Berbeda

790 Words
Langkah ku sekarang terasa sangat datar penuh ke hampaan, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan dengan hati yang bahagia. Semua hanya sekedar formalitas saja, kuliah ku juga hanya sebatas ingin cepat lulus dan membantu mommy. Apakah aku di takdirkan harus menjalani hidup dengan penuh ke hampaan seperti sekarang ini? Aku tidak mengerti mengapa hidup ku bisa berubah secepat ini.. Aku merindukan semua hal yang dulu ku miliki, papa yang selalu hadir saat aku butuhkan malah pergi dengan wanita lain. Tidak ku sangka papa begitu tega meninggalkan aku hanya demi seorang perempuan yang baru dia kenal beberapa tahun belakangan ini,bukan kah tidak ada yang namanya bekas anak? Kenapa papa tidak ingat dengan ku sama sekali, apakah dia sudah lupa kalau mempunyai seorang putri? Putri kecil nya dulu kini sudah beranjak dewasa dan membutuhkan bahu nya untuk bersandar. Tidak ada yang bisa ku harapkan dari keduanya, mommy sekarang sangat sibuk dengan pekerjaaan nya. Lebih tepatnya adalah menyibukkan diri agar hati nya segera pulih dari sakit yang di berikan oleh papa, luka di khianati itu butuh waktu yang cukup lama. Ironis nya aku juga menjadi korban nya, aku pun terluka atas segala perbuatan papa. Aku juga mendapatkan luka, mungkin luka ku ini akan menjadi trauma yang akan ku bawa kemana pun. Untuk menjalin suatu hubungan pun sepertinya aku tidak bisa, aku takut di khianati dan di tinggalkan seperti yang di rasa kan mommy. Aku berpikir untuk tidak akan pernah berkomitmen dengan siapapun, aku hanya ingin menghindari luka dan menyelamatkan diriku saja. Komitmen itu hanya omong kosong, sisa nya hanya kebohongan yang ada di dalamnya. Dunia ini begitu banyak ketidakpastian, aku bingung kenapa bahagia harus berdampingan dengan luka? Banyak yang bilang kalau setelah hujan pasti ada pelangi, kenapa harus setelah hujan? Entahlah, aku tidak jago dalam menggambarkan hal yang berhubungan dengan alam semesta. Yang aku tahu sekarang tidak ada yang selamanya akan baik-baik saja. Semua nya pasti ada lika-liku nya, bagaimana caranya agar kita mampu dan bisa melewati setiap lika-liku tersebut. Sudah cukup lama aku merindukan kasih sayang yang selama ini tidak aku rasa kan, sebelum papa dan mommy memutuskan untuk berpisah secara resmi aku sudah kehilangan keduanya. Mereka sibuk dengan dunia nya masing-masing, melupakan kalau ada aku disini yang membutuhkan mereka. Aku ingin memiliki orangtua seperti teman-temanku yang lain, yang sangat perhatian terhadap anak-anaknya. Rasa sangat sesak jika mengingatnya, sudah terlalu banyak sesak yang aku pendam sendiri. Dari semasa sekolah sampai kuliah rasanya begitu banyak sampai ruang di hatiku tidak cukup menampungnya lagi. Ting tong.... Suara bel terdengar nyaring di bunyikan, segera aku berjalan menuju pintu depan melihat siapa yang ingin bertamu malam-malam begini. Aku sangat terkejut, yang datang adalah papa dengan istri barunya. "Laraa, kamu sehat nak?" ujarnya sambil mengelus kelapa ku Aku hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku masih memperhatikan istri baru nya yang berdiri di samping papa sambil memberiku senyuman. Aku memutar bola mata ku malas dan berlalu meninggalkan mereka di depan pintu, aku sangat tidak ingin melihat mereka ada disini terlebih istri baru papa. Kenapa papa harus membawa nya kesini, berani sekali papa membawa istri baru nya ke rumah ini bagaimana jika mommy ada dirumah. Untung saja mommy sedang ke luar kota, jadi tidak akan melihat orang yang sudah berkhianat padanya. Papa membawa istri barunya masuk kedalam rumah dan mempersilahkan nya duduk di ruang tamu, aku hanya berdiam diri di ruang keluarga sambil mengerjakan tugasku. "Laraa, mommy kamu kemana kok gak kelihatan?" tanya papa menghampiriku "Lagi ke luar kota." jawabku singkat tanpa menatapnya sama sekali "Lara, papa minta maaf karena udah pergi gak pamitan sama kamu." Aku hanya terdiam dan fokus pada layar laptopku tidak ingin mendengarkan penjelasan omong kosongnya, aku sangat rindu tapi aku benci dengan semua perlakuan nya pada mommy terutama. "Kamu harus bisa paham dan mengerti kalau kehidupan itu berputar, papa sama mommy kamu memang tidak bisa bersama lagi karena ada beberapa faktor yang emang kita gak bisa selesaikan secara bersama. Dan jalan tengah nya kita memutuskan untuk berpisah demi kebaikan bersama, papa juga udah ngobrol baik-baik sama mama kamu beberapa hari yang lalu saat sidang perceraian. Kami berpisah secara baik-baik, ke salahpaham di antara kami pun sudah selesai dengan baik nak. Mungkin mommy kamu belum cerita ini sama kamu, makanya kamu masih keliatan benci sama papa. Papa minta maaf ya lara kalau papa bikin kamu terluka sampe kamu benci sama papa kaya gini." jelasnya dengan suara yang lirih menahan tangis sambil mengelus lembut kepalaku. Aku masih terdiam mendengarkan setiap penjelasan nya, bagaimana mungkin mommy tidak menceritakan hal ini. Sepertinya mommy terlalu sibuk sampai tidak bercerita hal sepenting ini,aku bingung harus bersikap bagaimana. Aku harus percaya atau tidak dengan perkataan papa barusan, aku tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mommy dan papa. Apa faktor yang membuat mereka berpisah seperti ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD