Minggu ini Nayla, Miranda, dan Mia memutuskan untuk melakukan ritual kumpul bersama di sebuah kafe. Satu meja yang terletak di pojok ruangan kini telah dihuni oleh ketiga wanita. Sesekali tawa menggema saat Miranda menceritakan kesialan Nayla sepeninggal Mia dari Intermezzo. “Bayangkan,” lanjut Miranda mengabaikan perengutan Nayla. “Toni makin anker. Artikel nggak sesuai, revisi. Tulisan nggak rapi, edit. Telat ngumpulin laporan, langsung dirajam. Heran, manusia satu itu apa nggak bisa bersikap sedikit lembut terhadap bawahannya.”
“Ya kali, Nda,” celetuk Nayla. “Kamu enak, tinggal lempar tugas. Sementara aku? Si Rei sama sekali nggak bisa diharapkan sebagai hero of justice.”
Mia menganguk, paham.
“Syukurlah, aku tak perlu merasakan derita itu.”
“Mia, minta ditabok, ya?”
“Nay,” kata Mia sok imut. “Makanya cari suami.”
Nayla mengaduk teh lemonnya sebelum menyesap beberapa teguk. Cairan hangat itu membuat pikiran Nayla menjadi rileks. “Nyarinya gampang,” katanya. “Nangkepnya susah.”
“Ya kamunya aja yang g****k. Aku tawarin Marco, kamu malah bilang tuh cowok kelewat tinggi.”
“Nda, aku sadar diri. Tuh cowok cuma ngiler sama kamu. Maaf saja, ya, aku nggak mau di-PHP.”
Mia meletakkan sendok di samping cangkir teh. “Kok kamu tahu?”
“Dulu,” jawab Nayla, “Miranda ngajakin ketemuan dengan someone yang katanya sesuai dengan kriteriaku. Ganteng, jangan ditanya. Seksi, astaga, aku menahan diri agar nggak nyakar macam trio beruang. Kaya, mungkin saja. Tapi….” Nayla sengaja menggantung kalimatnya, menunggu Mia bertanya, “Apa?”
“Sepanjang pertemuan tuh cowok asemnya nggak ketulongan,” ungkap Nayla. “Yang dilihatin cuma Miranda mulu. Udah deh, dari situ aku nyimpulin lo Miranda sengaja mengikutsertakan diriku agar tidak diterkam si Marco. Omong-omong, Marco ternyata teman sekelas Miranda waktu SMA.”
“Pffft,” sembur Mia. “Nda, kejam nian dirimu.”
Miranda hanya memain-mainkan garpu, sama sekali tak berniat menyantap kue pesanannya. “Oke, aku salah. Nda, aku nggak mungkin ngajakin Mia, yang ada Rafael bakal langsung nyewa pembunuh bayaran.”
“Nda, aku tersiksa lahir batin.”
“Toh, nggak sekali kamu dianiaya.”
“Idem,” sahut Mia. “Sekali dua kali, nggak ada bedanya.”
Andai melempar cangkir dan piring ke sahabat itu dibenarkan, maka Nayla akan dengan senang hati memecahkan belasan piring sembari berteriak, “Ampas kalian! Jadi sahabat nggak ada baiknya, busuk!” Namun, sebab Nayla berjiwa patriot dan tidak sombong, maka ia pun berkata, “Eh, kemarin aku pergi ke bakery.”
“Terus?” kata Miranda.
“Nama bakery-nya aneh. Antoni Bakery. Nah, aneh nggak tuh?”
Mia mengambil tisu dan membersihkan bibirnya. “Nggak deh. Toh, nama semacam itu umum kok. Mungkin saja itu nama suami atau anak si pemilik bakery.”
“Ah,” cetus Miranda. “I see, kamu mikir itu toko kue punya si sadis Toni, kan? Am I right?”
Bukannya kesal dengan komentar Miranda, Nayla tampak pucat dan bertanya, “Yang benar?”
Miranda mengedikkan bahu. “May be yes, may be no. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Seperti, mungkin saja suatu saat kamu berakir di altar cinta bersama Toni. Puji Ares, kita bebas dari siksa neraka.”
Mia menepuk jidat, pasrah.
***
Sepulang dari kafe, Nayla memutuskan untuk mampir ke swalayan. Segera sabun, pasta gigi, dan sejumlah barang kebersihan menjadi buruan utama Nayla. Beruntung tak terlalu ada antrean di kasir sehingga Nayla bisa pulang tepat waktu di rumah sebelum matahari terbenam di ufuk sana. Suasana yang sama, keheningan yang tak asing, dan kekosongan langsung menyapa Nayla. Mungkin benar apa yang dikatakan Miranda bahwa ia harus segera resign dari status jomblo. Huh, memangnya gampang mencari pendamping yang tak hanya mementingkan tampang namun juga kualitas lainnya? Nayla sudah biasa diabaikan sejumlah cowok semasa dia SMP dan SMA. Biasanya cowowk-cowok tersebut lebih memilih mengejar bintang kelas atau cewek yang paling cantik. Nayla? Dia tak ubahnya remah-remah roti di pinggir piring.
Nayla mengambil botol air dari kulkas dan dengan rakus ia meneguk cairan tersebut. Rasa dingin menuruni tenggorokkan dan membuat Nayla mendesah lega. Sayangnya ketenangan itu tak berlangsung lama saat ponsel Nayla kembali mendendangkan lagu Korea.
“Ya, Bu.”
***
Why think separately
of this life and the next
when one is born from the last
Toni merenungi bait puisi yang tertulis di pojok kanan blog. Sudah menjadi kebiasaan bagi Toni membaca sejumlah artikel yang ditulis bebas di laman internet. Ia hanya ingin membandingkan gaya bahasa bawahannya dengan gaya bahasa yang kini beredar di masyarakat. Tak dipungkiri bahwa selera konsumen pun bergantung pada pemilihan diksi dan kalimat penulis. Maka, jangan salahkan Toni jika ia menaruh harapan besar terhadap pekerjanya agar mengikuti perkembangan dunia kepenulisan.
Isu, gosip, gaya hidup. Tiga hal yang melekat pada diri seorang artis. Toni tidak berminat mengupas kehidupan artis yang demikian. Hal semacam itu sudah basi dan tak terlalu menarik untuk dibahas. Yah, terkadang Toni harus mengalah dan mengikuti kemauan konsumen untuk menampilkan rubrik sejumlah artis papan atas. Menyedihkannya kasus perselingkuhan lebih sering ditampilkan.
Toni menjauhkan diri dari layar monitor. Kedua matanya terasa panas dan ia membutuhkan handuk dingin untuk mengompres.
Lalu, bayangan Catur yang mengiba kembali muncul.
Tidak, Toni tak ingin mengingat hal-hal tersebut. Sudah cukup pria itu menghancurkan kehidupan Catur. Tak perlu lagi berbelas kasih.
“Ma, tolong lupakan Papa.”
“Tidak semudah itu,” jawab Catur. “Hati bukan mesin yang bisa dihidup dan matikan semudah itu. Bagi Mama, Papamu akan selalu menjadi orang terpenting di hati Mama.”
Lagi-lagi Catur menucapkan hal yang bodoh.
Jelas sudah bagi mereka berdua bahwa pria itu tak pantas dikenang. Tak peduli nasib buruk apa pun yang telah menimpa lelaki itu. Memaafkan selalu menjadi hal yang sulit untuk dilakukan.
Dan mungkin, masih butuh waktu bagi Toni untuk memahami arti dari mencintai tanpa batas.
***
Nayla menatap suram langit-langit dapur. Untuk sekian kalinya wanita itu meminta kejelasan status Nayla; apakah akan menampakkan tanda-tanda menuju pelaminan, atau sebaliknya? Dengan amat menyesal Nayla pun berkata bahwa ia belum menemukan pria yang cocok.
“Temui aja bude kamu, ia punya banyak kenalan.”
Tentu saja, Nayla menolak ide tersebut. Sayang ia melupakan satu hal: menentang kehendak ibu adalah petaka. Jadilah, selama tiga puluh menit Nayla mendapatkan wejangan kehidupan yang dahsyatnya melebihi Guntur Dewa Zeus.
Nayla menangkup wajah dan mendudukkan diri ke kursi. Demi Artemis, tak bisakah Nayla hidup bebas tanpa tuntutan pernikahan. Toh, kalau ia menemukan pria baik yang ingin membina suatu hubungan dengannya, Nayla akan dengan senang hati mengamini ajakan tersebut.
Realitas, pria yang selama ini ada di sekitar Nayla bisa dihitung dengan jari. Rei, sudah beristri dan Nayla juga tak tertarik dengannya. Rafael, oh si seksi itu memilih Mia, pupus sudah harapan Nayla. Edi, dia terlalu sibuk dengan koreksi dan editan, mana ada waktu untuk berkencan. Toni?
Astaga, itu tidak boleh terjadi. Apa kata dunia bila Nayla bersanding dengan Toni?
“Nay, apa kubilang. Kalian cocok.”
Tidak boleh. Nayla tak akan membiarkan Miranda berceloteh riang dan berpesta di atas deritanya.
Segera Nayla mengambil ponsel dan mencari biro jodoh online.
Itu pun kalau ada.