Persiapan Dinner

613 Words
"Oke kalau gitu. Nanti aku jemput jam enam, ya?" ujar Tama. . “Oke," jawab Litta. Sambungan terputus. "Oh, kamu udah ada janji sama Tama, ya? Hiks... Terus aku gimana?" Tia yang sedari tadi menguping pembicaraan temannya langsung pura-pura menangis untuk menarik simpati. Litta tahu betul triknya. "Maaf ya Tia, tapi aku udah janji sama Tama dari jauh-jauh hari." “Kok tumben jalan-jalan? Kan besok hari sekolah malem-malem lagi, perginya." Kening Tia berkerut. Itu tandanya dia sedang berpikir. Baguslah... Semoga dia tahu sendiri jawabannya. Jadi Litta hanya menjawab pertanyaannya dengan sebuah senyum yang sangat manis. Sesampainya di rumah, LLalitta langsung memilih baju yang akan dipakai untuk acara nanti malam. Sebenarnya sih ia aga kurang setuju dengan usul Tama yang ingin mengajaknya dinner di sebuah resto. Menurutnya, itu aga berlebihan. Lalitta lebih memilih untuk dinner di kafe yang sudah sering mereka kunjungi. Selain sudah familiar dengan suasana dan makanannya, ia juga ngga perlu sibuk-sibuk mencari dress yang akan dipakai. “Huff....” Litta pusing sendiri mencari dress yang cocok karena tidak hobi pakai dress. Kondangan saja dia malas, apalagi kalau harus mengenakan dress untuk acara semacam ini. Yah, tapi mau gimana lagi? Tama ngotot banget supaya kita makan malam di tempat yang spesial. Dia bilang, momen seperti ini patut dirayakan dengan lebih romantis. Okay, akhirnya Litta setuju dengan poin itu. Siapa sih yang nggak senang punya pacar ganteng, baik hati, tajir, perhatian, romantis pula?! What a perfect boyfriend, isn't he? Well, Litta harus lebih banyak bersyukur pada Tuhan. Tapi bagaimanapun, usianya sudah jauh lebih tua dibandingkan Litta. Jadi, Lalitta pikir dia akan menyikapi hal ini dengan lebih normal. Saat ini, Tama tercatat sebagai seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran di sebuah universitas negeri ternama. Dia baru saja menyelesaikan pendidikannya di universitas tersebut. Akhir-akhir ini dia sedang giat-giatnya menimbang tempat atau daerah mana yang akan dituju untuk koasnya kelak. Kemungkinan Lalitta bakal LDR. Masalahnya adalah, Tama lebih tua lima tahun dibanding Litta dan Lalitta berharap dia sudah terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Tapi nyatanya, permintaannya ngga kalah norak dibanding anak SMP. Kembali ke masalah dress. Akhirnya Lalitta akan pakai dress yang simple saja. Dia kembali memfokuskan pikirannya pada dress. Cukup dress berwarna hitam, warna favoritnya, sebatas lutut dengan potongan yang cukup simple, dipadu dengan high heels hitam juga. Perfect! Setidaknya sempurna dalam standarku, yang mana tingkatnya sangatlah minimal. Lalitta akhirnya melihat jam dinding dan ternyata baru jam tiga. Sedangkan acaranya masih tiga jam lagi. Lalitta bisa santai-santai dulu dan mengeluarkan buku diary-nya. Memang terkesan kuno tapi ia tak peduli kalau teman-temannya mengejek karena kebiasaannya itu. Lalitta pernah membaca sebuah artikel kalau menulis sebenarnya punya banyak manfaat. Jika mau dibandingkan, ternyata manfaat menulis tidak kalah baiknya dengan olahraga semacam yoga. Seperti yoga, menulis juga dapat menyeimbangkan badan, pikiran, dan jiwa kita. Lalitta sendiri memang merasakan efeknya. Setiap kali ia merasakan emosi yang cukup kuat, ia membutuhkan sebuah media sebagai tempat untuk meluapkan emosinya. Dan media yang paling tepat adalah diary ini. Setiap kali Lalitta selesai menuliskan keluh-kesahnya ataupun hal lainnya, ia selalu merasa lebih tenang. Seperti biasa, Lalitta menulis harinya di sekolah. Tak lupa juga menuliskan cerita cintanya dan Tama yang saat ini sudah genap berusia satu tahun. Lalitta jadi berpikir bahwa apa yang tengah lakukan sekarang seperti orang tua yang tengah kegirangan karena bayi mereka sudah berumur satu tahun. Menggelikan memang tapi biar bagaimanapun, hal ini tetap terasa sangat manis untuknya. Bagaimana tidak? Tama adalah pacar pertamanya. Ya, cowok ganteng ini adalah orang pertama yang mengisi hari-harinya dengan cinta. Betapa bahagianya ia, karena hubungannya bisa bertahan sampai di usia satu tahun. Usia yang memang tidak bisa dibilang panjang. Tapi di sisi lain, pencapaian mereka berdua juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Bukan mau membanding-bandingkan kisahnya dengan teman-temannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD