"Nira ... ?" tegurku pada istriku yang baru saja meletakkan telepon genggam di tangannya begitu menyadari kepulanganku. "Ya, Mas? Kamu sudah pulang? Kok wajah kamu berdarah? Ada apa, Mas?" Nira menyimpan ponselnya dengan gerakan tenang lalu mendekatiku dengan manik mata menatap lekat wajahku. Saat sampai, kedua telapak tangan wanita pendiam itu hinggap di wajahku lalu salah satu telunjuknya menyentuh pelan sudut bibirku yang pastinya saat ini bengkak dan masih menyisakan noda darah yang mulai mengering di sana. "Siapa yang membuat Mas jadi begini?" tanya Nira mirip desisan. Dingin. Aku menggelengkan kepalaku dengan senyum getir. "Mas nggak papa, Nira. Kamu sendiri sedang apa? Siapa yang barusan kamu telepon?" tanyaku beruntun dan penasaran pada istriku itu. Nira tersenyum tipis lal

