Jam sudah menunjukkan pukul 17:45 dan Lalitta sudah siap. Ia berharap semuanya akan berjalan baik-baik saja. Ketika sedang sibuk memeriksa make up, tiba-tiba ia tersentak. Lalitta sendiri bingung kenapa tiba-tiba dadanya berdetak begitu cepat.
Nervous? Nggak mungkin! Lalitta dan Tama kan sudah
pacaran satu tahun? Tapi kok rasanya berdetak semakin cepat, ya? Aneh pikirnya
“Nggak! Semuanya bakal baik-baik aja," ucapnya pada diri sendiri. Lalitta berusaha untuk tidak memikirkan apa pun, terlebih hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.
“Tama bakal baik-baik aja dan malam ini akan jadi malam yang spesial buat kita." Lalitta membisikkan kata-kata tersebut pada dirinya sendiri dan mencoba untuk tetap berpikiran positif.
Tuhan memang baik padanya. Tama tiba pukul enam kurang lima menit tanpa kurang suatu apa pun. Bahkan dia selalu terlihat sempurna di mataku. Sampai saat ini, Lalitta masih sulit percaya bahwa laki-laki yang berdiri di depannya adalah pacarku. Benar-benar pacarnya. Waktu kecil, Lalitta kira prince charming hanya ada dalam cerita dongeng saja. Tapi sejak bertemu Tama, ia mulai percaya bahwa prince charming itu memang nyata. Setidaknya, nyata untukku.
Tama memang beruntung. Dia mewarisi mata biru, hidung mancung, rambut kecokelatan dan kulit putih dari ayahnya yang asli Irlandia. Penampilannya kali ini sukses membuat Lalitta ternganga. Tama yang biasanya hanya mengenakan kaos oblong serta celana jeans belel kebangsaannya saja sudah bisa
membuatnya terpana dan tak berkedip. Dan dia sekarang terlihat begitu tampan dalam balutan jas semi kasualnya.
“Litta!” panggilnya, membuat Lalitta tersadar bahwa
ia baru saja terjungkal ke dalam sumur sedalam seratus meter karena pesona Tama. Begitu tersadar, wajahnya langsung memerah. Dia pasti terlihat sangat konyol sekarang. Beruntung, air liurnya ngga turun saking takjubnya. Lalitta segera geleng-geleng kepala dan memandang diriku sendiri. Ironis, memang.
Biasanya, di saat-saat seperti ini, cowolah yang
bilang pada pacarnya cantik. Tapi bersamanya, dunia Lalitta terasa jungkir balik. Kadang ia merasa minder dengan ketampanannya dan Lalitta merasa seperti Upik Abu di sampingnya. Tapi itulah yang justru membuatnya semakin terpikat pada Tama. Dia selalu berhasil membuatnya merasa cantik dan pantas
berdampingan dengannya.
"Kok malah diem?" tanya Tama semakin bingung ketika Lalitta tak kunjungan menjawab. Otaknya tiba-tiba macet.
Melihat keterdiaman Litta, Tama justru memberikan shook therapy lain. Diulurkannya sebuah bucket mawar merah sedari tadi disembunyikannya di belakang punggungnya sambil mengecup lembut keningku.
"Happy anniversary, Honey!"ucapnya kemudian
Sontak pipi Lalitta bersemu. Dia ngga bisa bilang
apa-apa karena selain otak dan lidahnya ikut macet. Lalitta merasa benar-benar tersihir oleh Tama
sore ini. Lalitta hanya bisa tersenyum sambil menerima mawar itu.
Untuk menyembunyikan kegugupanku yang mendadak terlihat begitu nyata, Lalitta segera beralasan untuk ke dalam rumah dan memanggil sang Mama agar mereka bisa berpamitan. Setelah berpamitan dengan sang Mama, Lalitta dan Tama segera beranjak menuju resto bergaya Eropa yang sudah dia reserve sebelumnya.
“Kamu cantik banget hari ini." Tama memulai pembicaraan. Mata Tama menatapnya terpesona. Ini yang Lalitta bilang tadi, Tama selalu berhasil membuatnya nyaman.