Dasar Orang Aneh.

795 Words
Hampir tengah malam aku harus pulang dengan menggunakan bus, karena ada banyak sekali tugas kampus yang harus aku selesaikan. Rasa nya seperti ingin meledak saja otak ku ini, setelah kehidupanku berantakan tidak ada lagi orang yang perhatian kepadaku. Mommy sibuk dengan pekerjaannya, dan papa juga sudah sibuk dengan kehidupan barunya. Dan aku seorang diri, menghabiskan waktu di kampus adalah hal yang menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. Sudah jam sembilan malam, aku duduk di halte bus sendirian. Tanpa siapa pun, bahkan mommy tidak tahu anak perempuan nya malam-malam begini masih berada di pinggir jalan. Dulu saat aku pulang lewat jam delapan malam mommy sudah menelpon ku berkali-kali, tapi saat ini tidak ada panggilan masuk satu pun. Apa sesibuk itu sampai tidak mengabariku sedikit pun, sebagai anak aku hanya korban dari persoalan orangtua. Aku juga ingin seperti keluarga pada umumnya, tapi apa boleh buat ini adalah takdir yang harus aku terima dengan lapang d**a. Akhirnya bus yang aku tunggu telah tiba, segera ku langkahkan kaki ku dengan cepat agar bisa duduk dan bersandar pada kursi bus. Ya kursi bus lah sandaranku untuk akhir-akhir ini, tempat ternyaman untuk ku bersandar. Jarak kampus ke rumah sekitar tiga puluh menitan, kadang aku tertidur di bus karena terlalu nyaman dan lelah menghabiskan waktu di kampus sampai larut malam. Mau bagaimana lagi, jika dirumah juga tidak ada siapapun yang bisa aku ajak berbagi cerita. Kadang aku berpikir, kenapa harus aku yang menerima semua ini? Aku tidak siap, aku sangat lemah. Tapi aku hanya bisa berpasrah, aku yakin semua ini sudah jalan nya dan pasti ada hikmah di balik ini semua. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk di sebelahku, sontak aku langsung terkejut. Karena laki-laki ini tidak meminta izinku dulu, padahal kursi bus masih banyak yang kosong. "Mohon maaf ya mas, saya pengen duduk sendiri. Lagian kursinya masih banyak yang kosong tuh." Ujarku pada laki-laki tersebut, tapi dia sama sekali tidak mendengarkan perkataanku. Apa dia sengaja pura-pura tidak mendengarkan aku, aku putuskan untuk pindah tempat duduk saja. Kalau memang dia tidak ingin pindah, biar aku saja yang pindah. Saat aku akan berdiri, laki-laki itu menahan pergelangan tanganku. "Mau kemana mba? Udah disini aja duduk samping saya, saya gak bakalan macem-macem kok." Sambungnya sambil menatapku dengan ramah "Tapi kursi di bus ini kan masih kosong mas, kenapa gak duduk sendiri aja." Jawabku sambil melepaskan genggamannya "Iya mba saya tau, tapi saya mau nemenin mba nya duduk disini." Jelasnya "Saya gak mau di temenin mas, saya mau sendiri. Maaf ya, saya mau pindah kursi aja kalo emang mas mau disini yaudah silahkan." Ujarku sambil berdiri dan berpindah tempat duduk ke kursi depan. Tapi laki-laki itu juga mengikuti ku ke kursi yang sekarang sedang aku duduki, dasar orang aneh mau apa dia ikut pindah juga, aku jadi was-was melihat tingkahnya yang mengikuti ku terus. "Mas, kenapa ikut pindah juga?" Tanyaku dengan kesal "Di bilangin saya mau nemenin mba nya, mba nya kan perempuan malam-malam di bus sendirian gini gak baik." jelasnya dengan memberiku satu kotak s**u coklat. "Nih mba, saya punya s**u kotak buat mba nya supaya moodnya jadi baik." sambungnya "Maaf saya gak bisa terima minuman dari orang asing." tegasku sambil membuang muka ke arah jendela "Yaudah kalau begitu, gimana kalau kita kenalan supaya gak jadi orang asing. Anggap aja s**u kotak ini tanda perkenalan kita ya mba, kenalin nama saya Adam." Ujar nya memperkenalkan diri dengan sangat ramah "Saya gak bisa kenalan sama sembarang orang,maaf ya." Sambung ku yang menoleh sekilas ke arah nya. Lagian siapa sih laki-laki ini tiba-tiba muncul lalu so akrab, aku tidak habis pikir akan bertemu dengan orang aneh seperti ini. Aku jadi gagal bersandar di kursi bus seperti biasanya karena orang aneh ini, aku putuskan untuk melihat handphone ku sejenak. Mungkin saja mommy mengabariku atau menanyakan kenapa aku belom sampai ke rumah, saat aku membuka handphone ternyata tidak ada pesan apa pun. Oke baiklah, sekarang aku sudah tidak penting untuk nya. Ku sandarkan kepala ku di kursi bus sambil menatap keluar jendela, merasakan angin malam yang meniup wajah ku dengan lembut serta pemandangan langit malam yang begitu tenang. Aku pun memejamkan mataku membiarkan wajahku di usap lembut oleh angin malam dan membuat rambutku berterbangan dengan ke segala arah. Tiba-tiba aku melihat ada cahaya yang mendekatiku, sangat dekat sampai aku tidak bisa melihatnya. Aku pun langsung tersadar, lagi-lagi aku tertidur di bus di samping orang aneh itu. Tanpa sadar kepala ku bersandar di bahu nya, kenapa bisa dia masih ada di sampingku. Padahal jelas-jelas aku sudah bersikap angkuh padanya, kenapa dia tidak pergi juga. "Mbanya ketiduran tadi, pules banget tidurnya mau di bangunin kasian kaya yang capek banget." Ujarnya sambil menoleh ke arah ku "Tadi kepalanya ke bentur kaca jendela, jadi saya pindahin aja ke bahu saya biar lebih nyaman tidurnya." Sambungnya "Oh gitu, Makasih." Tuturku singkat "Iya sama-sama mba." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD