapi.   “Aku tentunya mau melahirkan anak-anak yang berkualias, dan itu hanya bisa didapat kalau aku menikah dengan pria yang sempurna.” Feli melanjutkan.   Helvin menarik napas panjang.   “Lalu apa keinginanmu?” tanya Helvin sambil memandang putrinya.   Feli berpikir sebentar.   “Aku mau Kissia yang menikah dengan Giordano,” usulnya dengan mata berkilat licik. “apalagi Kissia tidak tahu sama siapa dia akan bertunangan karena aku sengaja menghalanginya untuk melihat foto kedua putra Pak Alanzo. Kissia pasti menurut apa kata Ayah.”   Setelah mempertimbangkan selama beberapa saat, Helvin mulai memikirkan kemungkinan yang sama dengan yang dipikirkan Feli tentang kondisi Giordano.   “Baiklah,” kata Helvin sambil mengangguk. “ayah akan memberikan Kissia sebagai pengganti dirimu untuk bertunangan dengan Giordano. Dan kamu, akan ayah jodohkan dengan Virghi.”   Kedua mata Feli melebar oleh kepuasan karena berhasil membujuk Helvin untuk mengabulkan keinginannya.   ***   Setelah kecelakaan hebat yang menimpa Giordano, Helvin jadi supersibuk karena dia harus merelakan sebagian waktunya untuk menggantikan posisi kakak kandungnya di kantor.   “Pak, meeting dengan klien jam satu siang?”   “Aku tahu,” sahut Virghi ketika sekretarisnya mengingatkan.   “Meninjau lahan proyek perhotelan ....”   “Catat.”   “Makan siang bersama relasi Pak Giordano ....”   “Catat.”   “Lalu makan malam dengan Nona Clerin ....”   Virghi melirik tajam sekretarisnya yang bernama Merry, sementara yang ditatap buru-buru menundukkan kepalanya.   “Siapa yang menyuruhmu untuk memasukkan acara makan malam itu ke agendaku?” tanya Virghi dingin. “Kamu pikir aku bisa membelah diri?”   “T – tidak Pak ...” jawab Merry lirih sambil menutup bukunya.   “Aku sudah sangat sibuk karena harus menggantikan pekerjaan kakakku,” sambung Virghi sembari menghadap laptopnya di atas meja. “jadi tolak saja semua acara yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.”   “Baik, Pak.” Merry tidak berani membantah lagi, meskipun acara makan malam dengan Nona Clerin termasuk penting karena bisa merekatkan hubungan dua perusahaan menjadi lebih akrab.   Begitu Merry meninggalkan ruangannya, Virghi mengembuskan napas dengan keras. Sebetulnya dia sudah terbiasa dengan jadwal padat kantor yang bahkan sering menyita hampir seluruh waktunya, tetapi beban pekerjaan Giordano membuat Virghi jadi sibuk berkali-kali lipat daripada biasanya.   Fokus Virghi terpecah oleh deringan nyaring dari ponselnya yang tergeletak di atas meja.   “Halo?”   “Vrighi, jangan lupa makan siang dan minum vitaminmu.” Levina mengingatkan ketika Virghi menjawab panggilannya.   “Ibu tidak perlu khawatir,” sahut Virghi. “Bagaimana keadaan Giordano?”   “Kakakmu sedang operasi,” jawab Levina memberi tahu. “tulangnya banyak yang bergeser.”   “Parah juga,” komentar Virghi singkat.   “Ibu minta maaf kalau beban pekerjaanmu jadi bertambah banyak,” ucap Levina melalui sambungan ponsel.   “Jangan minta maaf, ini musibah.” Virghi menepis permintaan maaf ibunya. “Aku lanjutkan pekerjaanku dulu, Ibu juga harus makan siang.”   Levina mengucapkan terima kasih atas pengertian Virghi, setelah itu dia memutus sambungan.   “Siapkan mobil dan sopir sekarang,” suruh Virghi melalui telepon interkom di ruangannya. “antar aku ke kantornya klien Giordano.” Virghi berdiri, meraih jasnya kemudian keluar meninggalkan ruangannya dalam keadaan terkunci. Dia tidak ingin siapapun sembarangan memasuki ruang kerjanya meskipun dia adalah sekretaris pribadinya sendiri.   Sementara itu Kissia tengah memijat-mijat pelipisnya di kamar, beberapa saat yang lalu dia terbangun dari tidurnya dan mengingat-ingat mimpi samar yang sempat dia lihat.   Wajah buram dalam mimpinya sudah beberapa kali muncul, tapi Kissia tidak dapat mengingatnya dengan jelas siapa dia.   “Mau ke mana kamu?” selidik Feli ingin tahu ketika melihat Kissia keluar kamar dengan buru-buru.   “Aku harus bertemu ibu,” jawab Kissia beralasan. “aku mau tanya tentang asal-usulku ....”   Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari kakak angkatnya, Kissia cepat-cepat pergi meninggalkan rumah.   Sejujurnya Kissia berencana pergi ke salah satu universitas yang dia incar untuk mencari info dan juga mengumpulkan brosur-brosur penting untuk jurusan yang akan dia ambil. Tapi setelah mimpi samar itu berulang kali menghantuinya, dia memutuskan untuk menemui Ivanka terlebih dahulu.   "Ibu mengadopsiku dari panti asuhan mana?" tanya Kissia begitu dia melihat Ivanka baru saja keluar dari ruang kerja Helvin.   "Panti asuhan itu sudah tutup, Kissia." Ivanka menjelaskan. "Ibu saja sudah hampir lupa namanya, kamu bisa pergi ke sana kalau mau."   Ivanka menyebutkan nama panti asuhan yang dulu dia datangi, dan Kissia bergegas keluar untuk pergi ke sana.   Ketika itu mobil yang ditumpangi Virghi melaju dengan kecepatan tinggi, dan kemunculan Kissia di belokan jalan membuat sopir mengerem mendadak.   Kissia memekik, dan tas selempang yang ada di tangannya melayang ke udara sebelum akhirnya jatuh di jalanan.   Bersambung –
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD