bc

AMAYA

book_age16+
2.6K
FOLLOW
17.4K
READ
possessive
family
independent
journalists
drama
bxg
female lead
city
office/work place
lonely
like
intro-logo
Blurb

Amaya kembali ke kampung halaman setelah tujuh tahun melarikan diri ke Sydney. Kini dirinya dipaksa menghadapi lembar demi lembar luka lama dari masa lalunya. Bersama seorang lelaki yang tak sadar ternyata menemaninya menyembuhkan luka.

Ya Tuhan, dari sekian banyak makhluk berjenis kelamin laki-laki di semesta, kenapa laki-laki menyebalkan ini yang harus jadi sahabat sepupunya.

_Amaya Cassandra

Empat tahun berlalu wanita ini sama sekali tidak berubah. Tetap saja keras kepala dan angkuh.

_Naryandra Bagaskara

Tanpa disadari keduanya, kisah mereka yang dulu sempat bersinggungan, akankah sekarang justru akan berada di kisah yang sama? Bukankah Sang penggaris takdir tak dapat dibujuk pun ditolak.

With love

_Julls Sailenndra

chap-preview
Free preview
Part 1
Sejenak waktu pernah merekam kita di kisah yang sama. Lalu sekejap kemudian kita kembali berjalan di kisah masing-masing. Akankah nanti waktu kembali merajutkan kita di kisah yang sama? Kau tak dapat membujuknya juga menolaknya. Aku pun sama. . . . Author pov Seorang wanita seperempat abad dengan kacamata yang bertengger manis di wajahnya yang putih tengah sibuk mengomel di antara lalu lalang keramaian Bandara Soekarno-Hatta. Dengan setengah kesal dia menyeret kopernya. "Kau dimana?! aku sudah sejam lebih menunggumu di sini seperti orang hilang,” semburnya pada seseorang melalui ponselnya. "Sorry May, aku lagi ketemu klien, gak bisa ditinggal ini. Aku sudah minta temanku menjemputmu, dia di perjalanan sekarang." Wanita itu berjalan ke arah kafe bandara dengan wajah masam. Sepupunya -Raven-membuatnya dongkol. Kalau memang tidak bisa menjemput kenapa tidak bilang sejak awal. Dia kan bisa cari taksi, bukannya mondar-mandir seperti orang linglung. "Yang perlu kau lakukan duduk manis dan menyesap kopi hangat dengan sandwich sembari menunggu, oke?" "Aku tidak suka kopi!" katanya sambil mendaratkan diri di meja pojok dekat kaca. "Pesan apapun yang kau suka, nanti aku ganti… " Amaya segera mematikan sambungan ponselnya, mengakhiri sepihak obrolan dengan sepupunya itu. Dia menghela nafas kesal. Melihat keluar kaca di sampingnya sambil mengingat lagi nasib yang membawanya pulang ke negara asalnya. Setelah tujuh tahun lebih di Sydney, kuliah kemudian bekerja di sana. Tujuh tahun kalau yang Raven bilang ia melarikan diri. Tidak sepenuhnya sepupunya itu salah. Dia memang melarikan diri kesana. Karena apa? jangan tanya sekarang. Kalau bukan karena perusahaan majalah tempatnya bekerja sedang mendekati kebangkrutan karena permainan saham yang dia sendiri tidak paham, dia tidak akan kembali kesini. Sebuah perusahaan majalah yang cukup terkenal di Bandung menawarinya kerjaan. Dengan gaji yang lumayan. Setelah berpikir berulang-ulang akhirnya dia menerima panggilan kerja itu dan memutuskan balik ke kampung halamannya. Amaya setengah melamun ketika seorang laki-laki di akhir dua puluhan berdiri di depannya. Dengan kekesalan yang masih ada wanita itu menoleh dan mengamati pria di depannya yang dugaannya adalah teman Raven. Amaya mengamati pria itu dengan teliti, seolah sedang mengoreksi kata demi kata dalam artikelnya. Celana hitam, kemeja abu-abu tua yang digulung sampai siku, jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Dan kemudian dia naik ke atas mengamati wajah laki-laki itu. Segera wajah adonis dengan mata hitam tajam itu bertemu dengan matanya dari balik kacamata. What the . . . Amaya melepaskan kacamatanya, seolah memastikan penglihatannya. Ketika keduanya saling tatap beberapa saat, Amaya segera merutuk dalam hati. Kenapa dari sekian laki-laki penduduk bumi, laki-laki di depannya ini harus jadi teman sepupunya. Dan kenapa dari sekian banyak teman Raven, harus lelaki ini yang menjemputnya. Ya Tuhan garis takdir apa yang sedang kau pilihkan untukku, batinnya. Kenapa dia harus kembali bertemu dengan tetangga flatnya yang menyebalkan waktu dia setahun kerja di Singapura dulu. Aryan. Naryandra Bagaskara. ‘Ohh ya ampun, kenapa aku masih mengingat namanya’ Tanpa sadar Amaya merutuk pelan. Sejenak kemudian dia mendengar laki-laki itu berdehem pelan. Amaya segera memakai kacamatanya lagi dan berjalan ke pintu keluar bandara. "Sedetik saja lebih lama menunggu, aku pasti sudah menjamur,” katanya saat melewati laki-laki itu. … Aryan hanya melihatnya datar dan mengikuti wanita itu keluar. Empat tahun tidak bertemu wanita ini sama sekali tidak berkurang galaknya, batinnya. Dua orang dalam mobil Range Rover hitam itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Aryan sibuk menyetir dan Amaya sibuk memperhatikan jalan melalui kaca mobil, sesekali wanita itu mengecek ponselnya. Pertanyaan yang sama kembali terulang dalam pikirannya. Kenapa dia harus bertemu lagi dengan tetangga flat menyebalkannya itu. Dan juga, apa laki-laki itu tidak mengenalinya, tapi mana mungkin. Laki-laki itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dari tadi. Amaya menoleh sedikit ke arah pria di sampingnya itu. Laki-laki itu terlihat lebih dewasa dari empat tahun lalu. Kulitnya lebih kecokelatan dari yang terakhir diingatnya. Rahang yang terlihat belum dicukur itu semakin menambah kesan dewasa. Amaya sontak langsung mengalihkan pandangan ketika tiba-tiba Aryan menoleh ke arahnya. Kenapa aku begitu bodoh, batinnya. Amaya berdehem pelan menghilangkan kesunyian di antara mereka. "Sejak kapan kau tahu aku sepupunya Raven?" tanyanya masih melihat ke depan. Aryan menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. "Dua jam yang lalu." Aryan melihat kening wanita di sebelahnya berkerut bingung. Kemudian dia menambahkan,"Raven memintaku menjemput sepupunya, dia mengirimkan fotomu." Amaya hanya menganguk sekilas, kembali melihat keluar. Lihatlah keduanya memang tidak bisa duduk berdua mengobrol. Dari dulu memang begitu, bisa dikatakan keduanya tidak berteman -ralat- bertetangga baik. "Tujuh tahun sama sekali tidak berubah, kemacetan di sini memang sudah kronis,” omelnya melihat sekeliling mobil-mobil tidak juga bergerak. Aryan sama sekali tidak berkomentar, laki-laki itu malah sibuk dengan ponselnya. Amaya memakai kacamatanya dan menyandarkan punggungnya. Lebih baik menghabiskan waktu untuk tidur daripada bosan setengah mati dalam mobil dengan laki-laki dingin itu. ... Aryan menghentikan mobilnya disebuah rumah bercat abu-abu putih dengan gaya minimalis. Melihat ke samping dan mendapati Amaya tertidur. Dia menghembuskan nafasnya sebentar. "Bangun! sudah sampai,” katanya sambil mengamati wanita itu. Amaya sama sekali tidak bergerak, dia masih tidur pulas. Disentuhnya pelan tangan wanita itu. "Amaya! Bangun" Wanita itu bergerak pelan sambil melepas kacamatanya, namun masih belum seutuhnya bangun. "Emm, dimana?" tanyanya dengan setengah mengantuk. Aryan membiarkannya sebentar, lalu laki-laki itu keluar dari mobil. "Cepat turun, sudah sampai." Amaya masih memulihkan kesadarannya. Dia melihat laki-laki itu keluar dan mengambil kopernya di bagasi. Dilihatnya rumah yang semasa SMA ditinggalinya itu. Ini juga tidak berubah. Warna cat yang sama, pohon bugenvil di samping rumah dan kursi taman itu juga masih ada. Dulu dia sering duduk disitu saat sore hari. Dia juga masih mengingat Raven pernah jatuh dari pohon bugenvil itu dan menjadikan kakinya terkilir. Kenangan itu masih utuh dan tersimpan rapi dalam benaknya. Yang selama tujuh tahun ini tak pernah dibukanya. Kenangan yang bertumpuk-tumpuk bersama kenangan lain. "Sampai kapan kau akan di situ?” Amaya sedikit kaget ketika kaca di sampingnya diketuk dari luar. Dia segera turun dan mengambil alih kopernya yang dipegang Aryan. "Terimakasih sudah menjemputku," katanya datar dan segera berbalik ke rumah itu tanpa menunggu balasan dari Aryan. Aryan hanya balas menatap datar wanita yang menghilang ke balik pintu rumah Raven itu. Awalnya ketika Raven minta tolong padanya untuk menjemput sepupunya di bandara, dia agak enggan karena pekerjaannya juga menumpuk. Tapi ketika Raven mengirimkan foto sepupunya, dia langsung menyetujuinya. Bukannya apa, dia hanya ingin tahu apakah sepupu Raven adalah orang yang sama dengan tetangga flatnya saat di Singapura dulu. Saat melihat foto yang dikirimkan padanya dia berharap semoga wajah mereka yang mirip. Tapi ketika dia bertemu langsung di bandara, walaupun sudah empat tahun berlalu dia langsung dapat memastikan bahwa sepupu Raven memang tetangga flatnya dulu. Awalnya dia memang terkejut, sama ketika wanita itu yang tadi sama sekali tidak menyembunyikan keterkejutannya. Siapa yang akan menyangka kalau mereka akan bertemu lagi. … "Kau sudah mengabari papamu kau pulang ke Bandung?" Amaya menghentikan kunyahan keripik kentangnya ketika Raven bertanya. "Sudah," katanya singkat. "Lalu?" Amaya bisa melihat Raven menoleh ke arahnya. Tapi dia masih melihat ke layar TV yang sedang mengabarkan berita korupsi anggota DPR. "Apanya? ya sudah aku sudah mengabari,” katanya setelah melihat Raven menunggu jawabannya. "Kau tidak akan bertemu papamu?" Amaya tahu cepat atau lambat dia akan bertemu papanya. Alasannya melarikan diri ke Sydney. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. "Nanti." Raven yang melihat Amaya enggan membahas masalah tersebut, kemudian hanya mengangkat bahu dan tidak bertanya lebih lanjut. "Kalian saling kenal?" "Siapa?" "Kau dan Aryan." Kali ini Amaya benar-benar berhenti mengunyah dan mengalihkan pandangannya dari TV. "Apa yang dia katakan?" Raven hanya menggeleng pelan,"Aryan bilang kalian tetangga flat waktu di Singapura." Amaya tanpa sengaja menghembuskan nafasnya pelan. Ya mereka memang tetangga flat. Dibalik beberapa kejadian tidak menyenangkan di kata tetangga itu. "Aku tidak terlalu mengenalnya." Raven mengangguk sekilas. "Sudah kutebak, laki-laki akan berpikir setidaknya tujuhbelas kali sebelum mendekatimu, mengingat sifat keras kepala dan galakmu itu.” Amaya tidak membalas ejekan sepupunya itu. Raven bukan orang pertama yang mengatakan dia keras kepala dan dingin, banyak teman-temannya dulu juga bilang begitu. Terserah saja mereka mau berkomentar apa. Kenapa dirinya harus repot-repot mendengarkan penilaian orang lain terhadapnya. Hidupnya sudah terlalu rumit tanpa itu. Amaya melihat Raven yang mengambil sebatang rokok dan menyelipkan di bibirnya. Lalu laki-laki itu menyalakan korek. "Auwww! Kenapa sih?" Teriak Raven sambil memegang kepalanya yang terkena pukulan bantal sofa dari Amaya. "Jangan pernah merokok di depanku!" Raven mengamati Amaya yang berdiri kemudian mengambil rokok yang ada di meja. Lalu wanita itu berjalan ke dapur. Dan setelah menyadari apa yang akan dilakukan sepupunya itu Raven segera berdiri. "May, May! Jangan! itu baru beli tadi,” rengeknya. Amaya kemudian membuang rokok Raven ke tempat sampah. "Ini pertama dan terakhir kali kau merokok di depanku, banyak orang sakit yang ingin sehat, kau yang sehat malah cari penyakit," omelnya. Amaya berjalan ke kamarnya mengabaikan wajah memelas sepupunya itu. "Ck, kau akan jadi perawan tua kalau masih segalak itu." Teriakan Raven masih terdengar namun Amaya mengabaikannya. *

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

You're Still the One

read
119.4K
bc

Surgeon Story

read
267.4K
bc

Perfect Marriage Partner

read
821.3K
bc

Way Back Into Love || Indonesia

read
13.1K
bc

FINDING THE ONE

read
34.6K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.6K
bc

MENGGENGGAM JANJI

read
484.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook