Episode 1 — Senpai yang Selalu Tersenyum
Aika Kurose berjalan sendirian di lorong sekolah yang berada tidak jauh dari tangga koridor.
Langkahnya pelan. Bukan karena lelah, melainkan karena pikirannya sedang berada di tempat lain.
Tatapannya kosong mengarah ke depan. Suara siswa yang berlalu-lalang terdengar samar di telinganya, sementara pikirannya kembali pada sebuah kenangan lama.
Saat masih kecil, Aika pernah bertanya kepada ibunya tentang cinta dan bagaimana seseorang bisa tahu bahwa dirinya telah menemukan orang yang tepat.
Ibunya hanya tersenyum.
“Suatu hari nanti, kamu akan bertemu dengan pangeranmu.”
Kalimat sederhana itu terus melekat di kepala Aika.
Sejak saat itu, Aika percaya bahwa setiap orang memiliki seseorang yang sudah ditakdirkan untuk mereka. Seseorang yang suatu hari akan muncul dan membuat semuanya terasa masuk akal.
Mungkin terdengar kekanak-kanakan.
Namun Aika masih mempercayainya.
Bahkan sampai sekarang.
“Kalau memang benar ada seseorang seperti itu...” pikirnya sambil terus berjalan, “kapan aku akan bertemu dengannya?”
Bruuk!
Lamunannya langsung buyar.
Seseorang dari arah berlawanan tidak sengaja menabraknya. Tubuh Aika kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
“Maaf!”
Suara seorang laki-laki terdengar panik.
Aika terdiam.
Seorang senpai berdiri di hadapannya. Seragamnya sedikit berantakan akibat benturan tadi. Wajahnya terlihat gugup dan benar-benar merasa bersalah.
“Kamu tidak apa-apa?”
Senpai itu mengulurkan tangannya.
Aika hanya menatap tangan tersebut.
Untuk sesaat, suara di sekelilingnya terasa menghilang.
Tatapannya perlahan berpindah dari tangan itu menuju wajah sang senpai.
Entah kenapa, jantung Aika berdetak lebih cepat.
Ada sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah-olah pertemuan ini memang sudah menunggunya sejak lama.
Ini dia...
Pikiran itu muncul begitu saja.
Pangeranku.
Aika menerima uluran tangan tersebut.
Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, sang senpai kembali membungkuk.
“Sekali lagi, maaf. Aku benar-benar tidak memperhatikan jalan.”
Setelah itu, dia pergi begitu saja.
Aika tetap berdiri di tempatnya.
Matanya mengikuti punggung senpai tersebut yang semakin menjauh.
Dia bahkan tidak tahu namanya.
Tidak tahu kelasnya.
Tidak tahu apa pun tentang dirinya.
Namun anehnya, Aika merasa seperti baru saja menemukan seseorang yang selama ini dia tunggu.
Seseorang yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam bayangannya.
Aika hampir kembali berjalan ketika langkahnya terhenti.
Senpai itu berhenti tidak jauh dari sana.
Seorang gadis menghampirinya.
Mereka mulai berbicara.
Aika memperhatikan dari kejauhan.
Senpai itu tersenyum.
Gadis tersebut ikut tersenyum.
Wajah Aika yang sebelumnya terlihat tenang perlahan berubah.
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Siapa dia...?
Aika tidak mengalihkan pandangan.
Kenapa dia bisa begitu dekat dengannya?
Rasa tidak nyaman mulai muncul di dadanya.
Dia bahkan belum tahu nama senpai itu, tetapi entah kenapa melihatnya berbicara dengan gadis lain terasa begitu mengganggu.
Aika menarik napas pelan.
Kemudian sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
Tidak apa-apa.
Tatapannya tetap tertuju kepada sang senpai.
Kalau memang dia benar-benar pangeranku...
Jari-jarinya kembali mengepal.
...aku akan menemukannya.
Aika lalu menatap gadis yang berdiri di samping senpai tersebut.
Senyumnya tidak menghilang.
Namun tatapannya menjadi jauh lebih dingin.
Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dariku.
Untuk pertama kalinya, Aika merasa yakin bahwa takdir benar-benar ada.
Dia hanya belum tahu satu hal.
Nama pangeran yang baru saja ditemuinya.