Laki-laki Itu

1033 Words

POV Nira "Kalau kamu nggak punya tabungan, kamu kan punya perhiasan, Nir, warisan dari Ibu kamu sebelum kita menikah. Berapa suku itu semuanya? Bisalah dijual untuk menutupi hutang Mas kalau kamu mau!" ucap suamiku dengan nada enteng tanpa beban, membuatku seketika menoleh padanya. "Tolong, Nir. Apa kamu tega melihat suami sendiri kesusahan seperti ini? Bukan hanya kesusahan, tapi juga terancam kehilangan nyawa kalau tak mau membayar hutang!" katanya lagi dengan nada tinggi. Aku menatap wajah suamiku itu dengan d**a terasa panas dan sesak. Sungguh, andai aku tak punya stok kesabaran luar biasa, mungkin sudah kucakar atau kulukai wajahnya agar laki laki itu tahu kalau aku sangat marah padanya. Bagaimana tidak. Seumur pernikahan kami berlangsung, tak pernah ia memberiku nafkah yang cuku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD