Sebuah Harapan Kosong

1251 Words

“Aku dapat mengerti perasaanmu, Yasika! Akulah satu-satunya orang yang mengerti perasaanmu! Kau lebih memilih mati kan, saat ini?” Ucap Nancy dengan kembali berbisik. Ia kemudian kembali berkata, “Jadi sekarang aku akan membantumu untuk mewujudkan keinginan itu lebih cepat!” Nancy berdiri dengan tegak dan menikmati saat ia mencekiik perempuan itu. Sementara Yasika saat ini terbatuk-batuk dan merasa jika ia benar-benar telah kehilangan pasokan udara untuk paru-patunya itu. Ia kemudian menggenggam kedua tangan Nancy dengan tangannya yang bergetar. Namun bukan untuk menyingkirkannya, melainkan membantu Nancy untuk lebih mengeratkan tekanan tangan yang mencekiik dirinya itu. Hal tersebut pun sukses membuat wanita berambut hijau itu mengerenyitkan dahinya, merasa tidak mengerti dengan aksi da

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD