Karena terbukti tak memiliki kualifikasi terhadap sihir, Aku terpaksa melarikan diri dari kerajaan agar tidak dihabisi.
Dengan menyamarkan diri menjadi rakyat jelata, aku berhasil melarikan diri hingga ke wilayah perbatasan kerajaan. Sayangnya ketika baru sampai ke perbatasan kerajaan, aku dipojokkan oleh kelima pangeran yang hendak mengincar nyawaku. Kemudian berakhir jatuh ke jurang setelah terkena panah beracun kakak kandungku sendiri.
'Bukankah seharusnya aku sudah tiada?'
'Element Kak Neil adalah racun, dan aku yakin betul bahwa efek racunnya cukup gila hingga mustahil untuk dinetralkan.'
'Bagaimana aku bisa hidup?'
Aku merasa bingung saat menyadari bahwa diriku masih bisa bernapas dengan normal.
Pandanganku masih kabur kala itu, begitupun indra pendengaranku.
"Gale!"
"Gale!" suara seorang gadis terdengar cukup samar di telingaku. Dia terus menyebut nama yang seharusnya tak dikenali kebanyakan orang.
Suara asing tersebut terus terngiang dan semakin jelas setiap detiknya, pertanda bahwa efek racun milik Kak Neil perlahan melemah.
'Apa ini masuk akal?'
'Seharusnya racun kak Neil tak bisa dinetralkan, terlebih siapa orang yang terus memanggil namaku?'
Pandanganku perlahan menjadi jelas setelah beberapa menit lamanya.
Rambutnya berwarna pirang, sementara matanya berwarna biru. Wajahnya nampak cantik, sedangkan caranya berpakaian terlihat seperti seorang kesatria.
Jirah perak menyelimuti tubuh gadis itu, dengan lambang phoenix berwarna emas.
'Orang kerajaan Altaria!'
Pikiran tersebut langsung terbesit saat melihat lambang phoenix emas.
"Bagaimana bisa, orang kerajaan Altaria sepertimu. Mengetahui nama panggilanku?"
Aku bertanya dengan spontan saat mendapat tenaga untuk mengeluarkan suara.
" Gale! Teganya kau!"
"Apa kau benar benar melupakan wajahku!"
"Ini aku, Grace!"
"Tiga tahun yang lalu, aku juga yang telah mencabut keluar panah di punggungmu!"
"Akulah yang menjadi penyelamat serta orang yang menjamin identitasmu saat masuk ke kerajaan Altaria!"
"Kita sudah menghabiskan waktu dua tahun lamanya, bagaimana bisa kau melupakan itu semua!"
Gadis itu nampak marah, kecewa sekaligus sedih secara bersamaan.
'Tiga tahun yang lalu?'
'Bukankah itu saat kak Luke dinyatakan tiada?'
Aku tersentak saat mendengar penjelasan Grace. Bagaimanapun juga, jika perkataannya memang benar, maka kak Neil tak benar benar menghabisi kak Luke kan?
Fakta bahwa aku masih hidup saja, sudah menjelaskan bahwa racun dipanahnya tidak benar benar selalu mematikan.
'Jadi kak Neil menyembunyikan fakta bahwa dia bisa mengontrol efek racun dari panah sihirnya?'
Aku tersenyum saat memikirkan hal tersebut.
"Ngomong ngomong bukankah kau bilang bahwa kita bertemu sejak tiga tahun yang lalu?"
"Lantas kenapa hanya dua tahun yang kita habiskan bersama?"
"Kemana perginya yang satu tahun?"
Gadis itu menghela napas untuk menstabilkan emosinya.
"Apa kau benar benar melupakan itu?"
"Setahun yang lalu, saat dunia iblis dan dunia ini terhubung kembali untuk ke sekian kalinya. Kau memaksa ikut dalam pertempuran melawan ras k**i itu kemudian berakhir terhisap oleh lubang hitam yang seharusnya mengenai diriku."
Mata Grace nampak sayu saat menceritakan kisah tersebut.
"Lubang hitam?"
"Apakah orang yang masuk ke dalam lubang tersebut bisa kembali dengan selamat?" tanyaku penasaran dengan penuh harap.
"Seharusnya itu mustahil, karena lubang itu terhubung dengan dimensi kegelapan yang dipenuhi oleh makhluk jahat seperti ras iblis."
"Untuk orang tanpa sihir sepertimu, kesempatan untuk kembali ke dunia bisa dibilang hampir mustahil!"
Habis sudah harapanku, saat mendengar penjelasan dari Grace. Tanganku bergetar dalam keadaan terkepal. Syok akan kehilangan saudara yang tergolong paling dekat dan ramah di masa lalu, kembali menghujani emosiku.
"Panah itu ... bukankah anak panah beracun milik pangeran Neil?"
"Bagaimana bisa itu ada di punggungmu, lagi?" tanya Grace dengan penasaran sembari melirik ke anak panah yang dibiarkan tergeletak di atas batu besar.
"Apa benar kau yang mencabutnya?"
tanyaku penasaran.
"Jangan khawatir, aku tak menyentuhnya kok!"
"Sesuai saranmu tiga tahun yang lalu!"
Grace tersenyum saat melihatku.
"Apa kau yang menetralkan racunnya?"
Pertanyaan ini kulontarkan untuk memastikan, seberapa lemah racun yang kak Neil tuangkan dalam anak panahnya.
"Mustahil!"
"Racun Pangeran Neil sangat mematikan!"
"Bagian batu yang tersentuh anak panah itu saja nampak menghitam!"
Grace menunjuk jelas ke anak panah yang dia maksud.
"Racunnya sama sekali tak dilemahkan!?"
"Kalau begitu, bagaimana aku bisa ... ,"
"Tubuhmu kebal terhadap segala jenis racun, apa kau juga lupa akan fakta ini, Gale?" potong Grace dengan tegas.
'Tubuh kami kebal racun?'
'Mungkinkah ini karena kami keturunan Ibu?'
'Jika memang begitu maka kebaikan kak Neil masih harus dipertanyakan. Itu tergantung dari sudut mana aku memikirkannya. Misalkan dia tahu tentang fakta bahwa tubuh kami kebal akan racun, maka ... bisa dipastikan dia tak ada niatan untuk membunuh kami. Dan jika sebaliknya, maka ... ,"
Aku mengerutkan dahi sembari menggertakkan gigi saat membayangkan kemungkinan yang terburuk.
"Gale?" Grace mencoba mendapatkan perhatianku saat melihatku sibuk akan duniaku sendiri.
"Aku bukan Gale yang kau pikirkan."
"Wajahku mungkin mirip, tapi tinggi dan bentuk tubuh kami tidaklah sama."
Tubuh kak Luke cukup kekar dan berisi, tingginya pun hampir melebihi tinggi kak Neil. Jika Grace berpikir rasional, seharusnya dia bisa menyadari itu.
" ... "
"Jika kau bukan Gale, lantas siapa kau?" Grace mengepal erat kedua tangannya, dengan wajah yang cukup kecewa.
"Gale!" jawabku dengan serius.
"Apa kau sedang bermain kata denganku!?"
"Bukankah tadi kau bilang bahwa kau bukan Gale!" Grace mencengkram kerahku dengan perilaku yang cukup kasar.
"Aku bilang bahwa aku bukan Gale yang kau pikirkan!"
"Dia adalah kakakku dan nama aslinya ialah Luke!" Aku menjawab dengan penuh keringat dingin. Tekanan yang dikeluarkan gadis di hadapanku benar benar mengerikan, dari caranya menekanku nampak jelas bahwa Grace bukanlah kesatria sembarangan.
'Dia pasti seorang penyihir Cirle 4!'
"Jadi selama ini, dia berbohong akan nama aslinya begitu?"
"Kau pikir aku percaya?" tanya Grace dengan aura mendominasi.
"Pe ... percaya atau tidak, bisakah kau singkirkan tekananmu?"
"Aku hanyalah orang tanpa kualifikasi sihir. Jika kau terus menekanku, aku bisa bisa ... !"
Blurghh!! Aku memuntahkan darah yang cukup banyak hingga membasahi pakaianku.
"Cih!" Grace mendecih kesal, sembari menurunkan tekanannya. Tak lama setelah itu, dia menggendong paksa diriku ke atas pundak kirinya dalam posisi perut yamg terbalik.
"Ke ... kemana kau ingin membawaku pergi!?"
"Jangan banyak tanya dan melawan kehendakku!"
"Gale, maksudku Luke memiliki banyak musuh di sini karena terlalu dekat denganku dan sering mengalahkan penyihir hanya dengan memanfaatkan fisiknya!" Grace perlahan melangkah pergi sambil menggendongku.
'Anak panahnya!' Aku terkejut saat melihat anak panah kak Neil perlahan lenyap di atas bebatuan sungai. Wujudnya nampak menguap ke udara kemudian lenyap tak bersisa.
'Jadi anak panahnya tak bertahan selamanya?'
"Grace!"
"Berapa lama aku tak sadarkan diri?"
Aku bertanya dengan nada serius.
"Aku tiga tahun lebih tua darimu, panggil aku Nona atau kakak saat tak ada orang lain mengerti!"
Grace mengancam dengan penuh emosi.
"Ah ... ba ... baik Nona!"
Aku terdiam sejenak karena takut akan amarahnya.
"Dua hari ... , kau tak sadarkan diri selama itu. Itupun terhitung sejak aku menarikmu keluar dari dalam sungai!"
'Bukankah itu berarti bahwa anak panahnya bisa bertahan lebih dari dua hari!?'
'Apa apaan kemampuan curang itu!'
'Panah sihir kak Neil benar benar mengerikan!?'