"Mas, aku uang dari mana bisa menabung? Kamu ... tidak memberiku nafkah yang layak. Bagaimana aku bisa menyisihkan uang untuk ditabung?" jawab Nira tak aku sangka justru balik bertanya yang terkesan menyalahkan aku yang katanya tak memberinya nafkah yang cukup itu. Mendengar jawaban Nira, hatiku menjadi kesal dan panas bukan main. Sial*n! Batinku. Bukannya menjawab yang membuatku merasa lega dan tenang, justru membuatku makin kacau dan gundah! "Ya, kalau kamu nggak punya tabungan, kamu kan punya perhiasan, Nir, warisan dari Ibu kamu. Berapa suku itu semuanya? Bisalah dijual untuk menutupi hutang Mas kalau kamu mau, Nir!" "Tolong Mas, Nir. Apa kamu tega melihat suami sendiri kesusahan seperti ini? Bukan hanya kesusahan, tapi juga terancam kehilangan nyawa kalau tak mau membayar hutang!"

