Author POV
Rasanya begitu nyaman saat pagi hari terbangun di tempat tidurmu sendiri. Di kasur yang sudah bertahun-tahun ditempati, dengan barang-barang berserakan di kamar. Warna catnya, selimutnya, bahkan atapnya seolah mengatakan selamat pagi dengan akrabnya. Ketika tidur di tempat lain sehari saja, barulah sadar kita merindukan kasur kita dan ingin rasanya cepat pulang.
Amaya tidak tahu dimana yang bisa disebut rumah untuknya. Rumah orangtuanya di Bogor sudah dijual saat dia SMP. Tiga tahun setelah mamanya meninggal dan papanya menikah lagi lalu memutuskan tinggal di Balikpapan, tempat tinggal istri baru dan anak-anaknya yang merupakan keluarga baru papanya sekarang. Atau rumahnya di mana dia menetap setahun di Singapura. Atau selama tujuh tahun lebih tinggal di flatnya di Sydney, atau di sini sekarang ini, rumah Raven.
Jadi dimana rumah yang dimaksud itu bagi Amaya. Yang jelas selama ini dia terbiasa tinggal sendiri, tidak ada yang menelponnya kapan pulang, mengatur keuangannya sendiri dan melakukan semuanya sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu, dia tidak pernah mau merepotkan orang lain. Dari dulu dia terbiasa mandiri. Saat kuliah dia mulai mengikuti casting iklan dan sebagai model majalah-majalah di Sydney.
Di antara wajah Kaukasoid di negara itu wajahnya yang khas Asia dan kulit putih bersih dengan rambut hitam panjang miliknya, menjadi daya tarik tersendiri. Memudahkannya mendapat Iklan produk shampoo atau facial wash. Walaupun uang dari papanya lebih dari cukup, tapi dia tidak mau bergantung dengan itu. Benar kata Raven, dia memang bukan orang yang suka bersosialisasi, temannya tidak banyak. Dia bukan orang yang ramah, sebaliknya, keras kepala, egois, galak, kata itu lebih cocok untuknya.
But f*ck what people think, it’s my life.
Itu yang selalu menjadi prinsipnya. Kenapa orang suka sekali mengurusi hidup orang lain, menilai orang lain begitu mudahnya. Saat di mall, di jalan, atau di bus, dengan mudahnya mereka mengatakan pakaiannya terlalu norak, warna rambutnya aneh, gayanya berlebihan dan masih banyak yang lainnya.
Amaya selalu berpikir pemikiran orang itu menakutkan, berteman saja kadang membicarakan keburukannya di belakang. Sulit sekali mencari orang yang tulus berteman, bukan karena dia kaya, dia cantik, dia pintar, populer. Ada motif di balik kata teman itu. Yang jika itu hilang pertemanan itu juga akan ikut hilang bersamanya.
Tiga hari ini dihabiskannya dengan menata kamar dan membereskan barang-barangnya dari Sydney yang dikirimkannya lewat paket. Buku, baju, sepatu, barang elektronik, sampai pernak-perniknya kini sudah tertata rapi di kamar. Sekarang barulah ia sadar bahwa barangnya selama ini sama sekali tidak sedikit. Dia mengirim semua barang miliknya di flatnya Sydney ke sini. Karena mungkin dia tidak akan kembali lagi kesana. Sekarang di sini rumahnya, sampai waktu yang tidak ia tahu.
...
Sudah jam sepuluh dan dia belum sarapan. Dengan rambut yang diikat asal-asalan ke atas Amaya keluar dari kamarnya lalu memutuskan ke bawah. Dia jarang bertemu Raven kecuali malam sepulang laki-laki itu kerja, mereka akan mengobrol sebentar di depan TV.
Seorang wanita dengan rambut sebahu terlihat sedang sibuk di dapurnya membuat jus jeruk. Wanita itu terlihat lebih muda darinya.
"Oh, hai! kau pasti Amaya, aku Renata pacar Raven," katanya riang seraya menyodorkan tangan mengajak bersalaman.
Amaya hanya mengangguk singkat sambil menjabat uluran tangan Renata.
"Dimana Raven?" tanyanya sambil mengambil air dingin dari kulkas.
"Dia ke bengkel Dira, servis mobil katanya. Kau mau martabak, aku membawa dari rumah tadi."
Amaya mengambil sepotong martabak daging itu dan duduk di kursi makan.
"Kau ada acara keluar malam ini?”
Renata ikut bergabung di kursi depannya. Renata adalah gambaran terbalik darinya, dia ramah, ceria dan ekspresif, serta suka bicara, sangat kontras dengannya.
"Tidak juga."
"Oh kalau begitu ikut saja dengan kami, nanti mau makan malam di luar dengan yang lain juga."
Sebenarnya dia bosan juga di rumah, tapi pergi dengan Raven dan Renata serta teman-temannya yang tidak dikenalnya bukan pilihan bagus. Oh baiklah dia memang tidak memiliki seseorang yang dikenalnya lagi sejak lebih dari tujuh tahun tidak di Bandung.
"Bagaimana?"
"Tidak tahu."
"Ayolah mereka menyenangkan kok,” Renata masih membujuknya.
Wanita di depannya ini cantik, dengan senyum yang manis dan sikap ramahnya mudah untuk orang menyukainya.
…
Di sinilah Amaya sekarang, duduk bersama Raven, Renata dan tiga orang teman lainnya di kafe bergaya minimalis ini. Sebagian besar kafe disekat dengan kayu, lantainya pun juga dari kayu. Warna cat yang di d******i warna putih, serta campuran abu-abu dan hitam dan figura-figura dengan sketsa-sketsa naturalis tergantung di dinding-dindingnya.
Jika di lantai satu tadi kursi-kursi ditata mengelilingi meja persegi, di sini kursi ditata mengikuti meja panjang dan terdapat sofa nyaman memanjang yang menempel di dinding-dinding. Lukisan-lukisan artistik juga dilukis langsung pada dinding yang bercat putih. Lampu di sini dinyalakan temaram mengikuti alunan musik yang diputar.
"May, kenalkan ini Denny dan Febi pemilik kafe ini yang sebentar lagi akan menikah.”
Suara Raven membuyarkannya dari lamunan Amaya tentang kekaguman interior kafe.
Sepasang kekasih yang duduk di hadapannya tersenyum manis padanya.
"Kalau kau mengenalkannya dari dulu sepupumu ini, mungkin dia yang jadi tunanganku sekarang Rav.”
Candaan Denny itu langsung mendapat cubitan Febi yang duduk di sebelahnya.
"Hahaahahha, ingat undanganmu sudah disebar Den! Hai aku Dira”
Lelaki yang duduk disamping Denny mengulurkan tangan menyalaminya.
"Ingat wanita yang dijodohkan denganmu itu Dir, kau akan dikutuk jadi batu kalau tidak menuruti orang tuamu!"
Denny tidak mau kalah meledek Dira.
"Siapa?"
"Arinda, kapan kalian menikah?" kali ini Renata yang bersuara.
"Ck, bocah itu! lagian aku orang Malang bukannya Sumatera, hanya orang Sumatera yang mengutuk anaknya jadi batu,” kilahnya.
"Kalau gitu kau akan dikutuk jadi pohon apel!" ledekan Raven sontak membuat semuanya tertawa.
Amaya hanya tersenyum melihat interaksi Raven dan teman-temannya ini.
"Dimana kamar mandinya?" tanya Amaya pelan.
"Sebagai nyonya rumah yang baik, ayo kuantar,” Febi berdiri dari kursinya.
Begitu mereka melewati lorong kecil dengan lampu-lampu indah, kamar mandinya sudah terlihat dipojok kanan untuk wanita dan kiri untuk pria.
"Lantai atas apa?” tanyanya begitu melihat tangga disamping kamar mandi.
Febi mengikuti arah pandangan Amaya, "Ohh itu, bar"
Amaya menatap Febi, menunggu jawaban lebih lanjut darinya.
"Kau tahu, minuman alkohol, rokok, billiard, seperti itulah. Tapi no sexs no drugs. Awalnya aku tidak setuju ada lantai itu, tapi daripada lari ke tempat lain yang lebih parah, ya sudah. Lagian tidak seperti bar umumnya, kalau kata Denny, di lantai itu tempat laki-laki ya walaupun banyak juga wanitanya,” Febi menjelaskannya sambil menyender di wastafel.
Amaya mendengarkan ucapan Febi dari dalam bilik kamar mandi, tidak tahu harus komentar apa.
"Kapan-kapan kita ke atas, kadang kita suka ngumpul di atas,” ajaknya seolah-olah mengajak Amaya pergi ke mall.
Ajakan Febi mendapat tatapan horor Amaya. Lama di luar negeri Amaya tidak begitu suka tempat seperti itu, yah walaupun beberapa kali dia ke bar. Dan sesekali dia mencicipi minuman beralkohol, tapi jelas itu bukan minuman favoritnya. Bahkan setelah minum keesokannya dia akan memuntahkan segala yang ada di perutnya.
"Tidak seburuk yang kau bayangkan, sudah kubilang tidak ada wanita telanjang dan n*****a di sana. Hanya orang minum, merokok, atau main billiard, lagian yang penting kan kita tidak minum,” jelas Febi.
Amaya berjalan di samping Febi kembali ke meja.
"Mereka sering ke sana?” Amaya tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Siapa? ohh tidak juga, hanya kadang kalau sedang pusing, laki-laki kan begitu”
Febi mengatakan kata pusing dengan tangan membentuk tanda kutip.
"Kafemu bagus,” Amaya mencoba topik baru.
"Ya, banyak yang bilang begitu, thanks to Aryan yang sudah mendesainnya."
What?!!
Perkataan Febi barusan membuat Amaya sedikit terkejut. Tapi obrolan mereka terhenti saat sudah sampai di meja.
Dan di sana, di samping tempat duduknya. Orang yang baru mereka bicarakan sedang mengobrol dengan yang lain. Amaya sedikit tidak nyaman ketika kembali duduk dan bersebelahan dengan Aryan. Tapi laki-laki itu sepertinya cuek saja. Mereka masih mengobrol tentang undang-undang yang baru dikeluarkan pemerintah tentang pembangunan gedung dengan ramah lingkungan, salah satu program pemerintah untuk meminimalisir global warming.
Amaya memilih mulai makan makanan yang sudah datang. Mereka tadi memang memesan makanan favorit di sini. Dan Amaya mendapat bakso hot plate yang kini menggoda lidahnya. Dia memulai makannya sesekali menanggapi percakapan mereka singkat. Ketika semuanya sibuk makan, Amaya berhenti mengunyah bakso pertama yang masuk ke mulutnya. Lidahnya langsung mengenali kalau itu udang. Udang adalah salah satu makanan yang dihindarinya. Segera dia minum lemon tea banyak-banyak, karena tidak mungkin dia memuntahkannya di depan pemilik kafe itu langsung.
Raven terlihat menikmati beef steak-nya. Menjadikan Amaya mundur untuk meminta tukar makanan, sedang minta gantipun dia tidak enak. Alhasil dia hanya mengaduk makanannya dan makan mashed potato saja dengan kunyahan pelan.
"Kenapa tidak dimakan?"
Amaya sontak menoleh ke suara dari samping kirinya. Dia tadi lupa kalau ada orang ini.
"Hmm, isinya udang. Aku tidak suka," katanya pelan sambil pandangannya tetap ke makanan di depannya.
"Mau tukar denganku? ini isi daging ayam."
Amaya menoleh ke Aryan yang sedang menggeser plate dengan milik lelaki itu tanpa menunggu jawabannya.
"Makanlah, itu baru kumakan sedikit," katanya lalu mulai makan bakso udang milik Amaya.
Amaya melihat yang lainnya masih sibuk makan dan sesekali mengobrol tidak memperhatikan meraka berdua. Lalu dia mulai memakan bakso di depannya setelah melihat Aryan dengan ragu.
***