Jawaban Doa [Riska]

795 Words
Aku menghela napas berkali-kali, saat bayangan wajah dokter Farhan yang memenuhi isi kepalaku. Entah ada apa, tiba-tiba aku memikirkan dokter itu dan niatan baiknya. Ini aneh sekali, aku masih menerka-nerka apa yang sebenarnya dia sembunyikan dibalik niatan ingin menikahi ku. Aku bukan perempuan bodoh yang dengan gampangnya mengiyakan lamaran seorang pria. Apalagi pria yang tampangnya seperti dokter Farhan, serasa ada sesuatu yang disembunyikan. Ini beda, sangat beda. Aku sama sekali tak melihat cinta yang terpancar dari matanya. Yang artinya, dokter Farhan tidak mencintai ku bukan? Lalu, kenapa dia tiba-tiba datang dan mengatakan niatnya dihadapan kedua orang tua ku. Ini udah beda cerita. Kalau diingat-ingat, Syasya juga dilamar dadakan sama dokter Azzam. Tapi situasinya beda banget, kalau waktu itu dokter Azzam udah cinta sama Syasya dan Syasya nya belum. Ini mah dokter Farhan dan akunya sama-sama gak ada cinta. Lah terus kalau nikah, mau dibawa kemana hubungannya? Astaghfirullah, dipikir terus kok lama-lama bikin sakit kepala ya. "Ika, turun! Udah jam 6 lebih ini, katanya hari Minggu ini mau olahraga pagi, tapi jam segini belum keluar kamar juga." Aku terbuyar dari lamunanku. Suara mama cukup menggelegar dan berenergi dipagi hari ini. "Sebentar ma, ini Riska lagi cari kaos kaki." teriakku. Jika tak berteriak, maka bisa dipastikan mama tak akan bisa mendengar. Dengan segera aku bangkit dan menggeledah lemari bagian bawah, aku temukan sepasang kaos kaki hitam beserta kain putih dibawahnya. Tangan ku terulur mengambil kain itu, pikiran ku bertanya-tanya siapa gerangan yang mempunyai kain ini? Pasalnya, ini bukan milikku. Aku telisik lagi, ternyata kain putih itu adalah sapu tangan. Tapi punya siapa? Setahuku, aku tak mempunyai sapu tangan berwarna putih. Mataku membelak, kala ingat si pemilik sapu tangan yang aku pegang. Astaghfirullah, aku baru ingat kalau sapu tangan ini milk dokter Farhan. Ingatan ku jadi berputar ke satu bulan yang lalu. Dimana waktu itu dengan bodohnya aku menangis ditaman belakang rumah sakit. Dan bertambah bodoh saat menerima sapu tangan yang disodorkan oleh dokter Farhan. Jadi, aku belum mengembalikannya? "Ika, ayo nanti keburu siang loh." Ya Allah, aku langsung tersadar dari pemikiran ku. Bergegas aku memakai kaos kaki dan kembali menyimpan sapu tangan itu di tempatnya semula. Biar, nanti jika aku ingat lagi, akan aku kembalikan. "Terus kepikiran dokter Farhan, bisa-bisa buat otak jadi gak beres." °•°•°•°•° Malam harinya, aku termenung sesudah melakukan sholat istikharah malam. Rasanya ada yang aneh dan berbeda. Ini bukan sholat pertama kali yang aku lakukan, tapi ada yang beda hari ini. Jika biasanya setelah sholat istikharah, maka aku akan tidur nyenyak tanpa gangguan. Kini berbeda, dalam mimpi tiba-tiba terlintas wajah dokter Farhan dan ucapannya terus terngiang-ngiang. Ini aneh. Ya benar-benar aneh. Tapi, aku sedikit sadar akan sesuatu. Mungkinkah dokter Farhan itu jawaban dari doa-doa ku belakangan ini? Serius? Ya memang, aku meminta petunjuk dari Tuhan ku. Tapi, apakah benar dokter Farhan itu jawaban yang tepat? Pikiran ku benar-benar kacau. Hanya karena lamaran, aku dibuat berpikir sekeras ini. Bahkan masih ada 27 hari lagi untuk menjawab lamarannya. "Ika." Aku terkesiap, dan menoleh kearah pintu. Disana sudah berdiri mama yang tengah tersenyum menatapku. "Ada apa ma?" "Tumben masih bangun jam satu malam. Biasanya juga kalau weekend itu tidurnya pasti sore." "Kebangun ma, abis ini juga mau tidur lagi." jawabku. "Gak sekalian sholat tahajud?" "Nanti aja di sepertiga malam terakhir. Ah iya, kenapa mama kesini?" tanyaku. "Cuma mau cek aja. Dan kebetulan juga, mama mau bicarain soal lamaran dokter Farhan." Aku menyengrit, buat apa nama menanyakan tentang orang itu. Apa dia tak tahu, kalau anaknya ini tengah bingung dan pikirannya kacau. "Ika, mama sama papa cuma mau yang terbaik buat kamu. Kami gak maksa kamu buat cepat-cepat nikah kok. Kami membebaskan kamu memilih pria untuk jadi imam kamu, ya asalkan pria itu pria baik-baik." "Dan menurut kami, dokter Farhan itu pria baik-baik. Tapi, kembali lagi ke kamu nya. Kalau kamu kurang cocok, ya gak usah diterima lamarannya. Kami gak akan maksa kamu Ika." lanjut mama. "Ma, masih ada 27 hari lagi buat Ika jawab lamaran dokter Farhan. Selama itu, Ika bakalan berusaha buat mentapin hati untuk terima dokter Farhan. Ya meskipun Ika masih bingung alasan dokter Farhan tiba-tiba lamar Ika." ucapku. "Bingung kenapa?" "Ini terlalu tiba-tiba ma. Bahkan selama Ika satu rumah sakit sama dokter Farhan, Ika gak lihat tuh tanda-tanda kalau dia ada suka sama Ika. Dan dari tatapan matanya pun, Ika rasa dokter Farhan itu gak cinta sama Ika." jelasku. "Mungkin itu perasaan mu aja. Siapa tau dia itu cinta sama kamu, tapi gak bisa ungkapinnya." ucap mama. Apa benar? Lucu sekali kalau dokter Farhan benar-benar mencintaiku. Apa yang menarik dariku sehingga dia melabuhkan hati pada perempuan tak sempurna seperti diriku ini. Jika di lihat-lihat, banyak kok perempuan yang jauh lebih cantik dariku. Bahkan jabatannya setara dengan dokter Farhan. Tapi kenapa dokter itu malah memilih ku? Apa matanya sedikit bermasalah, atau dia memang tak melihat dari fisik? Entahlah, benar apa kataku. Jika memikirkan dokter Farhan terus-menerus, bisa gak beres ini otak lama-lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD