8. Investigate

1294 Words
"Ada sesuatu yang menganggumu Sayang? Kau terus saja melamun sejak tadi." Alexa kembali menoleh kearah Dominic saat suaminya itu menegurnya dengan wajah khawatir. Alexa menggeleng pelan, tangannya yang semula terdiam kembali bergerak untuk memotong makanan di depannya . "Tidak ada, aku baik-baik saja Dom. Ngomong-ngomong, makanan disini rasanya enak sekali. Aku menyukainya, pantas saja kita sering kesini dulu." Dominic tahu Alexa mengangkat topik itu hanya untuk menghindari pertanyaannya. Ada yang aneh dengan Alexa semenjak wanita itu kembali dari kamar mandi. Kening wanita itu terus saja berkerut dari waktu ke waktu, Alexa bahkan tidak sadar bahwa dia baru saja mengabaikan obrolan yang Dominic berusaha angkat sedari tadi. Diam-diam, mata Dominic menatap tajam Rika yang sebelumnya bertugas menjemput Alexa di kamar mandi karena istrinya itu terlalu lama pergi meninggalkannya. Menyadari tatapan bosnya, Rika juga diam-diam memberi isyarat, bahwa dia akan menceritakan semuanya saat pulang nanti. Ada sesuatu, yang tidak bisa dia sampaikan tepat di depan wajah Alexa. Saat sadar bahwa Alexa kemungkinan besar memang memiliki sesuatu yang dipikirkan, dan dia tidak bersedia bercerita pada Dominic, lelaki itu segera kehilangan nafsu makannya. Ingatannya tentang alasan mengapa Alexa bisa sampai koma dan tidak lagi mampu menggunakan kakinya secara normal kembali muncul di pikirannya. Seluruh tubuhnya kaku, saat dia mencoba menekan perasaan bergejolak yang memenuhi rongga dadanya. "Sayang, bisakah aku kembali terlebih dahulu? Masih banyak yang harus aku kerjakan." Alexa ikut berhenti makan saat Dominic mengelap mulutnya pelan padahal makanannya sendiri belum dia habiskan. Sekarang Alexa merasa tidak enak, sadar bahwa dia baru saja mengabaikan suaminya dan tidak ingin membicarakannya saat pria itu bertanya padanya. Jelas dia mengundang Dominic untuk makan siang bersamanya kaarena dia ingin menghibur lelaki itu. Namun karena pertemuan tidak terduga antara dirinya dan wanita asing yang mengaku kenalannya sebelum ini, dia malah bersikap dingin pada Dominic yang sudah bersusah payah menyempatkan diri untuk datang di tengah pekerjaan sibuknya. "Dom......" Dominic tersenyum kecil saat wajah Alexa terlihat sekali merasa bersalah padanya. Dominic dengan lembut mencium kening Alexa sekali, sebelum membelai pipinya dengan lembut. "Kita bicara lagi di rumah oke? Lanjutkan saja makanmu, Rika akan mengantarmu kembali nanti. Aku mencintaimu Sayang," ujar Dominic menutup pembicaraan. Dia memberi sinyal pada Jasper dan Flora untuk segera berhenti makan. Keduanya menegak minum dengan terburu-buru, sebelum bergegas mendekat kearah bosnya. "Kalau begitu, kami pergi dulu Nona," ujar Jasper mewakili. Alexa mengangguk lemah, sementara matanya terus saja mengikuti Dominic yang berjalan pergi dan masuk ke lift bersama bawahannya. Baik, kali ini Alexa benar-benar menghancurkan waktu makan siang mereka. Wanita itu menghela nafas panjang, sebelum ikut bersiap untuk pergi. "Nona, apa Nona tidak ingin tinggal lebih lama lagi? Nona baru makan sedikit," ujar Rika mengingatkan. Alexa menggeleng pelan sebagai jawaban, sebelum dirinya menghela nafas panjang. "Dominic juga baru sedikit memakan makanannya, dan dia pasti lebih lelah dariku yang hanya diam saja di rumah selama ini. Ya ampun..... Aku menghancurkan rencanaku hari ini." Dengan kesal, Alexa memijit batang hidungnya sendiri saat bicara. Rika hanya diam di belakangnya, mengamati tanpa berniat mengatakan apapun lagi. "Rika, kau benar-benar mengatakan yang sebenarnya bukan? Tentang dia adalah kenalan dari musuh Dominic dan hal lainnya." Wajah Rika berubah dingin saat dia mendengar pernyataan Alexa. Rika menduga, pertemuan mereka di kamar mandi memang benar-benar lebih dari sekedar tidak berpapasan biasa. Wanita seberisik Irina pasti mengatakan sesuatu pada Alexa, sekalipun wanita itu telah diancam olehnya dengan keras. "Saya tidak mengatakan kebohongan apapun tentang wanita itu, Nona. Namun jika Nona mau, Saya bisa mencarikan informasi yang lebih mendalam mengenai wanita itu. Tampaknya, Nona tertarik padanya bukan?" Alexa terdiam saat Rika balas menyerangnya kini. Sejak awal mengenal gadis ini, Alexa sudah tahu bahwa Rika tidak pernah sesederhana kelihatannya. Setiap tindakannya seakan diperhitungkan dengan matang. Wajah Rika bahkan tidak berubah sedikitpun saat dia menjawab pertanyaan Alexa sekaligus berbalik menyudutkan Alexa. Namun jika masalah ekspresi, Alexa pun tidak kalah lihai dari Rika dalam menyembunyikan ekspresinya. Alexa menatap Rika dengan tenang, seakan pertanyaan Rika sebelumnya tidak berpengaruh apapun padanya. "Ya, karena jika dia berpotensi menyakiti suamiku menggunakanku, aku harus tahu siapa dia sebenarnya dan membantu suamiku membereskannya bukan? Aku tidak mau menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apapun dan berakhir tidak berguna sepanjang hidupku Rika. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya, dan apa dia benar-benar seorang musuh seperti katamu. Kau pasti tahu, kita tidak akan pernah menang dalam suatu pertarungan tanpa tahu musuh seperti apa yang kita lawan." Rika tersenyum. Wajah serius Alexa yang tidak getar sedikitpun saat dia sudutkan membuatnya cukup terkejut. Awalnya dia pikir Alexa akan mengelak atau tidak menjawab pertanyaannya. Namun menjawabnya dengan jujur dan tanpa takut, Alexa benar-benar wanita sama yang dulu membuat Rika kewalahan saat melawannya. "Nona benar. Kalau begitu, Saya akan mencari informasi sebanyak apapun yang Nona inginkan mengenai wanita tadi. Saat semuanya telah selesai, Saya akan membawakan laporannya pada Nona," ujar Rika. Alexa mengangguk, benar-benar bangkit dari tempat duduknya kali ini. "Nona-" "Aku akan menunggu berita darimu Rika. Aku sudah kenyang, kita bisa kembali sekarang," ujarnya memotong sebelum berjalan keluar dengan Rika yang akhirnya mengekor dengan patuh dibelakangnya. ***** "Kau yakin dia tidak menyadari apapun?" Dari nada suaranya, Rika seratus persen yakin bahwa peristiwa di restoran sebelumnya benar-benar membuat Dominic risau sekarang. Nada suaranya setelah dia mendengar penjelasan Rika benar-benar terasa dingin dan penuh kemarahan. Samar-samar Rika bisa mendengar suara seseorang berteriak, tanda bahwa bosnya ini baru saja melampiaskan kemarahannya pada seseorang lagi. "Wajahnya tidak terlihat berbohong Bos. Bos pasti tahu aku selalu bisa membaca wajah seseorang yang berbohong sehebat apapun mereka berusaha menyembunyikannya. Alexa, untuk saat ini tampaknya hanya menganggap wanita itu sebagai seseorang yang berusaha mendekatinya untuk melukaimu. Walaupun aku harus minta maaf, karena gagal mengetahui apakah wanita itu sempat mengatakan sesuatu pada Alexa atau tidak. Alexa tetap waspada dan pintar seperti biasanya Bos, dia berhasil menyudutkanku saat aku mencoba mengorek informasi darinya lebih dalam lagi." Informasi selanjutnya membuat Dominic menggeram karena kesal. Dia seharusnya tahu Alexa sejak awal bukanlah manusia yang mudah dibodohi begitu saja. Alexa seorang dominan, sifat aslinya membuat wanita itu sulit sekali menyerah atau dibodohi begitu saja oleh orang lain. "Tapi kau yakin Alexa tidak melakukan apapun setelah kalian pulang bukan?" tanya Dominic memastikan. "Tentu Bos, aku sudah memastikannya sendiri. Saat ini Alexa tengah tidur di kamarnya setelah mandi dan menonton tv sambil memakan makanan ringan di ruang tengah begitu kami kembali dari restoran. Semua alat elektronik di rumah telah aku sadap, kita pasti akan segera tahu jika Alexa mencoba mengorek masa lalunya lagi disini. Tolong jangan khawatir Bos, Alexa masih berada dalam genggamanmu bahkan dengan gangguan dari wanita itu," jawab Rika mencoba menenangkan. Dominic terdiam, sebelum membuat keputusan dengan cepat. "Bunuh dia," perintahnya singkat. Rika terlihat terkejut, sebelum bertanya dengan hati-hati. "Bukankah dulu Bos sudah berjanji pada Alexa untuk tidak menyentuh teman-temannya apapun yang terjadi? Apa Bos-" "Alexa sekarang tidak mengingat apapun tentang masa lalunya ataupun kenangan yang dia habiskan bersama wanita itu. Membunuh satu wanita tidak akan berpengaruh apapun padanya. Wanita itu sudah mencampuri urusanku terlalu jauh, parasit sepertinya akan semakin menganggu hubunganku dengan Alexa jika tidak segera dihilangkan. Tidak, aku sudah tahu dia akan menempatkan Alexa dalam bahaya jika tidak segera dihilangkan. Aku sudah pernah memberinya kesempatan, dan aku tidak akan sedermawan itu untuk memberinya ksempatan kedua," potong Dominic dingin. Rika terdiam untuk beberapa saat, sebelum menarik nafas panjang dan menjawab perintah Dominic. "Kalau begitu aku akan menghubungi tim pembersih untuk mencarinya Bos," jawab Rika pada akhirnya. Panggilan dimatikan tidak lama kemudian, menyisakan decakan kesal saat Rika segera menghubungi nomor lainnya. "Bos memberimu tugas untuk membersihkan sesuatu. Informasi lengkapnya akan segera kukirim padamu, usahakan untuk melakukannya dengan cepat dan buat semuanya tampak seperti kecelakaan," titah Rika jelas. Rika menghembuskan nafas lelah saat ucapannya dijawab afirmatif dan panggilan kembali dimatikan. Rika bersandar malas di kursinya sendiri kini, saat dia menatap dinding ruangannya dengan tatapan gelap. "Kau benar-benar membuat Bos gila, Alexa," gumam Rika sebelum menutup matanya dengan kesal. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD