8

1185 Words
“Saya kan sudah bilang, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun dalam artikel ini.” Nayla dan Miranda. Kedua wanita itu hanya bisa membatu di depan Toni. Tampaknya dewa kesialan tengah berbaik hati menyempatkan diri untuk membagi sedikit keapesan untuk Nayla dan Miranda. Jadilah, mereka berdua duduk bak anak SD yang ketahuan mencuri mangga tetangga. Ruang kerja Toni lebih cocok disebut sebagi tempat eksekusi. Nayla bisa membayangkan seragam Nazi beserta cemeti yang cocok dikenakan Toni saat ini juga. Lupakan mengenai adegan e****s, hasrat Nayla terbang saat Toni melontarkan rentetan omelan yang rasanya lebih pedih dari bawang merah. “Pak,” ujar Miranda. “Saya sudah mengajukannya ke Edi dan dia pun sudah mengoreksi tulisan saya.” “Lantas kamu merasa masa bodoh dengan hasil akhirnya?” serang Toni. Miranda diam, tidak membalas. “Kalian berdua sudah bosan kerja? Oke, silakan ketik surat pengunduran diri dan saya tidak perlu repot mengecek artikel dan laporan yang tidak kompeten.” Laporan nggak kompeten, gundulmu, cela Nayla dalam hati. “Berapa tahun kalian menulis?” tanya Toni, geram. “Setahun? Dua tahun? Apa embel-embel di belakang nama kalian itu cuma untuk sekedar pemanis? Saya sudah tekankan berkali-kali. Cek. Teliti. Perhatikan kepaduan dalam menulis. Saya tidak suka tulisan yang terkesan subjektif. Tidak semua pembaca tertarik dengan opini kalian. Apalagi reader di media net juga lebih kritis. Mereka bisa memilah mana yang opini dan mana yang fakta.” Oke, Nayla mulai mempertimbangkan minum Panadol dan Fanta.  Revisi, Nayla belum menemukan jodoh, mati muda bukanlah jawaban dari masalah. Toni mengetuk permukaan meja, kedua matanya menyisir Nayla dan Miranda. “Saya mengharapkan sesuatu yang baru. Kalian berdua dibayar bukan untuk menyebarkan gosip. Kalau kalian tidak suka dengan cara saya, silakan tinggalkan Intermezzo.” Sidang ditutup. Miranda dan Nayla mulai mempertimbangkan menelepon pembunuh bayaran. *** “Nay, kamu lagi ngapain?” Selepas jam penghakiman yang menyiksa, Nayla dan Miranda langsung kabur ke kafe. Mereka beralasan melakukan riset untuk artikel produk diet. Tentu saja Rei seorang yang tak percaya dengan kedua wanita itu. Namun masa bodoh, selagi izin diberikan, Nayla dan Miranda bebas untuk melakukan refresing.  “Mencari pembunuh bayaran yang bisa dihubungi,” jawab Nayla, santai. “Gila, kamu bisa masuk neraka.” “Nggak apa-apa. Toh, dosaku yang kemarin juga masih banyak. Nambah satu tidak akan berdampak apa pun.” Pelayan mengantarkan pesanan Nayla dan Miranda. Mereka berdua langsung melahap spageti yang terhidang di atas meja.  “Sumpah,” kata Nayla di sela-sela mengunyah. “Tuh orang makan apa sih? Asem banget. Dikiranya kita cuma mikirin artikel apa? Nggak tahu tuh orang kalau aku juga sibuk lari kanan kiri ngejar narasumber yang pahitnya juga nggak ketolongan. Tahu nggak, Nda, kemarin aku nungguin penyanyi dangdut yang terkenal lewat lagu ‘Diguyur Asik’ ampe enam jam. Enam jam? Dan tuh orang ngeselin banget.” Nayla mulai menirukan oknum yang dimaksud. “Mbak, siapa ya? Udah ada janji sama Eneng? k*****t banget. Pengin nguyur bawaannya. Aku nggak dianggap, Nda.” “Kamu digituin?” Nayla mengangguk. “Dan itu gara-gara si Toni. Harusnya itu bagiannya Rei, namun entah mengapa Toni langsung mencetuskan namaku. Oh, indahnya hidup ini. Cabai, mana cabai?” “Nay, kita perlu pergi ke Lawu.” “Mengheningkan diri gitu?” Miranda mengambil es lemon dan meneguknya. “Buang sial. Kayaknya setannya Mia nemplok ke kita deh.” “Amit-amit,” ucap Nayla sembari mengetuk meja. “Males amat ditempelin lelembut. Enakan juga ditempelin cowok seksi yang berotot dan uwwww bawaannya aku pengin nyakar deh.” “Cakar si Toni. Aku dukung.” “Dukung embahmu!” sembur Nayla. “Yang ada aku yang dicakar.” “Bagus dong. Tinggal pilih mau main model apa. Jenderal dan anak buahnya. Guru dan murid. Atau….” “Atau aku jedotin kepalamu, Nda. Itu baru benar.” Bukannya marah, Miranda justru tertawa mendengar omelan Nayla. “Mau dong dijedotin ke hati kamu.” “Nda, sadar, Nda. Kita harusnya berdiri di pihak yang sama.” “Nay, aku Cuma kepikiran sesuatu.” Satu alis Nayla terangkat. “Mikirin pacar-pacarmu yang seksi itu.” Mengibaskan tangan, Miranda berkata, “Kenapa Toni senang banget nyuruh-nyuruh kamu? Padahal ada banyak loh yang bisa disuruh. Rei, misalnya. Tapi, kenapa cuma kamu doing yang kebagian apes. Pikirkan, Nay. Pikirkan. Everything is possible in love relationship.” Pucat, Nayla segera mendebat, “Nda, mana bisa kamu nyimpulin kaya gitu. Dilihat dari mana pun hubungan kami jelas sebatas atasan dan bawahan. Master dan budaknya. Astaga, kalau aku benturin kepalamu, boleh, nggak?” Miranda bersidekap. “Nay, cinta itu wujudnya macam-macam. Ada yang semulus p****t Luke Evans, ada yang segersang kulit badak.” “Itu perumpamaan nggak ada yang lebih bagus, Nda?” Mengabaikan cemoohan Nayla, Miranda meneruskan, “Toni kemungkinan punya rasa sama kamu. Hanya saja ia terlalu … kaku.” “Nda, kamu niat numbalin aku?” “Maksudku, kamu coba deh cairin sikap Toni. Siapa tahu dia berubah.” “Nggak,” tolak Nayla. “Se-jones-jones-nya diriku, aku masih punya harga diri, Nda.” “Nay, Toni mungkin termasuk golongan pria yang panas saat di ranjang.” “Gundulmu!” seru Nayla. “Aku maunya dengan pria yang baik hati, Nda. Minimal seperti personel 2PM.” Miranda meletakkan kedua tangannya di bahu Nayla. “Percaya sama aku, mereka nggak ada yang doyan denganmu.” “Iblis!” *** Sepulang dari kantor Nayla menyempatkan diri untuk berbelanja ke supermarket. Ia langsung menyasar ke bagian rumah tangga. Deterjen, odol, sabun, pewangi; Nayla memasukkan barang-barang tersebut ke dalam troli. Saking terlalu bersemangatnya, Nayla sampai tak sadar bahwa trolinya menubruk seseorang.  “Maaf,” ucap Nayla. Begitu melihat sosok yang ditubruk, Nayla langsung membeku. “Nayla,” kata Toni, tajam. “Kamu benar-benar ceroboh.” Jika ada lubang menganga di sana, Nayla rela masuk dan menghilang dari pandangan Toni. “Maaf, Pak. Nggak sengaja.” Toni melirik belanjaan Nayla, tampak kerutan di dahinya. “Kamu mau pindahan?” “Enggak, Pak.” “Terus kenapa belanja sebanyak itu?” Heran. Suka-suka Nayla dong. Jika ia ingin memborong seluruh barang yang ada di toko pun tak masalah selama Nayla mampu membayarnya. Menahan emosi, dengan kesabaran yang menandingi guru-guru TK, Nayla pun menjelaskan, “Untuk persediaan di rumah, Pak. Malas kalau harus bolak-balik macam setrikaan. Hehehehe.” Tentu saja nada tawa yang terdengar lebih mirip seperti tawa setan Sadako.  Di luar dugaan, Toni mengambil alih troli Nayla.  “Eh, Pak, saya—” “Biar saya yang tolong kamu,” potong Toni. “Kamu butuh apa lagi?” Untuk beberapa saat mulut Nayla menganga membentuk huruf O secara sempurna.  “Kamu butuh apa lagi?” Mengerjapkan mata, Nayla pun menjawab, “Teh, kopi, gula, terigu, minyak.” “Kamu mau jualan?” “Niatnya, Pak, kalau dipecat.” Menyadari perengutan Toni, segera Nayla menambahkan, “Bercanda, Pak. Haha ha ha ha.” Sungguh, tertawa yang dipaksakan itu teramat menyiksa secara lahir dan batin. *** Nayla mengemudi dengan bermacam pertanyaan. Apakah ia tengah diuji? Apakah dewi kesialan mulai ganjen dan ingin menyiksa Nayla? Atau ada setan yang ingin menggoda Nayla? Begini. Begitu. Dan tak satu pun logika bisa dijabarkan. “Tuhan, jauhkan aku dari godaan iblis terkutuk.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD