Luka Sebenarnya

1652 Words

“Wahhh … bagus banget Om, jadi mau deh punya begini. Berapa Om harganya?” Wanita itu bertanya seolah dalam bayangannya akan sama dengan membeli rumah di kampung. Dia masih mengitari area apartemen milik Angelo. Terutama mengagumi dapur sekaligus ruang makannya. Angelo terkekeh, “memangnya kamu mau beli juga?” tanyanya, berbalik. “Ya … siapa tau nanti kebeli, entah berapa tahun lagi, ya … mimpi dulu aja!” Sarmila terkikik membayangkannya. “Aku yakin kamu pasti bisa membelinya.” Angelo tak turut mematahkan impian gadis itu dan Sarmila senang mendapatkan dukungan, berbeda dengan teman-temannya saat dia mengutarakan mimpi dan khayalannya, mereka akan tertawa dan mematahkannya dengan mudah. “Jadi berapa Om? Biar aku ancang-ancang nih, kumpul duit.” Masih seberani itu Sarmila bertanya. “Eu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD