Author POV
Amaya turun dari taksi yang ditumpanginya dengan tergesa-gesa. Merapikan pakaian yang digunakannya sebentar, kemudian menyelipkan anak rambutnya yang sedikit berantakan. Dia tidak punya banyak waktu untuk berdandan tadi. Setelah pulang dari jalan-jalan bersama Gea. Tadi mereka melakukan facial lalu dilanjutkan shopping di mall. Sebenarnya Amaya terhitung jarang melakukan facial, karena bujukan Gea tadi dia akhirnya ngikut saja.
Sampai di rumah pukul setengah empat dan dia ketiduran sampai jam enam lewat. Sekali lagi sambil berjalan dia memeriksa jamnya, hampir jam delapan. Baru kali ini Amaya merasa bersyukur dengan kebiasaan orang Indonesia yang sedikit mengulur waktu. Kalau dia di Sydney sekarang, kemungkinan besar dia tidak akan diizinkan masuk. Amaya segera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang resepsi untuk mencari Raven, tapi dia tidak melihatnya.
Amaya memutuskan ke kamar mandi sebentar setelah bertanya pada seorang pelayan dimana letak kamar mandinya. Tidak lucu kalau penampilannya berantakan seperti terkena angin beliung begini. Dia merapikan rambutnya lagi setelah memoleskan lipstik pink lembut di bibirnya. Lalu kembali merapikan dress cokelat tuanya.
Cermin di depannya menampilkan make up yang dipoles sempurna di wajah putihnya. Setelah itu dia kembali keluar sebelum Raven mengomel panjang lebar karena keterlambatannya. Amaya berjalan ke sudut kanan bagian depan, di sana Dira berada. Karena dari tadi dia tidak melihat Raven, dia memutuskan menghampiri Dira saja.
"Hei," sapanya setelah berada di depan lelaki itu.
"Ohh, kenapa baru datang? Raven mencarimu sejak tadi," kata Dira.
Amaya hanya tersenyum kecil tidak menjawab. Belum sempat dia bertanya di mana Raven, gadis yang berada di samping Dira menyelanya.
"Kakak siapa?! jangan pernah menggoda kakak Diraku," gadis itu bertanya ketus, menyelidik padanya.
Amaya menoleh padanya. Mengamati gadis yang menggelayut manja pada lengan kiri Dira.
"Auwww!"
Dira menyentil kening gadis itu.
"Jaga bicaramu, tidak sopan!" kata Dira memperingatkan.
Yang dibalas wajah cemberut gadis itu.
"Minta maaf padanya!" katanya tanpa mau dibantah.
Gadis itu terlihat ingin menolak, tapi setelah menerima tatapan tajam Dira, dia mendengus kecil dan menatap Amaya.
Lalu gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Amaya, "Maaf, kenalkan, aku Arinda, tunangan kak Dira, katanya dengan senyum semanis mungkin."
Amaya menyambut uluran tangannya tanpa menyebut namanya, dia hanya mengangguk kecil lalu beralih kembali ke Dira.
"Dimana Raven?"
Dira yang menatap tajam gadis di sampingnya itu segera mengalihkan tatapannya.
"Dia bersama Renata tadi berbincang dengan teman-temannya."
Melihat Amaya diam saja Dira kembali bertanya, "Kau sudah menyalami pengantinnya?"
"Ohh itu, belum."
Dia bahkan lupa menyalami yang punya acara di depan. Amaya melihat Danny dan Febi sedang tersenyum bahagia menyalami tamu undangan. Dalam balutan adat sunda, Febi tampak begitu ayu.
"Itu Aryan, kau bisa bersamanya menyalami Febi dan Danny."
Amaya melihat ke arah yang ditunjuk Dira. Aryan berjalan menuju ke panggung untuk bertemu pengantin dan keluarganya. Amaya sedikit enggan dengan tawaran Dira. Tapi dia juga tidak enak kalau mengganggu Dira dan tunangannya ini. Alhasil dia mengangguk kecil dan berjalan cepat menyusul Aryan yang sudah di tepi panggung.
Amaya hampir saja terpeleset saat sepatu hak tingginya menginjak separuh anak tangga menuju panggung. Dia meringis pelan karena pergelangan kakinya sedikit nyeri. Tanpa sadar tangannya memegang lengan Aryan yang berdiri di depannya.
Membuat Aryan sedikit terkejut melihatnya, tapi sedetik kemudian laki-laki itu menampilkan wajah datar seperti biasanya. Amaya segera melepaskan tangannya di lengan laki-laki itu, lalu dengan pelan kembali menaiki anak tangga.
"Selamat atas pernikahan kalian, aku menunggu Danny junior segera hadir," kata Aryan sambil menyalami Danny.
"Segera kuusahakan," balas Danny yang mendapat cubitan dari Febi.
Amaya tersenyum sambil memeluk Febi, "Selamat menempuh hidup baru."
"Terimakasih, kapan kalian berdua akan menyusul?"
Pertanyaan ambigu Febi membuatnya dan Aryan terdiam. Kalian yang dimaksud Febi terlihat dia dan Aryan kapan menikah, bukannya kapan Aryan serta pasangannya menikah dan kapan Amaya serta pasangannya menikah. Danny berdehem pelan menghilangkan kecanggungan yang ada.
"Dia hanya bercanda, tapi kalau serius juga tidak papa, heheee, sudahlah ayo foto!" ajak Danny.
Aryan berdiri di samping Danny dan Amaya berdiri di sebelah Febi untuk berfoto. Setelahnya mereka menyalami orangtua Danny yang ada di sisi panggung sebelah kiri.
"Jadi ini calonmu Aryan? cantik sekali, kapan akan menyusul?"
Amaya terkejut ketika mendapat pelukan dari Mamanya Danny. Dia menoleh ke Aryan dengan bingung. Tapi laki-laki itu hanya tersenyum kecil pada wanita paruh baya di depannya.
Ya Tuhan, lagi-lagi dikira dia adalah pacar Aryan. Tapi dia ikut diam dan tersenyum kikuk. Lalu memegang lengan Aryan erat mengisyaratkan laki-laki di sebelahnya untuk segera turun panggung sebelum ditanya macam-macam lagi.
Amaya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Raven, tapi ponsel sepupunya itu tidak aktif. Dia berdecak kesal sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Mau kemana?" tanya Amaya tanpa sadar kembali memegang lengan laki-laki itu.
Aryan melihat sebersit kecemasan di wajah wanita itu. Amaya tidak kenal orang lain di sini, mungkin itu yang menyebabkan wanita itu sedikit cemas.
"Cari tempat duduk," katanya singkat dan berjalan ke meja di sudut yang sedikit sepi.
Para tamu undangan lebih memilih duduk di depan atau di meja-meja bundar sambil berbincang. Aryan tahu wanita itu mengikuti di belakangnya.
"Aryan!"
Laki-laki itu berhenti dan menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum singkat. Amaya ikut berhenti dan melihat seorang wanita dengan dress biru laut selutut menghampiri Aryan.
"Apa kabar? lama tidak ketemu?" wanita itu tersenyum manis.
Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Amaya di belakang Aryan.
"Baik," jawab Aryan.
"Sombong sekali bapak arsitek ini, tidak pernah datang kalo diajak ngumpul."
Aryan hanya tersenyum kecil. Amaya merasa dirinya mengganggu mereka. Tentu saja laki-laki itu ingin mengobrol dengan teman-temannya. Kenapa Amaya malah menguntit laki-laki itu. Dia merasa seperti orang asing di sini. Dia tidak mengenal siapapun yang bisa diajaknya bicara. Aryan masih asyik mengobrol dengan temannya itu tanpa melirik Amaya sedikitpun.
Amaya segera berbalik dan berjalan ke luar. Di samping ruang tersebut ada taman yang dipenuhi lampu, tapi karena udara di sini cukup dingin orang-orang lebih memilih di dalam. Hanya seorang lelaki dan wanita yang duduk di bangku agak tengah. Amaya memilih duduk di bangku agak tepi, menghadap kolam di depannya. Dia membungkuk sedikit sambil memijat tumit kanannya yang bertambah nyeri.
Seharian berjalan keliling mall bersama Gea sudah membuat kakiknya pegal, ditambah lagi tadi hampir terpeleset dengan hak setinggi ini. Amaya kembali meringis kecil sambil memberikan pijatan kecil di tumitnya.
Ponselnya berdering pelan, kemungkinan Raven yang menelponnya. Amaya menjawab tanpa melihat nama si penelpon.
"Kau dimana?!" tanyanya ketus.
"Amaya."
Sapaan itu seketika membuat Amaya yang ingin mengomel langsung terdiam beberapa saat. Suara di seberang adalah suara yang dirindukannya sekaligus tidak ingin di dengarnya saat ini.
"Amaya, kau di sana nak?"
Amaya menghela napas pelan sebelum melihat nama yang tertera di ponselnya, seolah memastikan pemilik suara itu.
"Ya... Pa," katanya terbata, dia mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Bagaimana kabarmu? Papa dengar kamu di Bandung?"
Jeda sesaat sebelum Amaya menjawab,"Baik, ya aku kerja di Bandung dan tinggal bersama Raven, ... bagaimana keadaan Papa?"
"Papa sehat, ... sudah lama kita tidak bertemu nak."
"Ya," jawab Amaya singkat.
Amaya tidak tahu harus bicara apa, tidak pernah terbayangkan seseorang yang mengalirkan darah di tubuhnya akan menjadi seperti orang asing baginya. Setiap kali mereka bicara akan ada kecanggungan seperti ini. Keduanya berusaha untuk tidak menyinggung masalah sensitif di antara keduanya.
"Papa merindukanmu nak, semoga kau selalu baik-baik saja," kata Papanya lirih di ujung sana setelah kembali jeda beberapa saat.
"Ya."
Amaya tidak bisa mengatakan bahwa dia juga merindukan satu-satunya orangtuanya yang masih ada itu. Dia menggigit bibirnya, tangannya menggenggam erat tas di pangkuannya, mencegahnya gemetar. Tenggorokannya terasa sakit. Amaya mendengar papanya mengucapkan selamat malam kemudian memutuskan telepon saat Amaya tidak juga membalasnya. Yang tidak diketahuinya, anaknya itu kini mencoba menahan air matanya keluar.
Memikirkan apakah dirinya tidak cukup berarti untuk papanya, sehingga papanya memilih pergi. Apakah dirinya saja tidak cukup menjadi alasan papanya untuk tetap tinggal. Bertahun-tahun dirinya mencoba mengubur masa lalu itu. Tidak ingin luka dulu yang belum benar-benar sembuh itu terbuka lagi. Amaya melihat kedepan tanpa benar-benar ada fokusnya. Hawa dingin malam yang menusuk lengan telanjangnya tidak dihiraukannya. Entah berapa lama dia duduk melamun begitu.
"Pestanya di dalam, kau malah ada di sini."
Suara berat itu membuat Amaya menoleh sekilas ke seseorang di belakangnya. Lalu kembali menatap depan tanpa ada niatan membalas komentar sinis Aryan.
"Ayo masuk," ajak Aryan.
"Aku masih ingin di sini," jawab Amaya pelan tanpa menoleh.
Dia pikir laki-laki itu akan pergi, tapi pria itu berjalan memutari bangku dan duduk di sebelahnya. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Ada apa?" Akhirnya Aryan yang memecah keheningan lebih dulu.
Amaya menghembuskan nafas panjang sambil memejamkan matanya sebentar.
"Apanya?"
"Kau ini ditanya malah balik tanya!" Aryan berdecak kesal sambil menoleh ke samping, menatap Amaya yang masih lurus melihat depan.
"Kalau kau kesini hanya untuk mencelaku, pergilah, aku sedang tidak ingin berdebat," kata Amaya datar.
Keduanya kembali tidak bersuara beberapa saat. Sampai akhirnya Aryan berdiri dan melangkah ke depannya, menghalangi Amaya dari pandangannya ke depan. Amaya mendongak melihat manik mata hitam laki-laki yang menjulang dihadapannya. Keduanya saling menatap tepat di manik mata. Sedetik kemudian Amaya terpekik kaget ketika laki-laki itu berjongkok di depannya.
"Apa yang kau lakukan?"
Mengacuhkan pertanyaan itu Aryan justru memegang pergelangan kaki kanan wanita di depannya. Amaya lupa kalau tadi dia melepas sepatu heels-nya sebelah kanan saat tadi memijat tumitnya yang nyeri. Dia merasakan tangan besar dan hangat Aryan di kakinya yang dingin. Lalu laki-laki itu memijat pelan tumitnya. Membuat Amaya meringis kecil.
"Sakit?" Aryan mendongak melihat Amaya yang kesakitan.
Amaya hanya mengangguk kecil. Entah kenapa pijatan Aryan di kakinya membuatnya lebih baik. Amaya terus mengamati pria itu yang dengan serius memijat kakinya.
"Sedikit tergelincir, tapi tidak parah," kata Aryan lalu memasangkan high heels peach Amaya.
Kemudian laki-laki itu berdiri dan mengulurkan tangannya,"Ayo pulang."
Amaya mengamati tangan laki-laki itu yang terulur di depannya dengan sedikit ragu. Lalu Aryan menariknya berdiri. Mereka berjalan ke lobi utama gedung itu. Tangan kanan Amaya mengandeng lengan kiri Aryan, membantu kakinya yang kini terasa makin nyeri saat berjalan.
"Tunggu di sini, mobilku di basement," kata Aryan saat mereka sampai di lobi.
Amaya kembali mengangguk pelan tanpa membantah. Dia duduk di sofa lobi dan tiba-tiba gerimis mulai turun. Sebentar kemudian mobil Aryan datang, Amaya berjalan pelan dan masuk ke mobil laki-laki itu. Setelah duduk di dalam Amaya mengusap lengannya yang basah terkena hujan. Bajunya juga sedikit basah. Dia mulai merasa dingin sekarang. Dress-nya yang tanpa lengan dan sedikit diatas lutut ini membuat hawa dingin langsung menusuk kulitnya.
"Pakai jasku di belakang."
Amaya menoleh pada laki-laki yang menyetir di sampingnya. Sejak kapan dia melepas jasnya, kini menyisakan kemeja putih yang sudah digulung sampai siku. Amaya menoleh ke belakang dan mengambil jas itu untuk menutupi badannya.
"Dimana Raven?" tanyanya setelah beberapa saat keduanya terdiam.
"Tadi masih di pesta" jawab Aryan singkat.
Keduanya kembali diam. Amaya sibuk memandang hujan lewat kaca mobil di sampingnya.
Hujan, dia menyukainya.
Membuat perasaanya jadi lebih baik. Suara air yang turun mengenai jalan. Aroma tanah kering yang terkena hujan membuatnya merasa tenang. Embun dingin yang menyentuh pipinya. Tanpa sadar Amaya memejamkan mata, membayangkan hal itu.
"Amaya."
Suara lembut itu menyadarkannya. Dia menoleh ke lelaki di sampingnya. Ini pertama kali Aryan memanggil namanya tanpa nada datar atau dingin, tapi laki-laki itu mengucapkannya dengan lembut. Membuat jantung Amaya berhenti sebentar dan menahan nafasnya.
"Hujan, dalam bahasa lain Amaya berarti hujan."
Amaya mengerutkan keningnya, jadi laki-laki ini tadi tidak memanggilnya. Amaya mengalihkan pandangannya, kembali menatap ke kaca di sampingnya. Enggan mengomentari pria itu. Ya, Amaya memang berarti hujan. Dia berterimakasih Mamanya memberikan nama itu padanya.
"Sama sepertimu, dingin."
Kali ini Amaya tidak bisa menghiraukan komentar sinis laki-laki di sampingnya itu. Baru sebentar saja mereka tidak berdebat, pria itu sudah memulainya.
"Memangnya kenapa? aku suka hujan," kata Amaya ketus.
"Basah dan dingin, banyak orang yang tidak suka."
Amaya menoleh dan menatap tajam Aryan.
"Termasuk dirimu?" tanya Amaya sinis yang membuat lelaki itu menoleh dan menatapnya, tapi tidak menjawab.
Memangnya kenapa kalau banyak orang tidak suka hujan. Apakah laki-laki itu mencoba mengatakan banyak orang pula yang tidak menyukai Amaya. Tanpa dapat dikendalikan, pikiran Amaya langsung teringat pada orang-orang yang tidak menyukainya.
Papanya yang pergi meninggalkannya, beberapa temannya yang membicarakan dirinya di belakang, mantan pacarnya yang bilang dirinya keras kepala dan masih banyak lagi. Amaya memejamkan matanya, mengusir bayangan itu dari pikirannya. Ketika Amaya membuka mata, dia mengumpat pelan. Perasaannya begitu kacau setelah papanya menelepon.
"s**t!"
Aryan menoleh mendengar u*****n wanita itu. Dia melihat Amaya sedang menahan amarahnya. Dia benar-benar tidak bermaksud menyinggung gadis itu tadi. Dan ketika mobilnya berhenti di depan rumah Raven. Amaya melemparkan jas Aryan dengan kesal dan segera turun dari mobil. Dengan kakinya yang masih nyeri Amaya berjalan cepat ke pintu, mengabaikan panggilan pria itu.
"Lepaskan!" teriak Amaya marah ketika lengannya ditarik Aryan.
Aryan dapat melihat kilat marah di manik jernih hitam wanita di depannya.
"Dengarkan aku ...."
"Apalagi, hinaanmu yang lainnya?!" Amaya bertanya dengan nada sinis. Wanita itu segera berbalik, tapi Aryan kembali menahan lengannya.
"Oleskan obat nyeri di kakimu lalu kompres dengan air hangat," kata Aryan pelan sambil menatap Amaya yang masih terlihat ingin menendangnya saat itu juga.
Tanpa mengatakan apapun wanita itu segera berbalik dan masuk ke dalam. Aryan menghembuskan nafasnya panjang. Dia tidak bermaksud membuat wanita itu marah. Dan melihatnya tersinggung seperti itu, membuatnya merasa seolah ini tidak benar.
***