Lagipula, sekali-dua kali ngerjain tugasnya sih ngga apa-apa. Litta ngerti banget kalo Tia memang lebih sering terlihat mirip setrikaan dibandingkan pelajar. Repot banget! Kadang sampe nggak tega lihat matanya yang berkantung dan jadi mirip mayat hidup yang nyasar ke sekolah tiap kali sedang sibuk mempersiapkan sebuah event. Tapi, biar bagaimanapun, kalo diminta ngerjain tugasnya tiap hari, bisa-bisa Litta jadi sama kusutnya kayak Tia. Tugasnya sendiri aja udah nyaingin tinggi Gunung Himalaya.
"Yah terus gimana, nih? Please, Ta... Cuma kamu yang bisa bantuin aku," ucapnya lagi sambil memamerkan muka memelas yang bisa dibilang sama memelasnya kayak anak-anak jalanan wkwkwk. Sebenarnya sih, Litta kasihan juga. Tapi Litta tahu, ini bukanlah sebuah tindakan yang bisa dibenarkan. Litta tidak mau membodohi temannya sendiri. Jika aku terus menerus membantunya, maka itu sama saja dengan membodohinya, kan?
Lagipula ada alasan lain mengapa Litta tidak bisa membantunya saat ini. Ini tanggal 10 Agustus yang artinya, hubungan Litta dan Tama tepat berjalan satu tahun. What a blessing day! Aku selalu bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Segalanya. Ya, bisa dibilang hampir segalanya. Selama ini, Litta selalu menjalani kehidupan dengan mulus.
Hari ini adalah hari anniversary Litta dan Tama, rencananya kami akan dinner di sebuah resto untuk merayakannya. Jadi, tidak mungkin kan Litta mengerjakan tugas-tugas Tia malam ini?
Tapi Litta juga tidak mau jika harus mengatakan hal yang sebenarnya pada Tia. Dari dulu Litta selalu berpikir bahwa urusan pacaran tidak perlu diumbar pada temen-temannya. Toh, mereka kan ngga perlu tahu kalau Litta sedang bertengkar dengan pacarnya. Mereka juga ngga perlu tahu acara malam minggunya bersama doi. Lagipula Litta yakin, ngga semua orang kepo ama hidup kita. Apalagi kalo temen kita itu masih jomblo. Mana enak cerita hal-hal seperti itu sama mereka? Ntar malah disangka pamer, lagi. Ngga keren banget kalau Litta harus bilang kalau malam ini ia dan Tama akan dinner untuk merayakan hari jadi mereka. Litta berharap Tia tahu sendiri kalo hari ini jadwalnya udah ngga bisa diganggu gugat lagi.
"Aku ngga bisa, Tia," jawabku akhirnya.
"Sorry, aku juga lagi banyak tugas. Emang kapan dikumpulnya?"
"Besok!" jawab Tia dengan nada tujuh oktaf.
“Dan kamu tahu kan, kalo Pak Doni tuh galaknya ngalahin singa sakit gigi?" lanjutnya sambil terkekeh.
Pak Doni memang terkenal menjadi salah satu guru yang sangat galak di sebelah. Saking galaknya, dengan sukses dia berhasil memperoleh berbagai macam gelar “kehormatan" dari murid-muridnya. Mulai dari gelar umum seperti, "Guru Killer," "Si Raja Tega, " "Macan Ngamuk," ampe yang aga bikin kuping panas seperti “Kembaran Si Kakek Cangkul."
Sebenarnya sih dia adalah guru Akuntansi, tapi karna guru Sosiologi sedang ada teachers' training di Kalimantan dan guru Sejarah sedang cuti hamil, Pak Doni selaku guru piket hari ini, menggantikan kedua guru tersebut untuk mengajar. Karena mood Pak Doni sedang luar biasa "baik” hari ini, beliau jadi sangat pemurah dalam hal memberikan tugas untuk murid-muridnya tersayang. Alhasil, Tia dan beberapa murid di kelas lain yang juga sama apesnya. Alhasil mendapatkan oleh-oleh berupa segunung pekerjaan rumah.
"Untung Pak Doni ngga ada jadwal masuk di kelasku," ujar Litta sambil menarik napas lega, yang diikuti oleh pandangan penuh iri hati dari Tia. Aku nyengir, berusaha mengabaikan muka cemberut Tia di sebelahnya. Tapi walaupun senyum indah sedang terpancar di wajah Litta, otaknya sibuk berpikir, bagaimana cara yang untuk menolak permintaan Tia kali ini.
Di saat Litta sudah mulai kehabisan ide untuk menolak permintaan Tia, dewa penolong tiba-tiba datang padanya. Tepat pada saat itu juga, ponsel Litta berbunyi.
"Tama!" pekik Litta.
"Nanti kita jadi dinner, kan?" Terdengar suara Tama di ujung telepon.
"Oh, nanti malam? Jadi, dong!" Aku sengaja mengatakannya sedikit keras agar Tia bisa mendengar bahwa aku sudah memiliki janji terlebih dahulu.