Chapter 20

860 Words
Zio memperhatikan sekitarnya yang sangat asing menurutnya karena ini adalah yang pertama kalinya Zio berada di bandara Soekarno-Hatta. "Yang jemput siapa?" "Supir Papa aku, udah nunggu katanya." Nevan dan Zio mengantar Reya kembali ke Indonesia sekalian Nevan berkunjung ke ruang orang tuanya karena sudah cukup lama Nevan tidak kembali ke tanah kelahirannya. "Zio capek?" Reya berbungkuk membawa Zio ke gendongannya. Zio menggeleng, "ini dimana?" "Kita mau ketemu sama Oma Opa Zio." Jawab Reya. Mulut Zio terbuka lebar. "Benel?" "Bener dong." Kata Reya sambil mencium Zio. "Zio belum pernah ke Indonesia?" Tanya Reya pada Nevan. "Belum. Mama Papa aku yang selalu ke Singapura kalo mau jaga Zio." Jawab Nevan sibuk dengan ponselnya. Reya dan Zio masuk terlebih dahulu ke dalam mobil sedangkan Nevan masih menyusun koper mereka di bagasi bersama supir. Ketika di perjalanan Zio selalu stay berada di dekat jendela memperhatikan keadaan luar. Tidak jarang juga Zio selalu bertanya pada Reya tentang apa-apa aja yang ia tangkap melalui matanya. "Kita makan dulu ya." Reya mengangguk, "ya udah." ^•^ "Zio dari tadi ngeliatin apa sih?" Tanya Reya sambil tertawa karena mata Zio tidak henti-hentinya memperhatikan sekitarnya. Zio menggeleng menyadarkan tubuhnya pada tubuh Reya. "Kamu mau ke rumah aku nanti atau besok?" Tanya Nevan yang duduk di depan Reya. "Kamu kapan balik nya?" "Aku tiga hari di sini." "Kalo besok, gak papa kan?" Nevan mengangguk, "gak papa. Nanti malem aku bilang sama Mama Papa kalo aku udah lamar kamu." Nevan tersenyum. "Terserah." Balas Reya tersenyum sambil menatap Zio. "Permisi, apakah benar dengan bapak Nevan dan ibu Freya?" Nevan dan Reya sama-sama menoleh ke asal suara. Mata Nevan dan Reya terbelalak lebar. "Hei, broh." "Lah, Gik, Bar, Rang? Lu..." Reya tertawa melihat empat sekawan yang dulunya merupakan biang kerok sekolah bertemu dan saling berpelukan sambil memukul satu sama lain. Nevan berpindah duduk di sebelah Reya sedangkan Ogik, Akbar dan Rangga duduk sofa panjang yang Nevan duduki tadi. "Terharu gue gile," kata Ogik karena mereka dirinya dapat kembali bertemu dengan Nevan. Begitu juga dengan Akbar dan Rangga. "Kemana aja lu? Gila ya, kita bertiga sama-sama elu sendiri yang ngilang kek dedemit." Nevan tertawa mendengar ucapan Rangga. "Ya Lo liat lah gue pergi terus balik jadi apa." Nevan sengaja menyombongkan diri dengan menarik jas nya. "Buset, gaya lu." Ogik memperhatikan penampilan Nevan yang ia akui terlihat, berkelas. "Eh, ada Reya." Reya tersenyum diselingi tawa saat Akbar menyapanya lalu diikuti dengan Ogik dan Rangga. "Tapi, ini... Anak sapa?" Ogik menunjuk Zio yang sedari tadi hanya diam saja. "Menurut Lo?" Nevan menaikkan alisnya. Mata ketiga laki-laki tersebut terbelalak. "Lah, seriusan anak Lo berdua???" Tanya Ogik. "Kapan Lo nikah?" "Temen macem apa ini gak bilang-bilang kalo Lo udah nikah?!" Nevan dan Reya tertawa melihat reaksi Ogik, Akbar, dan Rangga. "Hai..." Ogik menyapa Zio sambil mencolek dagunya. Zio tersenyum. "Uluuuh," Ogik menjadi gemas pada Zio beralih menggelitiki dagu Zio. "Lo selama ini kemana aja?" Tanya Akbar. "Gue di negara tetangga, singa." Jawab Nevan sambil minum. "Gue abis dari singapur, kok gak ketemu Lo ya." Kata Rangga. "Lo pikir singapur kolam ikan gitu?" Sahut Akbar. "Geblek." Tandas Ogik. "What is your name?" "Gak usah lebay Gik, anak gue bisa Indonesia." "Oh, bilang dong." Kata Ogik seraya menarik baju lengan panjangnya sampai ke siku. "Nama kamu siapa?" Ogik menutup mulutnya yang terbuka siap untuk bertanya dan malah keduluan oleh Rangga. "Io," jawab Zio sambil memainkan jemari Reya. "Io?" Beo Ogik menatap Nevan. "Zio." Koreksi Nevan. Ketiga laki-laki itu mengangguk. Ogik menunjuk Nevan. "Orang ini bener Papah kamu?" Zio menatap Nevan kemudian mengangguk. "Kok anak Lo kayak ragu gitu ya jawabnya?" Tanya Rangga. "Ragu, karena dia ngomong sama makhluk aneh kayak Lo bertiga." Balas Nevan. "Terus ini Mama kamu?" Ogik menunjuk Reya. "Iya, Mami Io." "Oohh... Mami Papi." Ogik menatap Rangga dan Akbar secara bergantian. Rangga dan Akbar mengangguk-anggukkan kepala. "Btw, Lo bertiga tetep jadi perusuh?" Tanya Nevan dan langsung mendapat tatapan tajam dari teman-temannya. "Lo..." "Sori sih gue udah bukan perusuh lagi sekarang, pengusaha." "Sombong Lo anjir!" Kata Ogik. "Mulut Lo ya, Gik. Kuping anak gue terkontaminasi jadinya." Nevan menutup kuping Zio. Nevan menjauhkan tangannya ketika makanan mereka sudah datang. "Mbak, pesenan saya sama temen-temen saya bawa ke sini. Bil nya kasih ke mas ini, dia pengusaha banyak duit." Ucap Ogik menunjuk Nevan. Mbak-mbak yang membawa pesanan tadi tertawa mendengar ucapan Ogik. "Iya mas," katanya seraya pamit pergi. "Alah, Van. Mulut Lo juga lebih parah dulu." Sahut Rangga. "Dulu, sekarang enggak." "Emang iya mulut laki Lo udah tobat?" Akbar bertanya pada Reya. "Di depan aku baik-baik aja sih mulutnya, gak tau dibelakang." Ogik, Akbar dan Rangga tertawa mendengar jawaban Reya. "Berarti dibelakang Reya mulut Lo sama aja, kotor." Nevan memicingkan mata ke arah Akbar. Ogik menatap Zio merapatkan tubuhnya ke tepi meja. "Dulu juga Papi kamu sering ngomong jorok. Sering ngomong anjir." Ucap Ogik ketika Zio menatapnya. Tidak perduli di depan umum, Nevan langsung memukul kepala Ogik dengan tangannya sendiri. "Anjil?" "Eh!" Reya refleks menutup mulut Zio sedangkan Ogik, Akbar, dan Rangga sudah terbahak-bahak mendengar ucapan Zio barusan. "Gak boleh ngomong gitu lagi ya, jangan di dengerin orang-orang ini. Mereka gila." Nevan menunjuk ketiga temannya yang masih tertawa. "Aduduh, anak Lo berdua pinter bat. Terharu gue." Kata Ogik disela-sela tawanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD